Menu

Mode Gelap
Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring Tragis! Rumah Dijaminkan demi Tolong Orang, YAM Justru Dipenjara Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang Kutukan Tuyul Turunan: Kekayaan yang Dibayar dengan Nyawa Anak Sendiri Sebulan Jadi Brimob Palsu: Masuk Mako, Ikut Latihan, dan Pegang Senjata Ketahuan Gara-gara Minta Rokok

Sejarah

Polemik Nasab Bani Alawi: Haidar Alwi Minta Publik Kembali ke Ilmu, Bukan Emosi

badge-check


					Polemik nasab Bani Alawi kembali menghangat setelah klaim pembatalan muncul dari Kiimat. Haidar Alwi menegaskan pentingnya metodologi ilmu nasab dan ajakan menjaga akal sehat publik di tengah kegaduhan opini.(Foto: Ist) Perbesar

Polemik nasab Bani Alawi kembali menghangat setelah klaim pembatalan muncul dari Kiimat. Haidar Alwi menegaskan pentingnya metodologi ilmu nasab dan ajakan menjaga akal sehat publik di tengah kegaduhan opini.(Foto: Ist)

PRABA INSIGHT- JAKARTA – Dalam sejarah manusia yang panjang dari zaman kerajaan sampai zaman warganet rebutan komen ada satu hal yang nggak pernah berubah: kebenaran cuma bisa berdiri kalau ditopang akal sehat dan ilmu yang bener. Kalau ada isu yang nyentuh identitas, harga diri, atau struktur sosial, bangsa ini sebenarnya cuma butuh satu hal: cara mikir yang tertib. Tanpa itu, ya jadinya ribut nggak karuan lalu saling serang di kolom komentar.

Belakangan, publik Indonesia kembali heboh gara-gara polemik nasab Bani Alawi. Semua bermula dari pernyataan Imaduddin Utsman Al-Bantani alias Kiimat, yang dengan pede menyebut bahwa nasab Bani Alawi “batal total.” Kalimat pendek yang efeknya panjang lebih panjang dari utas 30 tweet. Netizen pun pecah jadi beberapa kubu: yang bingung, yang marah, yang ikut-ikutan, dan yang sebenarnya nggak ngerti tapi tetap nimbrung biar dianggap update.

Masalahnya, nggak semua suara yang muncul itu paham fondasi keilmuan yang diperlukan untuk bahas isu ribet seperti ini.

Di sinilah Ir. R. Haidar Alwi, MT, Pendiri Haidar Alwi Care, Haidar Alwi Institute, dan Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, merasa perlu bersuara. Menurutnya, perdebatan besar kayak begini jangan dibawa ke ruang emosi.

“Kadang masalah bukan pada kesimpulan seseorang, tetapi pada cara kita membaca masalah itu tanpa fondasi ilmu. Ketika perdebatan besar berputar tanpa metodologi, maka yang lahir bukan kebenaran, melainkan kebingungan massal,” ujar Haidar Alwi.

Haidar mengingatkan, sebelum keburu terseret arus drama, kita harus paham dulu apa sebenarnya klaim Kiimat ini, bagaimana ilmu nasab bekerja, dan kenapa pembatalan itu beda banget dari sekadar kritik.

1. Klaim “Batal” Itu Bukan Kata-kata Biasa

Kata “batal” memang kelihatannya sederhana, tapi dalam dunia keilmuan, bobotnya berat banget. Ini bukan kritik ringan. Ini semacam bilang, “Semua yang dianggap benar sepanjang lebih dari seribu tahun itu keliru total.”

Nah, klaim sebesar itu butuh bukti negatif yang kuat. Bukan dugaan. Bukan asumsi. Apalagi cuma karena ada bagian manuskrip yang nggak lengkap.

Masalahnya, sebagian masyarakat justru menerima kata “batal” itu kayak opini biasa dalam grup WA.

Menurut Haidar, publik memang harus bisa bedain fenomena sosial dengan fenomena ilmiah. Kiimat sempat menyinggung soal ketenaran tokoh seperti Habib Umar Hafid di media dan kegiatan haul yang ramai. Haidar tidak membantah bahwa popularitas memang tidak otomatis menguatkan nasab. Itu benar.

Yang jadi masalah adalah ketika fenomena sosial yang jelas-jelas bukan bukti ilmiah itu dijadikan dasar untuk menganggap seluruh nasab invalid. Haidar menegaskan: ini keliru secara metodologis. Sederhana saja, popularitas itu non-evidential nggak punya nilai pembuktian dalam ilmu nasab.

Akhirnya, polemik pun makin kusut karena opini dan emosi bercampur jadi satu. Padahal, kata Haidar, ilmu nasab itu lebih tua dari usia negara kita. Tradisinya panjang dan disiplin.

