KOLOM ANGKER – Tempat ini tidak pernah benar-benar sepi.
Ia hanya menunggu giliran untuk menunjukkan dirinya.
Akhir tahun 2010.
Tahun terpanjang dalam hidupku.
Beberapa bulan menganggur membuat hari-hari terasa busuk. Setiap pagi bangun dengan dada sesak, setiap malam tidur dengan pikiran kosong. Melamar kerja ke mana-mana, ditolak tanpa suara. Sampai akhirnya… satu surat lamaran itu dibalas.
Pabrik keramik.
Aku ingat betul hari wawancara itu. Bau tanah liat, debu halus di udara, suara mesin berdentam tanpa henti. Di kepalaku cuma ada satu pikiran:
aku harus diterima.
Dan aku diterima.
Aku tidak tahu… bahwa yang benar-benar menerimaku bukan hanya perusahaan itu.
BULAN-BULAN PERTAMA
Dua bulan pertama berjalan normal.
Terlalu normal.
Kerja, pulang, tidur.
Pabrik terasa dingin, tapi masih manusiawi.
Aku pikir cerita-cerita angker dari karyawan senior hanyalah bumbu bosan shift malam.
Aku salah.
Karena teror tidak datang saat kita siap.
Ia datang saat kita mulai merasa aman.
MALAM RABU 22.00
Hujan turun sejak siang. Tidak berhenti.
Air mengalir di atap seng, menimbulkan suara seperti ribuan jari mengetuk.
Aku shift malam. Bagian packing. Berat, melelahkan, tapi ramai.
Jam di dinding mendekati 22.30 waktu istirahat.
Lalu…
AAAAAA—!!!
Teriakan dari luar gedung memotong suara mesin.
Semua berhenti.
Jantungku ikut berhenti.
“Ada yang kecelakaan!!”
Kami berhamburan keluar.
Dan di sanalah aku melihatnya.
KECELAKAAN
Bagian belakang pabrik. Area batubara.
Tempat yang katanya… tidak pernah benar-benar kosong.
Seorang karyawan tergeletak.
Atau lebih tepatnya
dua bagian tubuh tergeletak.
Tubuhnya jatuh dari ketinggian tiga lantai.
Saat jatuh, badannya menghantam besi palang.
Tubuh itu terbelah.
Darah mengalir seperti cat tumpah.
Organ tubuh berserakan di tanah.
Sebagian… tersangkut di besi.
Aku muntah di tempat.
Wajahnya ditutup koran.
Aku tidak pernah melihat wajahnya.
Dan aku menyesal…
karena justru itulah yang membuatnya mudah datang kembali.
SETELAH MALAM ITU
Pabrik berubah.
Udara terasa lebih dingin.
Lorong lebih panjang.
Suara mesin kadang terdengar… seperti napas.
Desas-desus mulai menyebar.
Penampakan. Bayangan. Tangisan.
Aku tidak percaya.
Sampai malam itu.
LORONG AIR 00.30
“Air galon habis. Ambil di belakang.”
Aku mengangguk.
Jam menunjukkan 00.30.
Lorong menuju tandon air panjang, sempit, lampunya redup.
Dekat toilet pria. Dekat kebun gelap.
Begitu masuk lorong
aku merasa diawasi.
Bulu kuduk berdiri.
Tengkuk dingin seperti disentuh es.
Aku menyalakan kran. Air mengalir.
Lalu aku melihatnya.
Di kejauhan tempat nongkrong karyawan
seseorang duduk.
Aku lega.
Aku tidak sendirian.
Aku mengisi galon kedua.
Menoleh lagi.
Dia berdiri.
Dan berjalan ke arahku.
Langkahnya…
aneh.
Seperti tubuh yang terlalu berat untuk ditopang.
Bergoyang. Terseret.
Jarak semakin dekat.
Dan tiba-tiba
DUAAKKK.
Tubuh bagian atasnya jatuh ke lantai.
Aku membeku.
Tubuh itu terbelah dua.
Bagian atas kepala sampai perut
merangkak ke arahku.
Bagian bawah kaki sampai pinggang
berjalan mengejarnya.
Aku berteriak dalam hati.
Mendorong gerobak. Lari.
Menoleh ke belakang
ia masih merangkak.
KEJADIAN KEDUA – KEPALA DI SAMPING ROKOK
Temanku.
Istirahat. Merokok.
Menjelang Maghrib.
Ada seseorang makan di dekatnya.
Mereka mengobrol. Tertawa.
Orang itu pamit sholat.
Lalu
BUNYI BENDA JATUH.
Sebuah kepala menggelinding di samping kakinya.
Matanya melotot.
Mulut terbuka.
Itu wajah orang yang barusan menemaninya.
Temanku sakit.
Resign.
PINDAH KE BATUBARA
Takdir mempermainkanku.
Aku dipindah ke bagian batubara.
Tempat kecelakaan itu terjadi.
Malam pertama.
Sepi.
Bangunan tua.
Besi berkarat.
Kebun hitam tanpa batas.
Giliran aku berjaga.
Dan tiba-tiba
BRAKK!!
Suara batu membentur besi.
Sekali.
Dua kali.
Berkali-kali.
Lalu…
suara tangisan pria.
Temanku tidak mendengar apa-apa.
Aku ke toilet.
Sendirian.
Dan saat aku membuka pintu
Sosok pria berkepala berdarah berdiri tepat di depanku.
Tubuhnya tergeletak.
Matanya menatapku.
Aku pingsan.
Aku berharap ceritanya berhenti di situ.
Tapi tidak.
Karena malam paling parah…
belum aku ceritakan.
Dan pabrik itu
belum selesai denganku.
Editor : Irfan Ardhiyanto
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











