(Cerita Horor yang Bikin Kamu Takut Makan di Warung Tengah Malam)
KOLOM ANGKER – Namaku Tono. Lima tahun aku menjalankan warung makan di pinggir jalan lintas Jawa Tengah jalan yang sunyi di malam hari, hanya disapa angin dan lampu-lampu kendaraan yang lewat sesekali.
Awalnya warungku sepi. Sangat sepi. Sampai suatu malam… datang seorang pria paruh baya. Wajahnya biasa, tapi matanya… aneh. Terlalu tenang, terlalu dalam, seperti menyimpan sesuatu. Ia makan tanpa suara, lalu menatapku dengan senyum yang tak wajar.
“Kalau ingin warungmu ramai terus,” katanya pelan, “aku bisa bantu. Tapi syaratnya harus dijaga. Jangan sampai dilanggar.”
Aku tertawa, mengira ia bercanda. Tapi seminggu kemudian ia datang lagi. Kali ini membawa bungkusan kain hitam sebesar kepalan tangan. Ia menaruhnya di meja, menatapku dalam-dalam.
“Taruh di bawah meja paling pojok. Jangan buka. Jangan tolak siapa pun yang duduk di sana. Dalam tujuh hari, kau akan lihat hasilnya.”
Entah kenapa, malam itu aku menuruti ucapannya. Kain hitam itu kusimpan di bawah meja pojok belakang meja yang paling jarang didatangi pembeli.
Dan benar saja. Seminggu kemudian, warungku mendadak ramai. Orang-orang datang tanpa henti. Mereka bilang rawonku lebih enak dari sebelumnya padahal aku tidak mengubah apa pun.
Tapi sejak malam pertama, ada satu hal yang selalu sama.
Setiap malam… selalu ada seorang pelanggan duduk di meja pojok itu.
Wajahnya pucat, matanya cekung, bibirnya membiru seperti orang tenggelam. Ia hanya memesan satu mangkuk rawon, duduk diam, lalu pergi tanpa suara. Anehnya, piring dan sendoknya selalu bersih, seolah ia tak makan apa pun.
Malam Ketika Aku Melihatnya Bergerak
Suatu malam, rasa penasaranku mengalahkan rasa takut. Setelah warung tutup, aku jongkok di bawah meja itu. Kain hitam pemberian pria aneh itu masih di sana… tapi ada sesuatu yang menjulur keluar dari dalamnya.
Rambut.
Rambut hitam panjang, tipis, menjulur perlahan seperti sedang mencari udara.
Aku mundur dengan napas tersengal. Tiba-tiba cesssshhh! lampu neon di dapur pecah sendiri. Suara seperti seseorang tertawa lirih terdengar di telingaku. Aku menoleh, tapi tak ada siapa pun.
Keesokan harinya, aku ingin membuang bungkusan itu. Tapi begitu membuka pintu warung, puluhan orang sudah mengantre.
Semua bilang: “Mas, rawonnya makin enak ya, kayak ada aroma kaldu yang beda.”
Aku hanya bisa tersenyum kaku.
Di dalam dada, ada rasa takut yang mulai tumbuh.
Malam Keempat Belas: Aku Membukanya
Saat semua orang pulang, aku duduk di depan meja itu dengan tangan gemetar. Aku buka kain hitam itu perlahan. Bau amis dan busuk langsung menyergap, seperti darah basi dan tanah kuburan.
Di dalamnya ada potongan kecil jari manusia. Sudah kering, tapi masih ada cakar hitam di ujungnya. Jari itu dibungkus daun sirih, uang kertas kuno, dan benang merah.
Aku menjerit. Muntah sampai perutku kosong. Lalu aku mengubur benda itu jauh di belakang warung.
Malam itu aku berpikir semuanya sudah selesai. Tapi ternyata… itulah awal nerakanya.
Meja Pojok Itu Hidup
Sejak malam itu, warungku berubah jadi tempat yang tak bisa dijelaskan.
Panci mendidih sendiri.
Sendok jatuh berulang kali tanpa alasan.
Dan setiap jam 11 malam tepat, kursi di meja pojok itu selalu bergeser pelan, seolah ada yang duduk di sana.
Greeeek…
Greeeek…
Aku tak berani menoleh. Tapi malam ketujuh setelah aku mengubur benda itu, aku menunggu.
Aku ingin tahu siapa yang duduk di sana.
Lampu neon berkelip. Angin dingin berhembus. Jam dinding berhenti berdetak.
Lalu tap… tap… tap…ada langkah kaki dari arah belakang.
Saat aku menatap meja itu… dia sudah duduk di sana.
Wajah yang sama pucat, mata kosong, bibir biru. Tapi malam ini, ia bicara.
“Kau sudah membuangnya tanpa izin…”
Suara itu berat, serak, seperti keluar dari tenggorokan yang sudah lama busuk. Aku tak bisa bergerak.
“Kau ingat syaratnya?” katanya lagi. “Selama tujuh hari kau memberi makan tanpa henti. Kini… giliranku menagih…”
BRAAAAK!!
Lampu padam. Semua gelap.
Dari kegelapan terdengar suara sendok jatuh, kursi bergeser, dan napas berat di dekat telingaku.
“Terima kasih sudah memberiku tempat duduk…”
Aku berteriak. Tapi tak ada suara keluar.
Esoknya…
Ketika lampu kembali menyala, meja pojok itu kosong. Tapi di atasnya, ada mangkuk rawon panas yang mengepul. Padahal aku tidak memasak apa pun malam itu.
Keesokan harinya, warungku sepi. Orang-orang bilang rasa rawonku “aneh”, seperti ada bau amis daging manusia.
Akhirnya aku tutup warung itu. Permanen. Tapi setiap kali aku lewat malam-malam… dari dalam warung yang terkunci rapat, tercium aroma rawon segar, dan terdengar suara sendok beradu dengan mangkuk.
Beberapa sopir truk yang melintas bersumpah mereka melihat seseorang duduk di meja pojok itu, menatap ke arah jalan… seolah sedang menunggu pesanan berikutnya.
Dan jika kau lewat di jalan itu, jangan pernah berhenti di warung tua dengan papan nama pudar bertuliskan:
“Warung Tono – Rawon Pojok Lezat”
Karena di dalamnya, mungkin masih ada yang lapar.
Dan kali ini… kau yang jadi hidangannya.
Penulis : Ris Tanto | Editor : Ivan
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