2. Empat Pilar Ilmu Nasab: Bukan Analisis Instastory

Ilmu nasab ini bukan ilmu yang bisa diputuskan berdasarkan perasaan, atau komentar netizen semalam. Ada empat pilar ilmiah yang jadi standar sejak zaman ulama klasik:

1. Istifadah

Tradisi lisan komunitas yang hidup dekat dengan garis keturunan tersebut. Di Hadramaut, narasi soal Ahmad al-Muhajir, Ubaidillah, dan Alawi sudah hidup sejak awal abad Hijriah dan konsisten.

2. Syuhrah

Reputasi genealogis yang diterima luas. Nasab Bani Alawi dikenal mulai dari Yaman, Hijaz, India, Afrika Timur, sampai Nusantara berabad-abad lamanya tanpa penolakan ilmiah serius.

3. Syawahid al-mu‘āshirah

Kesaksian ulama sezaman. Ulama seperti Ali bin Jadid dan Ali bin Umar al-Atibai menulis langsung bahwa Ubaidillah adalah anak Ahmad bin Isa al-Muhajir.

4. Khatun nasabah

Catatan resmi para nukoba semacam “arsiparis genealogis” dunia Islam.

Menurut Haidar, pembatalan nasab baru bisa dianggap sah kalau bukti negatifnya memenuhi keempat pilar itu sekaligus.

“Satu saja tidak terpenuhi, maka pembatalan itu cacat metodologis,” kata Haidar tegas.

Lalu apakah klaim Kiimat memenuhi empat pilar itu? Haidar bilang: tidak sama sekali. Yang ada justru kesimpulan dari kevakuman catatan padahal itu jelas-jelas argumentum ex silentio, alias menyimpulkan sesuatu hanya karena ia tidak disebutkan.

Dalam ilmu nasab, itu tidak valid.

3. Belajar dari Masa Lalu: Pembatalan Nasab Itu Serius, Bro

Sejarah sudah memberi contoh bagaimana pembatalan nasab dilakukan dengan benar. Misalnya klaim Abdul Wahid sebagai keturunan Imam Husain. Klaim ini dibatalkan oleh ulama besar seperti al-Umari dan Abu Nasr al-Bukhari. Dasarnya jelas: hasr, pembatasan eksplisit bahwa keturunan Imam Husain hanya melalui Imam Zainal Abidin.

Pertanyaannya, apakah ada hasr semacam itu untuk kasus Ahmad bin Isa dan Ubaidillah?

Jawabannya: tidak ada.

Tidak ada satu pun kitab klasik abad ke-4 sampai ke-8 H yang menyatakan bahwa Ahmad bin Isa tidak punya anak bernama Ubaidillah. Tidak ada ulama sezaman yang menolak keberadaan Ubaidillah. Tidak ada catatan ahli nasab yang menyebut ia tokoh fiksi.

Sebaliknya, justru ada bukti positif yang dekat dengan masa peristiwanya.

Karena itu Haidar menyimpulkan: klaim pembatalan itu tidak memenuhi syarat ilmiah.

“Bukti positif yang dekat dengan masa kejadian selalu lebih kuat daripada spekulasi jauh yang tidak membawa data primer,” ujarnya.

4. Menjaga Akal Sehat di Tengah Bisingnya Dunia Maya

Bagi Haidar, isu ini lebih dari sekadar perdebatan genealogis. Ini soal bagaimana bangsa menjaga kualitas berpikir di tengah kebisingan informasi.

Kita pernah mengalami bagaimana hoaks digital memecah masyarakat. Bagaimana propaganda membuat publik salah arah. Bagaimana suara keras menggantikan data.

“Jika ruang publik dikuasai oleh sensasi, bukan oleh ilmu, maka bangsa kehilangan orientasinya,” kata Haidar.

Karena itu Haidar mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan menghormati ilmu. Polemik itu sah, tapi jangan sampai hilang metodologi.

“Bangsa yang menjaga akal sehatnya tidak akan dikalahkan oleh kebisingan. Dan umat yang memegang disiplin ilmu akan menemukan jalan terangnya sendiri.” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perang Tanpa Peluru: Agus Salim, Baswedan, dan Diplomasi yang Menyelamatkan Republik

28 Desember 2025 - 12:41 WIB

Kenapa Toraja Kristen Sedangkan Tetangganya Islam? Ini Fakta Sejarah yang Jarang Diketahui

2 Desember 2025 - 15:31 WIB

Sejarah Hari Jomblo 11.11: Dari Lelucon Mahasiswa Jadi Cermin Realitas Generasi Modern

11 November 2025 - 12:28 WIB

Siapa Sebenarnya yang Pertama Kali Melarang Film G30S/PKI Diputar?

2 Oktober 2025 - 18:29 WIB

Letjen Suprapto Gugur, Julie Suparti Bangkit: Potret Perempuan Tangguh di Balik G30S PKI

30 September 2025 - 19:13 WIB

Trending di Sejarah