Menu

Mode Gelap
Bersih-bersih Seragam: 34 Personel Polri Di-PTDH, Nama Konten Kreator Ikut Terseret Belajar Ngaji atau Jadi Korban? Dugaan Pelecehan di Ponpes Muna Barat yang Bikin Orang Tua Merinding Menikmati Wagyu hingga Daechang di Gahyo Cikarang, Restoran Korea Favorit Pebisnis KAUP Gelar PentaSeni 2026 di Kampus Pancasila, Jadi Momen Perpisahan Kepengurusan Dasco Rakernas Perdana Haidar Alwi Institute di Tengah Dinamika Politik Nasional Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring

Kolom Angker

Rumah Darmo Darah yang Tak Pernah Kering

badge-check


					Foto ilustrasi (Istimewa) Perbesar

Foto ilustrasi (Istimewa)

KOLOM ANGKER – Namaku Andra, mahasiswa sejarah yang saat itu merasa dunia ini tidak punya rahasia yang benar-benar mematikan. Kini aku tahu betapa sombongnya pikiran itu.

Rumah Darmo bukan sekadar rumah angker.

Rumah itu lapar.

Dan kami datang sebagai santapan.

Gerbang yang Menutup Sendiri

Ketika kami aku, Rafi, Nino, dan Desi melangkah melewati gerbang besi berkarat, sesuatu yang kami kira angin membuat daun pintu gerbang bergerak.

Ternyata bukan angin.

Kami mendengar “KREEEEKKKKK” dan gerbang itu menutup sendiri pelan-pelan, seperti tangan besar tak terlihat mendorongnya.

Desi gemetar. “Jangan lama-lama ya…”

Kami belum tahu bahwa rumah itu tidak pernah berniat melepas kami dengan mudah.

Ruang Tamu dengan Jejak Seret

Begitu masuk, bau amis yang sebelumnya samar kini berubah lebih pekat seperti darah yang sudah mengering bertahun-tahun lalu lalu basah kembali.

Senterku menyorot lantai marmer… dan aku terpaku.

Di lantai, debu tidak sekadar berhamburan.

Ada jejak seret panjang… berwarna cokelat tua.

Bekas tubuh yang diseret.

Menuju ruang makan.

Darah.

Banyak.

“Ini… bukan prank, kan?” ujar Nino, suaranya nyaris pecah.

Tidak ada yang menjawab.

Tangga: Ada yang Turun, Ada yang Terjatuh

Saat kami hendak naik, BAM! sesuatu jatuh dari lantai dua keras, besar, seperti tubuh manusia.

Kami semua terperanjat.

Ketika menyorot, tidak ada apa pun.

Namun di pegangan tangga, muncul bekas tangan panjang, kurus, seperti tangan seseorang yang kulitnya sudah meregang dan robek. Bekas tangan itu… basah.

Dan baunya…

Seperti daging busuk dicampur dupa terbakar.

Aku menahan muntah.

Tetap saja kami naik karena suara dari lantai dua memanggil kami.

Ya. Memanggil.

Suara anak kecil:

“Kakaaak… tolong aku…”

Lorong Sadis yang Menjebak

Di lorong lantai dua, lampu senter Nino berkedip dan mati-hidup, seperti berusaha memperingatkan.

Pintu-pintu kamar berderit terbuka sendiri, satu per satu.

KREEK… KREEK… KREEK…

Udara berubah lebih busuk.

Ada aroma lain yang tiba-tiba muncul daging mentah, darah segar, dan melati yang dipaksakan untuk menutupi kematian.

Di dinding lorong, kami melihat bekas goresan kuku. Dalam sekali. Panjang sekali. Seperti seseorang diseret sambil berusaha mencakar tembok hingga kukunya tercabut.

Desi mulai menangis.

“Des… jangan lihat ke belakang,” ujar Rafi.

Terlambat.

Dia melihat.

Dan dia menjerit.

Kamar Lukisan 

Di kamar yang pintunya terbuka sedikit, bau amis berubah begitu kuat hingga dada terasa sesak.

Di tengah kamar, lukisan keluarga itu masih tergantung.

Tapi kini, kami melihat lebih dekat.

Dan kami menyadari sesuatu:

Mata sang ayah hilang bukan dilukis gelap. Tapi sobekan kanvasnya tampak seperti dicabik dari dalam.

Sang ibu kulitnya pada lukisan tampak bolong di beberapa bagian, seperti pernah dilelehkan.

Sang anak kecil di lukisan pipinya dirobek, hingga memperlihatkan detail daging.

Terlihat nyata.

Terlalu nyata untuk sebuah lukisan tua.

Nino menggigil. “Lukisan ini… berubah. Waktu siang tadi nggak begini…”

Lingkaran ritual di lantai yang sebelumnya gelap kini terlihat basah, seperti darah segar baru dituangkan.

Tiba-tiba…

TOK TOK TOK TOK TOK!!!

