Menu

Mode Gelap
Ngopi Nggak Harus Serius: MILKLAB Ajak Coffee Lovers Keliling Kafe sambil Joget dan Berburu Hadiah Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD Iran Belum Buka Selat Hormuz, Ajukan 5 Syarat ke AS: Sanksi hingga Ganti Rugi Perang Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan

News

Mahasiswa Sandera Intel Polisi: Ketika Demokrasi Disulap Jadi Ajang Persekusi ala Preman Pasar

badge-check

Ketua Gerakan Pemerhati Kepolisian (GPK) Abdullah Kelrey bahkan menyebut aksi tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap semangat demokrasi. (Foto: Ist) Perbesar

Ketua Gerakan Pemerhati Kepolisian (GPK) Abdullah Kelrey bahkan menyebut aksi tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap semangat demokrasi. (Foto: Ist)

PRABA INSIGHT-May Day, yang seharusnya jadi panggung solidaritas dan perjuangan kelas pekerja, malah berubah jadi drama penyanderaan intel polisi oleh mahasiswa di Semarang. Bukannya orasi, yang terjadi malah aksi intimidasi. Bukan lawan oligarki, yang diserang justru sesama rakyat sipil berpakaian preman.

Dalam video yang diunggah akun Instagram @aliansimahasiswapenggugat, terlihat seorang pria berbaju hitam dikerubungi dan diinterogasi secara agresif oleh sekelompok mahasiswa.

Pria itu disebut-sebut sebagai anggota intel kepolisian yang sedang bertugas memantau aksi.

Tak butuh waktu lama, adegan “main hakim sendiri” ini langsung panen kecaman. Gerakan Pemerhati Kepolisian (GPK) bahkan menyebut aksi tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap semangat demokrasi.

“Ini sudah bukan lagi demonstrasi, tapi demonstrasi kebringasan,” tegas Abdullah Kelrey, Ketua GPK. Ia menambahkan bahwa intel polisi bukan musuh rakyat, tapi bagian dari sistem keamanan yang justru mengawal jalannya demonstrasi agar tetap aman dan kondusif.

Kelrey juga menggarisbawahi bahwa penyanderaan terhadap aparat negara, siapa pun itu, merupakan tindakan melanggar hukum dan tidak bisa dibenarkan, apalagi dibungkus dengan narasi “perlawanan”.

Yang bikin dahi makin berkerut, dalam video tersebut terdengar suara mahasiswa yang menyuruh kawannya pakai masker supaya wajahnya tidak dikenali. Bukan karena takut COVID-19, tapi lebih mirip gaya film-film perampokan. Si intel pun sempat dicap “pengkhianat gerakan”, meskipun tidak ada bukti bahwa dia melakukan provokasi.

“Kalau gerakan mahasiswa berubah menjadi eksekutor persekusi, lalu di mana letak intelektualitasnya? Jangan-jangan yang dibela cuma ego, bukan rakyat,” sindir Kelrey.

Ia menegaskan bahwa peristiwa ini harus jadi tamparan keras bagi aktivisme mahasiswa.

Demokrasi itu soal adu gagasan, bukan adu jotos. Kalau aparat negara disandera hanya karena mencurigakan, lalu apa bedanya dengan aparat yang main tangkap?

Alih-alih membawa semangat perubahan, aksi tersebut justru jadi contoh betapa mudahnya idealisme berubah menjadi kekerasan massal yang tak beradab. “Bukan lagi reformasi, tapi deformasi,” tutup Kelrey.


Penulis : Ristanto 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD

10 Agustus 2026 - 10:16

Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan

8 Agustus 2026 - 14:04

Diduga Provokasi Pedagang Pasar Baru Bekasi, Oknum W Dilaporkan ke Polisi

7 Agustus 2026 - 16:54

Dituduh Pakai Rekening Pribadi, Pengacara MSB Buka Suara Perihal Kasus Perumda Tirta Bhagasasi

5 Agustus 2026 - 17:05

Sandri Rumanama: Isu Surpres Pergantian Kapolri Ramai Lagi, Padahal Dasarnya Saja Belum Kelihatan

5 Agustus 2026 - 11:45

Trending di Nasional