PRABA INSIGHT- KORUT – Kalau biasanya pemimpin di negara lain paling keras cuma ngasih teguran atau mutasi, Kim Jong Un di Korea Utara punya cara yang… yah, bisa dibilang ekstra tegas. Dilaporkan, sekitar 30 pejabat pemerintah daerah ditembak mati karena dianggap gagal mencegah banjir besar yang melanda negara itu.
Mengutip Strait Times yang melansir Bloomberg dan TV Chosun, info ini berasal dari seorang pejabat Korea Selatan yang enggan disebut namanya. Banjir sendiri memang menghajar Korut pada Juli lalu, terutama di provinsi Jagang, yang disebut-sebut mengalami kerusakan parah hingga ribuan orang meninggal.
“Sekitar 20 hingga 30 pejabat pemerintah daerah di area yang dilanda banjir ditembak pada bulan Agustus,” kata laporan itu.
Badan Intelijen Nasional Korsel memang memantau situasi ini dengan saksama, tapi Kementerian Unifikasi Korsel yang biasanya urus hubungan dengan Korut memilih diam seribu bahasa. Jadi, kita cuma bisa mengandalkan potongan-potongan kabar dari luar.
Kim Jong Un sendiri sudah memberi “peringatan” sejak pertemuan darurat partai akhir Juli. Katanya, siapa pun yang “sangat mengabaikan” tugasnya selama bencana banjir bakal menghadapi konsekuensi serius. Dalam pertemuan itu ia menegaskan:
“Bertanggung jawab atas jatuhnya korban.”
Selain itu, laporan New York Post menyebut bahwa Sekretaris Komite Partai Provinsi Jagang, Kang Bong-hoon, termasuk di antara pejabat yang dipecat atau dibebaskan dari jabatannya meski belum jelas apakah ia juga ikut dieksekusi.
Kalau kita menengok sejarah, ini bukan hal baru. Pada 2019, Kim juga mengeksekusi utusan nuklirnya untuk AS, Kim Hyok Chol, karena gagal mengamankan pertemuan puncak dengan Presiden Donald Trump. Jadi kalau menurut logika Korut, gagal itu memang fatal, terutama kalau nyawa orang banyak ikut taruhan.
Singkatnya, di Korut, urusan banjir bukan cuma soal air menggenang, tapi juga soal kepala pejabat yang mungkin ikut “tergenang”.
Penulis : Ristanto | Editor : Ivan











