Menu

Mode Gelap
Haji Kilat Tanpa Antre? Ujung-ujungnya Malah Kena Polri, Modus Visa Kerja Terbongkar 17 Korban Kecelakaan KRL Bekasi Timur Masih Dirawat, 3 Jalani Operasi dan 2 Dirujuk karena Kondisi Kritis Fakta Mengejutkan Tom Ogle: Tolak Tawaran Miliaran, Temukan Mobil Irit, Lalu Tewas Misterius Susi Pudjiastuti Resmi Jadi Komisaris Utama Bank BJB, Target Utama: Sikat Pinjol Ilegal di Jabar “Teror Sungai Musi 1987: Yang Tenggelam Tidak Pernah Pergi” Pilu, Tabrakan KA Bekasi Timur Renggut 15 Nyawa, Termasuk Seorang Jurnalis Perempuan

Ekonomi

“Renald Kasali untuk BIN: Solusi dari Akademisi, Bukan dari Alumni Koalisi”

badge-check


					Jabatan strategis makin ramai dicatut politisi, tapi NIC lewat Abdullah Kelrey punya ide segar: Renald Kasali saja yang pimpin DAS BIN.(Foto: Istimewa) Perbesar

Jabatan strategis makin ramai dicatut politisi, tapi NIC lewat Abdullah Kelrey punya ide segar: Renald Kasali saja yang pimpin DAS BIN.(Foto: Istimewa)

PRABA INSIGHT- Di tengah aroma perebutan jabatan strategis yang makin kental dengan bumbu politik balas jasa, satu suara waras terdengar dari arah Timur. Abdullah Kelrey, pendiri Nusa Ina Connection (NIC), tiba-tiba angkat suara: “Kenapa gak Renald Kasali aja yang jadi Ketua Dewan Analisis Strategis (DAS) BIN?”

Sontak, usulan itu jadi seperti semilir angin di tengah ruangan rapat yang penuh asap ego.

Renald Kasali, bagi yang belum tahu (mungkin karena hidupnya terlalu fokus nonton sinetron politik), adalah profesor manajemen dari Universitas Indonesia. Pendiri Rumah Perubahan, penulis buku laris, dan akademisi yang lebih sibuk ngajar berpikir daripada rebutan kursi. Dengan kata lain: bukan orang partai, bukan timses, dan gak punya warisan proyek dari kekuasaan.

Kelrey menegaskan, kalau DAS sampai diisi oleh politisi, ya wassalam. BIN bisa-bisa berubah jadi grup WA elite politik yang isinya cuma update siapa yang harus dibungkam minggu ini.

“Ketua DAS itu harus bersih dari kepentingan. Profesional, netral, dan bisa mikir jauh ke depan. Bukan orang yang mikir pemilu 2029 mulu,” tegas Kelrey, seperti sedang menegur sambil nyindir.

Biar BIN Gak Jadi Taman Kanak-kanak Oligarki

Dewan Analisis Strategis di BIN ini bukan job buat numpang lewat atau ajang balas budi. Ini tempat merancang masa depan negara, dari ancaman siber sampai disinformasi global. Kalau isinya cuma loyalis kekuasaan, ya strategi negara bisa-bisa disusun pakai polling TikTok.

Renald Kasali dianggap cocok karena bisa melihat tren, memahami krisis, dan berpikir dingin tanpa harus ditelpon elit tiap sore.

“Kalau masih ngasih jabatan ke orang partai, ya jangan salahin publik kalau mulai mikir BIN itu singkatan dari Barisan Inti Ngegas buat kepentingan politik,” kata Kelrey sambil nyengir.

Lebih jauh, Kelrey mengingatkan Presiden Prabowo agar tidak mengulang kesalahan klasik: isi semua kursi dengan orang dari lingkaran sendiri. Negara ini butuh keberanian untuk mempercayakan posisi penting pada orang yang gak bisa dibisiki, gak bisa dikendalikan, tapi bisa berpikir tajam dan independen. (Van)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

PPN Jalan Tol Kembali Muncul, DJP Siapkan Pajak Baru di Tengah Target Ribuan Kilometer Tol

22 April 2026 - 20:23

Purbaya Ungkap Momen Tolak Pinjaman Rp500 Triliun: “Mereka Sampai Cemberut”

22 April 2026 - 19:55

Menggugat Sistem Global, Haidar Alwi Dorong Emas Rakyat Jadi Pilar Kedaulatan Ekonomi RI

21 April 2026 - 12:07

Di Balik Konflik Kerajaan, Ini Permintaan Terakhir Ratu Elizabeth II yang Bikin Haru

8 April 2026 - 18:29

Istana Pastikan Harga BBM Tak Naik per 1 April 2026, Ini Penjelasannya

31 Maret 2026 - 17:34

Trending di Ekonomi