PRABA INSIGHT – KOREA UTARA – Kim Jong-un kembali bikin dunia garuk-garuk kepala. Kali ini bukan soal misil balistik atau parade militer, melainkan urusan geopolitik yang jauh dari Semenanjung Korea. Pemimpin tertinggi Korea Utara itu menyebut Israel bukan sebagai sebuah negara, melainkan proyek teror buatan Washington. Ya, versi Pyongyang: Israel adalah “produk impor” Amerika Serikat.
Pernyataan ini jelas bukan basa-basi diplomatik. Ini adalah cara Korea Utara mengulang kaset lama: anti-Amerika, anti-imperialisme, dan anti segala sesuatu yang beraroma Barat. Bedanya, kali ini Kim Jong-un ikut nimbrung dalam panasnya konflik Israel–Palestina yang memang sudah penuh suara keras dari berbagai penjuru dunia.
Sebelum melontarkan label “proyek teror”, Kim Jong-un juga sudah lebih dulu menyatakan dukungan terbuka terhadap perjuangan rakyat Palestina. Korea Utara tanpa ragu mengecam operasi militer Israel di Gaza dan menyebutnya sebagai kejahatan kemanusiaan. Sikap ini konsisten dengan narasi lama Pyongyang yang gemar berdiri di sisi pihak yang mereka anggap tertindas.
Bagi Korea Utara, Palestina bukan sekadar isu Timur Tengah. Ini soal ideologi. Pyongyang melihat konflik tersebut sebagai perpanjangan dari perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme Barat, dua istilah yang selalu jadi musuh abadi dalam kamus politik mereka.
Singkatnya, ketika dunia masih sibuk berdebat soal gencatan senjata, Kim Jong-un memilih jalur ekstrem: tidak menambah solusi, tapi menambah panas. Dunia pun kembali diingatkan, Korea Utara selalu punya cara sendiri untuk ikut ribut meski jaraknya ribuan kilometer dari Gaza.
Editor : Ivan











