Menu

Mode Gelap
Perkuat Layanan di Riau, Astra Financial Resmikan Kantor Baru SANF di Pekanbaru “Mau Sampai Kapan Nyawa Driver Ojol Melayang?” Curhatan Irfan Smandu soal Kelelahan dan Potongan Tarif AS Tenggelamkan Kapal Perang Iran di Sri Lanka, 87 Pelaut Tewas Dua Wajah THR Lebaran 2026: Swasta Dipotong Pajak, Aparatur Negara Utuh 100% “Jangan Pernah Masuk Hutan Cangar Sendirian: Ada Sesuatu yang Menunggu di Gubuk Itu” Teror Kuburan Mawar Biru: Sosok Perempuan Kelaparan yang Menggali Mayat Anak

News

“Mau Sampai Kapan Nyawa Driver Ojol Melayang?” Curhatan Irfan Smandu soal Kelelahan dan Potongan Tarif

badge-check


					Irfan Yunus Ketua Umum Lintas Gajah Mada (Istimewa) Perbesar

Irfan Yunus Ketua Umum Lintas Gajah Mada (Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Malam itu, sebelum menutup mata dan menyerah pada lelahnya, seorang driver ojol bernama Irfan Smandu menulis uneg-unegnya yang bikin siapa pun yang baca ikut deg-degan.

Dalam tulisannya yang di kirim ke redaksi prabainsight.com Irfan mempertanyakan: “Mau sampai berapa nyawa lagi driver ojol melayang, karena kelelahan mencari uang?”

Ya, ini bukan dramatisasi. Ini realitas pekerja ojol (ojek online) yang setiap hari mengadu nasib di jalanan, menghadapi sistem yang berubah-ubah dan pendapatan yang terus tergerus.

Potongan Tarif  & “Program Gacor” yang Bikin Pusing

Menurut Irfan, pendapatan driver makin menyusut karena sejumlah kebijakan aplikator:

  • Anyeb lah istilah Irfan untuk monopoli orderan bagi driver yang tidak ikut program resmi aplikator.
  • Potongan Rp 20.000/hari – program Gacor atau Hemat yang katanya “untuk kebaikan” tapi bikin penghasilan tipis.
  • Potongan Rp 3.000/shift – Gaspol Grab dan kebijakan lain yang “banyak banget, kalau ditulis satu per satu bisa bikin novel”.
  • Sistem berubah setiap 3–6 bulan – bukan demi lebih baik, tapi sering kali justru memberatkan driver.

Intinya, kerja keras driver ojol seringkali tak sebanding dengan penghasilan, dan mereka harus menempuh jalanan dalam kondisi lelah demi sekadar memenuhi kebutuhan hidup.

Payung Hukum Tak Jelas, Nyawa Taruhan

Irfan juga menyoroti soal payung hukum: sampai sekarang, driver ojol masih minim perlindungan hukum. Tak ada regulasi yang mengatur batas jam kerja, kompensasi lelah, atau mekanisme gaji tetap. Akibatnya, banyak driver yang rela “memaksakan diri” demi uang, meski risiko kecelakaan meningkat.

Tulisan Irfan ditutup dengan semangat juang:

“#keepfighting #abislebarankitagaslagi #Bismillahpastiadajalan”

Sebuah pengingat keras: di balik layanan cepat ojol yang kita nikmati, ada manusia yang bertaruh nyawa demi sesuap nasi. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dua Wajah THR Lebaran 2026: Swasta Dipotong Pajak, Aparatur Negara Utuh 100%

6 Maret 2026 - 10:19 WIB

133 Rekening Judi Online Disikat Bareskrim, Rp 58 Miliar Lebih Akhirnya Balik ke Negara

5 Maret 2026 - 15:30 WIB

Bahlil: Stok BBM Nasional Masih Aman, Pemerintah Klaim Cukup untuk 20 Hari ke Depan

5 Maret 2026 - 14:27 WIB

CICERA Universitas Pancasila Jadi Tuan Rumah Latgab Caving dan Bukber MAPALA Se-Jabodetabeka

5 Maret 2026 - 05:26 WIB

BHR Ojol Naik 100%, Aplikator Rogoh Rp220 Miliar: Lebaran Tahun Ini Lebih “Nendang” buat Mitra?

3 Maret 2026 - 14:12 WIB

Trending di Ekonomi