Menu

Mode Gelap
Aturan TKDN Dilonggarkan Usai Perjanjian Dagang RI–AS, Harga iPhone Berpotensi Lebih Kompetitif Viral! Istri Prajurit di Cenderawasih Diduga Terlibat Selingkuh dengan 13 Anggota TNI AD Cekcok Biaya Motor yang Berujung Kematian: Tragisnya Nasib Siswi Nganjuk di Sungai Jilu PDIP Larang Kader Bisnis Dapur MBG, Guntur Romli: Ada Sanksi Berat! Eks Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin Wafat, Proses Hukum Otomatis Dihentikan Duar Maut di Situbondo! Ledakan Petasan Hancurkan Rumah, 2 Orang Tewas Termasuk Remaja 15 Tahun

Tech

Terungkap! Ini Alasan Internet RI Sering Lemot dan Mahal

badge-check


					JLM dan SSU teken proyek kabel bawah laut Rp 570 miliar melalui SSBS dan BTI-1 untuk memperkuat kecepatan, latensi rendah, dan kedaulatan internet Indonesia. Perbesar

JLM dan SSU teken proyek kabel bawah laut Rp 570 miliar melalui SSBS dan BTI-1 untuk memperkuat kecepatan, latensi rendah, dan kedaulatan internet Indonesia.

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kita semua pernah ada di fase ini: lagi Zoom penting, tiba-tiba muka freeze. Lagi upload kerjaan, progresnya mentok di 73% seolah hidup memang tak pernah benar-benar berpihak. Lalu kita menyalahkan WiFi, cuaca, bahkan takdir.

Padahal, problemnya bisa jadi lebih struktural dari sekadar router kepanasan.

Pada 28 Oktober 2025, PT Jala Lintas Media (JLM) dan PT Super Sistem Ultima (SSU) menandatangani kesepakatan infrastruktur digital senilai lebih dari US$ 36 juta (sekitar Rp 570 miliar). Angkanya mungkin bikin dahi berkerut, tapi dampaknya bisa terasa sampai ke notifikasi WhatsApp kamu.

Ada dua proyek besar yang disepakati. Pertama, kontrak komersial 1 fiber pair pada sistem kabel bawah laut Super Sistem Batam Singapore (SSBS) yang menghubungkan Batam dan Singapura. Kedua, Term Sheet 1 fiber pair untuk kabel bawah laut domestik BTI-1 yang membentang dari Batam–Jakarta–Manado, lengkap dengan cabang ke Gresik, Makassar, dan Balikpapan.

Kenapa Kita Sering Terasa “Numpang”?

Selama ini, konektivitas internet Indonesia ke luar negeri bisa dibilang mirip orang numpang lewat gang tetangga. Akses internasional sering kali bergantung pada jalur yang bukan sepenuhnya kita kuasai. Akibatnya? Kadang cepat, kadang macet, kadang mahal, kadang tiba-tiba error tanpa aba-aba.

Dengan memiliki penuh 1 fiber pair di sistem SSBS dan BTI-1, JLM punya kontrol langsung atas kapasitas, kualitas, dan keamanan data. Artinya, jalurnya dedicated. Ibaratnya bukan lagi pipa air umum yang dipakai satu kampung, tapi pipa khusus yang cuma kita yang pakai.

SSBS difokuskan sebagai jalur internasional berkecepatan tinggi dan latensi rendah. Latensi rendah itu bahasa sederhananya: jedanya minim. Klik sekarang, responnya nyaris real-time. Buat industri digital, finansial, gaming, sampai streaming, ini bukan sekadar detail teknis ini soal pengalaman pengguna.

BTI-1: Tulang Punggung dari Barat ke Timur

Kalau SSBS jadi gerbang internasional, BTI-1 adalah “jalan tol data” domestik. Kabel ini menghubungkan Batam sampai Manado, dengan percabangan ke kota-kota strategis seperti Gresik, Makassar, dan Balikpapan.

Selama ini, distribusi trafik data dari barat ke timur Indonesia belum selalu optimal. Dengan adanya BTI-1, arus data nasional diharapkan lebih stabil dan merata. Bukan cuma Jakarta yang kencang, sementara daerah lain harus sabar menatap loading bar.

Ini bukan sekadar proyek bisnis. Ini soal kedaulatan digital. Ketika jalur data dikuasai sendiri, risiko ketergantungan pada pihak asing bisa ditekan. Dalam konteks ekonomi digital yang makin agresif, ini langkah yang tak bisa dianggap remeh.

Jadi, Internet Kita Bakal Langsung Ngebut?

Tentu tak sesederhana pasang kabel lalu besoknya langsung 1 Gbps. Infrastruktur seperti ini butuh waktu pembangunan, integrasi, dan optimalisasi. Tapi arah kebijakannya jelas: memperkuat fondasi konektivitas nasional.

Kalau diibaratkan, ini seperti membangun jalan tol baru. Macetnya mungkin belum hilang hari ini, tapi setidaknya kita sedang berhenti jadi pengguna jalan tikus.

Dan mungkin, suatu hari nanti, kita tak perlu lagi menyalahkan hujan ketika Zoom mendadak patah-patah.

Editor : Irfan Ardhiyanto 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Aturan TKDN Dilonggarkan Usai Perjanjian Dagang RI–AS, Harga iPhone Berpotensi Lebih Kompetitif

27 Februari 2026 - 12:40 WIB

Charging Kilat ala BYD, Isi Daya Mobil Listrik Diklaim Setara Isi Bensin

25 Februari 2026 - 11:10 WIB

ROG Pegang Kendali PGL 2026: Dari Monitor 610Hz sampai PC Sultan Buat Atlet Esports

20 Februari 2026 - 11:46 WIB

ASUS ROG Bagi-Bagi Game Resident Evil Requiem Gratis, Cukup Beli Hardware Ini

4 Februari 2026 - 08:11 WIB

HP Tiba-Tiba Lemot Padahal Nggak Pernah Update, Ini Biang Keroknya

4 Februari 2026 - 08:02 WIB

Trending di Tech