PRABA INSIGHT- Di tengah hiruk-pikuk mahasiswa yang sering dianggap cuma jago demo dan debat kusir, Kongres HMI MPO ke-34 hadir sebagai pengingat bahwa kader mahasiswa Islam juga bisa serius, solid, dan sepakat dalam satu suara. Buktinya? Laode Muhammad Imran terpilih sebagai Ketua Umum PB HMI MPO periode 2025–2027 lewat jalur paling adem—aklamasi.
Kongres yang berlangsung dari 4–7 Agustus 2025 di Jakarta ini menghadirkan ratusan kader dari seluruh Indonesia. Bukan hanya ramai diskusi soal pergerakan, tapi juga momentum menyatukan barisan di tengah arus zaman yang makin absurd: dari krisis identitas sampai digitalisasi tanpa arah.
Di hadapan para kader, Laode menyampaikan pidato kemenangan yang tidak muluk-muluk tapi penuh energi. Ia menegaskan bahwa HMI MPO harus tetap menjadi benteng nilai-nilai keislaman dan kebangsaan, di tengah dunia yang makin cepat tapi kadang lupa arah.
“Terima kasih atas dukungan seluruh kader. InsyaAllah, bersama-sama kita akan terus mengawal cita-cita keumatan dan kebangsaan,” kata Laode, Rabu (6/8).
Laode tidak datang hanya bawa jas almamater. Ia datang bawa visi besar bernama HMI SETARA sebuah paket arah baru yang punya empat kaki kokoh:
- HMI Inklusif
- Fokus Kaderisasi
- Siap Bersinergi
- Transformasi Sosial-Digital
Buat Laode, urusan kaderisasi bukan basa-basi. Ia menjadikan itu agenda utama sekaligus akar kekuatan HMI di masa depan. Tak berhenti di situ, rencana membuka cabang baru dan menggencarkan kolaborasi lintas sektor juga jadi prioritas.
“HMI harus jadi organisasi yang terbuka, progresif, dan siap jalan bareng siapa pun yang punya semangat yang sama,” ujarnya mantap.
Kongres tahun ini bukan cuma soal siapa dapat jabatan. Tapi juga jadi forum penguatan gerakan mahasiswa Islam di era yang serba digital tapi sering kali kehilangan makna. Isu-isu penting seperti tantangan global, polarisasi politik, hingga disrupsi moral anak muda dibahas dari hulu ke hilir.
Kini, dengan Laode sebagai nahkoda, PB HMI MPO diharapkan bisa melahirkan kader-kader yang bukan hanya bisa orasi di jalanan, tapi juga piawai membaca data, bicara di ruang akademik, dan bergaul di ekosistem digital. Singkatnya, kader milenial yang nggak gagap zaman.(van)