Menu

Mode Gelap
3 Surpres Meluncur dari Istana ke DPR, Kursi Strategis Mulai Jadi Rebutan? GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK Ngopi Nggak Harus Serius: MILKLAB Ajak Coffee Lovers Keliling Kafe sambil Joget dan Berburu Hadiah Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD

Politik

Pidato Prabowo, Kata Haidar Alwi, Bukan Basa-Basi: Ini Tanda Negara Mau Serius dengan Pancasila

badge-check

R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute. (Foto:Praba/istimewa) Perbesar

R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute. (Foto:Praba/istimewa)

PRABA INSIGHT – Hari Lahir Pancasila tahun ini terasa beda. Bukan karena tanggalnya yang jatuh di awal Juni seperti biasa, tapi karena pidato Presiden terpilih Prabowo Subianto yang bikin banyak telinga merapat dan mata melek.

Salah satu yang ikut mengamati dengan saksama adalah R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute.

Menurut Haidar, pidato Prabowo bukan cuma pengulangan teks seremonial tahunan yang bikin ngantuk. “Ini titik balik,” katanya mantap.

Bagi Haidar, pidato itu seperti sirene keras, jujur, dan mengingatkan semua orang bahwa negara ini butuh arah, bukan basa-basi.

Apalagi ketika menyentuh soal kebocoran anggaran dan elit-elit yang doyan main belakang. “Jangan sampai kita mengkhianati rakyat sendiri,” ucap Prabowo.

Haidar menyebut itu sebagai “teguran langit” buat yang selama ini nyaman di zona gelap kekuasaan.

Sebagai Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, Haidar menilai Prabowo tidak sedang playing safe. Ia berani menyinggung aparat dan pejabat, sesuatu yang jarang terdengar dari mimbar kekuasaan.

Menurutnya, keberanian semacam ini perlu diapresiasi, bukan malah dicibir. “Ini koreksi ke dalam, bukan sekadar nyalahin orang lain,” ujar Haidar.

Pidato itu juga tidak menyulut api konflik. Tidak ada sindiran ke golongan agama, ras, atau etnis tertentu. Sebaliknya, Prabowo dengan tegas menyatakan bahwa Pancasila adalah milik semua orang.

Haidar menilai kalimat ini bukan cuma pemanis, tapi pengingat bahwa narasi kebangsaan jangan dikomodifikasi jadi bahan jualan politik.

Toleransi, menurut Haidar, adalah pondasi kalau Indonesia ingin tetap utuh di tengah keberagaman yang kadang rawan disulut demi elektabilitas.

Sebagai penggagas Gerakan Nasional Rakyat Bantu Rakyat, Haidar langsung nyambung dengan semangat gotong royong yang diselipkan Prabowo.

Negara, kata Presiden, tidak boleh dikuasai segelintir orang. Haidar sepakat. “Rakyat bantu rakyat itu bukan sekadar slogan. Itu gerakan. Itu cara bangsa ini tetap berdiri ketika negara kadang hilang arah,” ucapnya.

Pidato Prabowo juga menyinggung hal yang jarang diungkap: soal dana asing yang bisa menyusup lewat LSM.

Menurut Haidar, ini bukan teori konspirasi, tapi sinyal penting bahwa kita perlu punya narasi tandingan, bukan cuma menunggu sampai negara ini tercerai berai dari dalam.

“Banyak negara besar runtuh bukan karena perang, tapi karena pengaruh,” tegasnya.

Yang membuat Haidar makin yakin, Prabowo tidak tampil sebagai politisi yang lagi kampanye. Tidak ada kalimat manis-manis yang terlalu idealis.

Justru gaya lugas dan pengakuan bahwa sistem masih bocor di sana-sini, menurut Haidar, adalah titik terang.

“Kejujuran itu awal dari perbaikan,” katanya. Dan kejujuran, katanya lagi, adalah barang mahal di republik yang terlalu sering memoles luka dengan kosmetik janji-janji.

Ia pun mengingatkan publik agar berhenti jadi komentator profesional di media sosial.

“Kalau cuma nyinyir tapi nggak mau turun tangan, ya negara ini ya akan gini-gini aja,” sentil Haidar. Harapan, menurutnya, lebih penting dari sinisme.

Buat Haidar, isi pidato Prabowo harus diturunkan dalam aksi nyata: pemerataan pendidikan, layanan kesehatan yang adil, serta keberpihakan nyata ke rakyat kecil.

Gerakan seperti Rakyat Bantu Rakyat bukan untuk menyaingi negara, tapi membantu negara hadir di tempat yang sering ia lupakan.

Haidar Alwi menutup komentarnya dengan nada optimis. “Kalau pidato ini bukan sekadar lips service, kalau benar dijalankan, maka kita akan masuk babak baru. Bukan hanya Indonesia yang lebih kuat, tapi juga lebih adil dan bermartabat,” tutupnya.

 

 

Penulis: Andi Ramadhan| Editor: Ivan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

3 Surpres Meluncur dari Istana ke DPR, Kursi Strategis Mulai Jadi Rebutan?

10 Agustus 2026 - 23:21

KBM UNPAM Dukung Polri Usut Tuntas Dugaan Korupsi Eks Jampidsus, Tegaskan Tak Ada yang Kebal Hukum

19 Juli 2026 - 16:37

Hari Purwanto Desak Aparat Usut Dugaan Fitnah terhadap Megawati, Minta Diselesaikan Lewat Jalur Hukum

16 Juli 2026 - 22:20

Wasekjend Depinas SOKSI Nilai Serangan Deddy Sitorus ke Bahlil Cerminkan Kemunduran Etika Politik PDIP

15 Juli 2026 - 17:07

Aktivis 98 Agung Dekil: Komitmen Prabowo Berantas Korupsi Wujud Nyata Amanat Reformasi 1998

15 Juli 2026 - 15:02

Trending di Nasional