Menu

Mode Gelap
Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring Tragis! Rumah Dijaminkan demi Tolong Orang, YAM Justru Dipenjara Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang Kutukan Tuyul Turunan: Kekayaan yang Dibayar dengan Nyawa Anak Sendiri Sebulan Jadi Brimob Palsu: Masuk Mako, Ikut Latihan, dan Pegang Senjata Ketahuan Gara-gara Minta Rokok

Sport

Pelatih Timnas Baru Belum Datang? PSSI Masih Sibuk Menghapus Jejak “One Man Show”

badge-check


					PSSI disebut sedang “healing” setelah kegagalan era Patrick Kluivert. Bung Harpa mengungkap bagaimana gaya “One Man Show” Erick Thohir membuat federasi kini kembali ke sistem kolektif dalam memilih pelatih baru Timnas Indonesia. Artikel ini membahas sisi satir, politik sepak bola, dan alasan di balik lamanya pengumuman pelatih baru. Perbesar

PSSI disebut sedang “healing” setelah kegagalan era Patrick Kluivert. Bung Harpa mengungkap bagaimana gaya “One Man Show” Erick Thohir membuat federasi kini kembali ke sistem kolektif dalam memilih pelatih baru Timnas Indonesia. Artikel ini membahas sisi satir, politik sepak bola, dan alasan di balik lamanya pengumuman pelatih baru.

PRABA INSIGHT- JAKARTA – Kalau Anda sudah mulai gelisah menunggu siapa pelatih baru Timnas Indonesia, tenang dulu. Ternyata PSSI sedang mengalami sesuatu yang mirip fase healing. Bukan karena patah hati, tapi karena patah strategi.

Setelah Patrick Kluivert resmi dipecat pada 16 Oktober 2025, publik mungkin membayangkan PSSI langsung gaspol mencari pengganti. Tapi kenyataannya, mereka malah diam seperti habis salah kirim chat ke grup keluarga.

Pengamat sepak bola nasional, Bung Harpa, membocorkan satu fakta yang bikin kita semua mengangguk-angguk: kegagalan Kluivert itu bukan cuma perkara taktik zonal marking atau pressing ala Eropa. Masalah utamanya kata beliau ada pada gaya “satu orang main semua tuts piano”, alias “One Man Show” Erick Thohir (ET).

Dulu STY Direkrut Pakai Akal Sehat, Kluivert Direkrut Pakai Mode Solo

Bung Harpa lalu membuka perbandingan yang lebih pedas daripada sambal bawang siang bolong.

Era Shin Tae-yong (2019)

Perekrutan dilakukan dengan gaya gotong royong khas PSSI:

BTN menyaring, Exco (15 orang) bermusyawarah, dan semua ikut menanggung rasa bangga kalau berhasil. Kalau gagal? Ya bonyok bareng.

Era Patrick Kluivert (2025)

Nah ini beda.

STY dipecat mendadak, Kluivert datang juga mendadak, dan semuanya tanpa melibatkan Exco.

Prosesnya seperti ujian harian yang dikerjakan sendiri: kalau benar dapat nilai, kalau salah ya siap-siap kena semprot Bu Guru.

“Ini One Man Show Erick Thohir,” kata Bung Harpa dengan tenang.

Plot Twist: Erick Sempat Sowan ke Presiden Prabowo

Bagian ini agak sinematik.

Menurut sumber terpercaya Bung Harpa, sebelum memecat STY dan menunjuk Kluivert, ET ternyata sudah menghadap Presiden Prabowo Subianto dulu. Presiden sudah ngasih spoiler yang sebenarnya cukup jelas:

“Ini bahaya loh. Kalau sampai gagal Anda bisa dihabisi,”

ujar Harpa menirukan peringatan Presiden Prabowo.

Tapi ET waktu itu kayak lagi high spirit, mungkin baru selesai ngopi.

“Siap, Pak. Kalau perlu saya dipecat, saya siap!”

jawab ET dengan heroik, lengkap dengan efek angin di belakangnya.

Dan Anda tahu akhir ceritanya:

Kluivert gagal total, Timnas tidak terbang kemana-mana, dan ET kena sentilan publik di mana-mana.

Akhirnya PSSI Kembali ke “Setelan Pabrik”

Menurut analisis Bung Harpa, efek domino dari drama Kluivert membuat PSSI kembali ke pola yang lebih aman: nggak ada lagi yang namanya rekrutmen instan “tunjuk langsung”.

Sekarang semuanya harus lewat BTN, dibahas Exco, ditimbang bersama, diputuskan bersama. Pokoknya kembali ke format kelompok belajar.

“Waktu Kluivert beda, itu lebih ke show of power. Sekarang sepertinya kembali ke pola kolektif,”

kata Bung Harpa.

Jadi kalau Anda mulai bertanya-tanya kenapa pengumuman pelatih baru lama banget, jawabannya simpel:

PSSI trauma.

Mereka lagi rapat maraton supaya ke depan tidak ada lagi pejabat yang harus mengatakan kalimat legendaris seperti:

“Siap, Pak. Kalau perlu saya dipecat, saya siap.”

Penulis : Ris Tanto | Editor : Ivan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

ASICS Bawa Atmosfer Final Tenis Dunia ke Jakarta, Ada Peluncuran Sepatu Baru

3 Februari 2026 - 12:30 WIB

Papua Tengah: Gudang Bakat Sepak Bola yang Lebih Sering Jadi Cerita daripada Prestasi

29 Januari 2026 - 17:09 WIB

Pertandingan India Open 2026 Terhenti Akibat Kotoran Burung di Lapangan Utama

22 Januari 2026 - 06:13 WIB

Perjalanan Garudayaksa FC: Klub Bentukan Prabowo yang Menyodok Persaingan Promosi Liga

4 Januari 2026 - 09:11 WIB

PSSI Belum Umumkan Pelatih Baru Timnas, Katanya Biar Nggak Emosian Dulu

28 Oktober 2025 - 17:02 WIB

Trending di Sport