Seseorang atau sesuatu berlari di lorong menuju kamar kami.

Kecepatan tak wajar.

Pintu kamar menggedor keras, seperti seseorang meninju dengan seluruh kekuatan:

BAM! BAM! BAM!

“KELUAAAAR…”

“KALIAN SUDAH DIPILIIIH…”

Suaranya seperti perempuan…

Lalu berubah menjadi suara laki-laki.

Kemudian anak-anak.

Bersamaan.

Turun Tangga  Rumah Mulai Menyakiti

Kami memaksa kabur.

Namun saat Desi menuruni tiga anak tangga pertama

CRACKKK!

Tangga patah.

Tubuh Desi jatuh ke bawah menimpa kayu, dan suara tulangnya terdengar jelas.

Kami buru-buru menolongnya. Kakinya terlilit kayu patah berdarah. Kulitnya sobek dari betis hingga paha.

Dia menjerit seperti disembelih hidup-hidup.

Rafi mengangkatnya, panik.

“ANDRA! BUKA JALANNYA!”

Aku mencoba menyorot jalan keluar.

Senterku berkedip.

Dan saat cahaya stabil…

Ada seseorang berdiri di dasar tangga.

Bukan seseorang.

Ayah di lukisan itu.

Wajahnya gosong, tanpa mata, tanpa bibir, hanya lubang-lubang hitam, cairan gelap menetes seperti darah terbakar.

Dia mengangkat lengannya dan kuku-kuku hitam panjang tumbuh dari jari-jarinya.

Dia seperti menunggu kami jatuh.

Panjang, Sadis, Tanpa Ampun

Kami meloncat ke samping, memaksa melewati ruang tamu.

Tapi rumah itu tidak membiarkan kami.

Di lantai ruang tamu, darah tiba-tiba merembes keluar dari antara marmer, membentuk genangan, lalu mengalir mengikuti kami seperti sungai kecil.

Di dinding, bayangan keluarga itu bergerak sendiri berjalan lebih cepat daripada langkah kami.

Nino menoleh

Dan bayangan itu menjambaknya.

Nino terlempar menabrak cermin besar pecah.

Cermin pecah menampilkan pantulan… namun bukan kami.

Yang terlihat adalah:

  • Rafi dalam kondisi tersayat dari pundak ke perut
  • Desi dengan tulang betis mencuat keluar
  • Aku tanpa wajah
  • Dan bayangan keluarga itu berdiri bersama kami, melingkari kami seperti mangsa

Cermin itu berdarah…

Pada permukaannya, muncul tulisan seperti tergores kuku:

“KALIAN MAKAN MALAM BERSAMA KAMI.

SEKARANG GILIRAN KAMI”.

Pingsan, Pagi, dan Bukti Sadis yang Tertinggal

Aku tidak tahu bagaimana kami bisa keluar.

Yang kuingat hanya suara tulang patah, bau melati busuk, dan tangan-tangan kurus mencengkeram kakiku sebelum semuanya gelap.

Aku terbangun di luar rumah.

Rafi memeluk Desi yang pingsan dan berdarah.

Nino muntah-muntah sambil menangis.

Kamera hancur.

Rekaman hilang.

Baju kami robek-robek seperti dicabik sesuatu.

Makan Malam yang Tidak Pernah Selesai

Beberapa hari kemudian, mimpi itu datang.

Aku duduk di meja makan Rumah Darmo.

Meja panjang penuh piring tua. Bau amis menusuk seperti ruangan penuh bangkai.

Di seberangku, keluarga itu sekarang dalam bentuk lebih hancur, lebih terbakar, lebih sobek menatapku.

Sang anak kecil menyeringai, memperlihatkan giginya yang patah-patah.

Sang ibu mendekatkan wajahnya padaku.

Kulit pipinya melorot hingga memperlihatkan gusi dan otot.

Dia berbisik:

“Makan malam kami… tidak pernah selesai, Nak.”

“Dan kamu… sudah kami tandai.”

Ketika aku terbangun, di meja kamarku

ada potongan kain bajuku yang penuh darah kering.

Dan sendok tua berkarat.

Masih hangat.

Masih amis.

Dan masih… menunggu.

Penulis : Ris Tanto | Editor : Ivan


Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang

5 Februari 2026 - 15:55 WIB

Kutukan Tuyul Turunan: Kekayaan yang Dibayar dengan Nyawa Anak Sendiri

5 Februari 2026 - 15:40 WIB

Larangan Membuka Jendela di Kampung Bambu

29 Januari 2026 - 18:37 WIB

Cerita Horor di Tol Padalarang: Mereka yang Berdiri di Bahu Jalan

29 Januari 2026 - 18:21 WIB

MALAM JUMAT KLIWON: YANG BANGKIT DARI KUBUR TIDAK SELALU MAYIT

15 Januari 2026 - 15:55 WIB

Trending di Kolom Angker