Menu

Breaking News

News

Mahasiswa Sandera Intel Polisi: Ketika Demokrasi Disulap Jadi Ajang Persekusi ala Preman Pasar

badge-check

Ketua Gerakan Pemerhati Kepolisian (GPK) Abdullah Kelrey bahkan menyebut aksi tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap semangat demokrasi. (Foto: Ist) Perbesar

Ketua Gerakan Pemerhati Kepolisian (GPK) Abdullah Kelrey bahkan menyebut aksi tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap semangat demokrasi. (Foto: Ist)

PRABA INSIGHT-May Day, yang seharusnya jadi panggung solidaritas dan perjuangan kelas pekerja, malah berubah jadi drama penyanderaan intel polisi oleh mahasiswa di Semarang. Bukannya orasi, yang terjadi malah aksi intimidasi. Bukan lawan oligarki, yang diserang justru sesama rakyat sipil berpakaian preman.

Dalam video yang diunggah akun Instagram @aliansimahasiswapenggugat, terlihat seorang pria berbaju hitam dikerubungi dan diinterogasi secara agresif oleh sekelompok mahasiswa.

Pria itu disebut-sebut sebagai anggota intel kepolisian yang sedang bertugas memantau aksi.

Tak butuh waktu lama, adegan “main hakim sendiri” ini langsung panen kecaman. Gerakan Pemerhati Kepolisian (GPK) bahkan menyebut aksi tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap semangat demokrasi.

“Ini sudah bukan lagi demonstrasi, tapi demonstrasi kebringasan,” tegas Abdullah Kelrey, Ketua GPK. Ia menambahkan bahwa intel polisi bukan musuh rakyat, tapi bagian dari sistem keamanan yang justru mengawal jalannya demonstrasi agar tetap aman dan kondusif.

Kelrey juga menggarisbawahi bahwa penyanderaan terhadap aparat negara, siapa pun itu, merupakan tindakan melanggar hukum dan tidak bisa dibenarkan, apalagi dibungkus dengan narasi “perlawanan”.

Yang bikin dahi makin berkerut, dalam video tersebut terdengar suara mahasiswa yang menyuruh kawannya pakai masker supaya wajahnya tidak dikenali. Bukan karena takut COVID-19, tapi lebih mirip gaya film-film perampokan. Si intel pun sempat dicap “pengkhianat gerakan”, meskipun tidak ada bukti bahwa dia melakukan provokasi.

“Kalau gerakan mahasiswa berubah menjadi eksekutor persekusi, lalu di mana letak intelektualitasnya? Jangan-jangan yang dibela cuma ego, bukan rakyat,” sindir Kelrey.

Ia menegaskan bahwa peristiwa ini harus jadi tamparan keras bagi aktivisme mahasiswa.

Demokrasi itu soal adu gagasan, bukan adu jotos. Kalau aparat negara disandera hanya karena mencurigakan, lalu apa bedanya dengan aparat yang main tangkap?

Alih-alih membawa semangat perubahan, aksi tersebut justru jadi contoh betapa mudahnya idealisme berubah menjadi kekerasan massal yang tak beradab. “Bukan lagi reformasi, tapi deformasi,” tutup Kelrey.


Penulis : Ristanto 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

KRI Sriwijaya-100 Resmi Dikukuhkan, Kapal Induk Pertama TNI AL Siap Perkuat Operasi Laut

24 Sep 2026 - 17:48 WIB

KRI Sriwijaya-100 Resmi Dikukuhkan, Kapal Induk Pertama TNI AL Siap Perkuat Operasi Laut

Perjuangan Machi Achmad Dampingi Ruben Onsu Berbuah Hasil, Kasus Resmi Dihentikan

23 Sep 2026 - 23:27 WIB

Perjuangan Machi Achmad Dampingi Ruben Onsu Berbuah Hasil, Kasus Resmi Dihentikan

Kapolres Jakut Ajak Wartawan dan Pegiat Media Sosial Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

23 Sep 2026 - 21:51 WIB

Kapolres Jakut Ajak Wartawan dan Pegiat Media Sosial Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

Keren! Pelajar SD asal Cikarang Unjuk Gigi di Festival Anak Indonesia 2026

23 Sep 2026 - 19:44 WIB

Keren! Pelajar SD asal Cikarang Unjuk Gigi di Festival Anak Indonesia 2026

Nofel Saleh Hilabi Buka Suara soal Pernikahan Amanda Rigby dan Andre Taulany, Ungkap Pernah Tunangan

23 Sep 2026 - 18:53 WIB

Nofel Saleh Hilabi Buka Suara soal Pernikahan Amanda Rigby dan Andre Taulany, Ungkap Pernah Tunangan
Trending di News