Menu

Mode Gelap
Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring Tragis! Rumah Dijaminkan demi Tolong Orang, YAM Justru Dipenjara Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang Kutukan Tuyul Turunan: Kekayaan yang Dibayar dengan Nyawa Anak Sendiri Sebulan Jadi Brimob Palsu: Masuk Mako, Ikut Latihan, dan Pegang Senjata Ketahuan Gara-gara Minta Rokok

Internasional

32 Warga Tewas, Gencatan Senjata Gaza Resmi Jadi Lelucon Berdarah

badge-check


					Sebanyak 32 warga Palestina tewas dalam serangan udara Israel di Gaza, meski gencatan senjata fase dua diklaim berlaku. Bom tetap jatuh, warga sipil kembali jadi korban.(foto: AFP) Perbesar

Sebanyak 32 warga Palestina tewas dalam serangan udara Israel di Gaza, meski gencatan senjata fase dua diklaim berlaku. Bom tetap jatuh, warga sipil kembali jadi korban.(foto: AFP)

PRABAINSIGHT.COM – GAZA – Gencatan senjata di Gaza kembali membuktikan satu hal: ia lebih mirip janji kampanye daripada kesepakatan damai. Ada di atas kertas, dibicarakan di forum internasional, tapi hancur begitu saja saat bom pertama dijatuhkan.

Sabtu (31/1/2026), langit Gaza kembali dipenuhi suara ledakan. Serangan udara Israel menghantam apartemen warga, tenda-tenda pengungsian, hingga sebuah kantor polisi. Menurut otoritas setempat, sedikitnya 32 warga Palestina tewas dalam rentetan serangan yang menyapu sejumlah wilayah di Jalur Gaza.

Bagi warga Gaza, ini bukan sekadar serangan biasa. Mereka menyebutnya sebagai yang paling intens sejak fase kedua gencatan senjata mulai diberlakukan awal bulan ini. Artinya, kesepakatan damai yang katanya sudah masuk babak lanjutan itu, tampaknya tak lebih kuat dari dinding tenda pengungsian.

Salah satu lokasi yang dihantam adalah tempat penampungan Gath di sebelah barat Khan Yunis, Gaza selatan. Asap dan api membubung tinggi, menandai satu lagi tempat yang seharusnya aman, tapi justru jadi sasaran.

Militer Israel, seperti biasa, punya versi sendiri. Mereka mengonfirmasi serangan udara tersebut dan menyebutnya sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas sehari sebelumnya, Jumat (30/1/2026). Klaim dibalas klaim. Tuduhan dijawab tuduhan. Sementara warga sipil, lagi-lagi, kebagian bagian paling buruknya.

Di sisi lain, Hamas mengecam keras serangan Israel dan mendesak Amerika Serikat untuk segera turun tangan. Dalam pernyataannya, Hamas menyebut serangan ini sebagai pelanggaran berkelanjutan yang, menurut mereka, menjadi bukti bahwa pemerintah Israel terus melanjutkan apa yang mereka sebut sebagai genosida terhadap warga Palestina di Gaza.

Saling tuding sebenarnya sudah jadi menu harian sejak gencatan senjata diumumkan. Israel dan Hamas sama-sama mengklaim pihak lain lebih dulu melanggar kesepakatan. Namun, seperti biasa, tidak ada yang benar-benar membahas satu hal paling penting: berapa lagi warga sipil yang harus mati sebelum dunia merasa cukup?

Hingga awal Februari 2026, berdasarkan data Kementerian Kesehatan di Gaza, jumlah korban tewas telah mencapai 71.769 orang, mayoritas perempuan dan anak-anak. Sementara itu, lebih dari 171.483 orang mengalami luka-luka. Angka-angka ini terus bertambah, bahkan saat kata “gencatan senjata” masih rutin diucapkan para pejabat.

Di puing-puing kantor polisi Sheikh Radwan, Kota Gaza, tim penyelamat mengangkat jenazah dari reruntuhan. Pemandangan yang kini begitu lazim, sampai-sampai dunia internasional tampak kehabisan kata, tapi belum kehabisan alasan.

Gaza kembali dibombardir. Gencatan senjata kembali dipertanyakan. Dan nyawa warga sipil, sekali lagi, tetap jadi variabel yang paling mudah diabaikan.(Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Heboh! Perempuan Turki Ngaku Anak Kandung Donald Trump, Tantang Tes DNA

4 Februari 2026 - 15:43 WIB

Baru Tiga Bulan Menjabat, PM Jepang Sudah Membubarkan DPR dan Menantang Pemilu

28 Januari 2026 - 14:05 WIB

Qatar Tegaskan AS Tak Berhak Mengatur Kawasan Teluk Meski Miliki Pangkalan Militer

22 Januari 2026 - 05:52 WIB

Kisah Mpok Pipit, ART Indonesia di Rumah Cristiano Ronaldo dengan Gaji Fantastis

2 Januari 2026 - 10:21 WIB

NATO Baca Sinyal Bahaya: Taiwan Bergejolak, Eropa Terancam Eskalasi Rusia

31 Desember 2025 - 10:33 WIB

Trending di Internasional