Menu

Mode Gelap
“Teror Sungai Musi 1987: Yang Tenggelam Tidak Pernah Pergi” Pilu, Tabrakan KA Bekasi Timur Renggut 15 Nyawa, Termasuk Seorang Jurnalis Perempuan Daftar Lengkap Korban Bekasi Timur: 84 Luka, 14 Meninggal, Usia 21–63 Tahun dan Tersebar di 11 RS Sopir Taksi Beberkan Detik-detik Setir Ngunci di Rel Bekasi Timur hingga Picu Tabrakan Kereta BP Danantara Pastikan Jasa Raharja Tanggung Biaya Perawatan, KAI Beri Kompensasi Korban Kecelakaan Bekasi Timur Kisah Skandal Sum Kuning: Dari Korban Jadi Tersangka, Saat Hukum Tunduk pada Kuasa

Prabers

Miss England Cabut dari Miss World: “Kami Disuruh Ngobrol Sama Pria Kaya, Seperti Pelacur Bermahkota”

badge-check


					Miss England 2024, Milla Magee, memutuskan mundur dari ajang Miss World 2025 yang akan digelar di Telengana, India, pada 31 Mei 2025.(Foto: istimewa) Perbesar

Miss England 2024, Milla Magee, memutuskan mundur dari ajang Miss World 2025 yang akan digelar di Telengana, India, pada 31 Mei 2025.(Foto: istimewa)

PRABA INSIGHT – Milla Magee bukan ratu kecantikan biasa. Dia bukan tipe yang senyum palsu sambil dadah-dadah ke kamera, lalu nerima begitu aja dunia yang katanya menjunjung “beauty with a purpose”, tapi nyatanya malah bikin peserta merasa kayak pajangan toko.

Perempuan yang tahun ini menyandang gelar Miss England 2024 itu memilih cabut dari ajang Miss World 2025. Ya, mundur.

Di tengah jalan. Setelah terbang jauh-jauh ke Telengana, India. Alasannya? Karena dia muak.

“Aku pergi ke sana untuk membuat perubahan,” ujar Milla, seperti dikutip Wolipop, Minggu (25/5/2025). “Tapi di sana kami hanya duduk seperti monyet yang melakukan pertunjukan.”

Keras? Sangat. Tapi itulah Milla. Cewek asal Newquay, Cornwall itu bukan tipe yang bisa pura-pura nyaman saat batinnya berontak. Buat dia, ajang Miss World sudah kadaluwarsa terjebak di masa lalu dan penuh kemunafikan.

“Organisasi itu terjebak di masa lalu. Secara moral aku tidak bisa mengambil bagian dari acara tersebut,” tegasnya.

Katanya, Miss World itu ajang yang tujuannya mulia: bikin perubahan, bawa dampak positif, dan memberdayakan perempuan.

Tapi realitanya? Jauh panggang dari api. Yang ada malah peserta disuruh senyum terus, jaga penampilan, dan ikut kegiatan yang bikin Milla merasa kayak sedang dijadikan tontonan elite.

“Tujuan dari acara adalah untuk berbuat baik, mempromosikan perubahan, dan membuat perbedaan. Tapi itu jelas tidak akan terjadi,” katanya.

“Sejauh yang aku lihat, organisasi tidak akan berubah dan terjebak di masa lalu. Semua mahkota dan selempang di dunia tidak akan ada artinya dibandingkan menyuarakan pendapatmu dan membuat perbedaan di dunia.”

Yang bikin Milla makin geram adalah momen saat jamuan makan malam. Kontestan Miss World, termasuk dirinya, disuruh duduk di tiap meja dua gadis untuk enam pria. Tugas mereka? “Menghibur” para tamu undangan laki-laki.

“Dua gadis di setiap meja yang berisi enam tamu. Kami diminta untuk duduk bersama mereka sepanjang malam dan menghibur mereka sebagai ucapan terima kasih,” kata Milla.

Dia kaget. Bingung. Marah. Merasa dijadikan ‘pemanis meja’. “Aku merasa itu tidak masuk akal.

Aku berpikir, ‘Ini salah besar’. Aku tidak datang ke sini untuk menjadi hiburan orang lain,” lanjutnya.

“Miss World seharusnya memiliki nilai-nilai yang sama. Mereka membuatku merasa seperti pelacur.”

Ucapan yang begitu frontal ini lahir dari tekanan yang sudah tidak bisa ditahan. Milla bahkan sempat menangis saat menelepon ibunya.

Ia merasa bukan cuma dirinya, tapi semua peserta, sedang dieksploitasi.

Akhirnya, pada 16 Mei, Milla resmi mengundurkan diri. Dia pulang ke Inggris.

Panitia Miss World? Awalnya cuma bilang mundurnya Milla karena “alasan pribadi dan kesehatan.” Tapi setelah wawancara ini viral, publik tahu alasan yang sesungguhnya.

Meski ditinggal Milla, Inggris tetap punya wakil di Miss World 2025. Runner-up Miss England, Charlotte Grant, langsung maju jadi pengganti.

Sementara Milla? Kembali ke pantai. Menjadi penjaga pantai dan peselancar, profesi yang baginya jauh lebih jujur dan manusiawi dibanding berdiri di panggung sambil dipajang.

Miss World, menurut Milla, perlu berbenah. Bukan cuma ganti dekorasi dan nambah sponsor.

Tapi evaluasi mendalam soal esensi: mau jadi ajang kecantikan atau alat hiburan elite?

Sampai hari ini, satu pernyataan Milla terus terngiang:

“Semua mahkota dan selempang di dunia tidak akan ada artinya dibandingkan menyuarakan pendapatmu dan membuat perbedaan di dunia.”

Dan mungkin itu justru momen paling berkelas yang pernah terjadi dalam sejarah kontes ratu sejagat.

 

Penulis: Stefanie Lengka 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tips Mengatasi Grogi Saat Interview Kerja: Biar Nggak Blank, Panik, dan Gagal di Depan HRD

2 April 2026 - 10:35

Pulang Kampung dan Lebaran Mode: Acting Sukses, Hati Deg-Degan, Dompet Sekarat

18 Maret 2026 - 16:33

Kasus Hogi Minaya dan Kekeliruan Aparat Membaca Pasal KUHP Baru

30 Januari 2026 - 08:33

Tentara Bayaran: Ikut Perang Tanpa Seragam, Pulang Tanpa Perlindungan

22 Januari 2026 - 07:21

Monorel Rasuna Said Tumbang: Jakarta Akhirnya Berani Mengakui Pernah Salah

15 Januari 2026 - 15:14

Trending di Prabers