Menu

Mode Gelap
GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK Ngopi Nggak Harus Serius: MILKLAB Ajak Coffee Lovers Keliling Kafe sambil Joget dan Berburu Hadiah Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD Iran Belum Buka Selat Hormuz, Ajukan 5 Syarat ke AS: Sanksi hingga Ganti Rugi Perang

Ekonomi

Purbaya Ungkap Momen Tolak Pinjaman Rp500 Triliun: “Mereka Sampai Cemberut”

badge-check

Indonesia menolak tawaran pinjaman IMF dan Bank Dunia senilai Rp500 triliun karena kondisi fiskal masih kuat dengan SAL mencapai Rp420 triliun.(Istimewa) Perbesar

Indonesia menolak tawaran pinjaman IMF dan Bank Dunia senilai Rp500 triliun karena kondisi fiskal masih kuat dengan SAL mencapai Rp420 triliun.(Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kalau biasanya utang luar negeri datang seperti tamu tak diundang tiba-tiba sudah duduk manis di ruang tamu kali ini ceritanya agak beda. Indonesia justru ditawari pinjaman, tapi memilih untuk bilang, “terima kasih, tapi lagi nggak butuh.”

Adalah Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menceritakan momen cukup langka ini. Dalam kunjungannya ke Washington DC pada 13–17 April 2026, ia mendapat tawaran pinjaman jumbo dari dua “bank besar dunia”, yakni International Monetary Fund dan World Bank.

Nilainya nggak main-main: US$25–30 miliar, atau kalau dirupiahkan sekitar Rp420–500 triliun. Angka yang biasanya bikin negara berkembang mikir dua kali antara tergoda atau langsung pusing.

Tapi kali ini, responsnya justru santai.

Purbaya menilai kondisi fiskal Indonesia masih cukup kuat untuk berdiri di kaki sendiri. Negara ini, kata dia, masih punya “tabungan” yang lumayan tebal dari Saldo Anggaran Lebih (SAL), yang jumlahnya sekitar Rp420 triliun.

Dengan bantalan sebesar itu, Indonesia belum merasa perlu menambah utang baru, apalagi dari lembaga internasional.

Dan seperti gaya Mojok yang sering menangkap sisi manusiawi pejabat, ada satu bagian cerita yang cukup menggelitik. Purbaya bahkan menggambarkan ekspresi pihak pemberi pinjaman yang tampak kecewa.

“US$ 25-30 miliar kalau kamu mau pakai boleh, katanya. Saya bilang sama dia, sekarang saya belum butuh karena saya sendiri punya persediaan hampir US$ 25 miliar untuk negara kita sendiri, jadi aman. Wah mukanya asem karena dia nggak bisa minjemin duit, nggak bisa dapat bunga mereka tuh,” ucap Purbaya, Selasa (21/4/2026).

Di tengah kebiasaan negara-negara yang sering ‘kepepet lalu pinjam’, keputusan ini terasa seperti momen langka: ketika Indonesia bisa bilang “cukup dulu”, tanpa harus menggadaikan masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial

10 Agustus 2026 - 10:27

Isu Kapolri Diganti Keburu Berlari, Istana Malah Bilang: Surpresnya Saja Belum Ada

7 Agustus 2026 - 18:14

Pasien BPJS Meninggal, Deretan Dokter yang Sempat Mencibir Kini Ramai-Ramai Minta Maaf

7 Agustus 2026 - 17:48

JakOne Mobile Bikin Bank Jakarta Panen Penghargaan, Bukti Transformasi Digital Bukan Sekadar Gimmick

4 Agustus 2026 - 11:11

Pemerintah Resmi Ubah Status Ojol Jadi Pelaku UMKM, Perpres Masuki Tahap Final

21 Juli 2026 - 18:33

Trending di Ekonomi