Menu

Mode Gelap
“Teror Sungai Musi 1987: Yang Tenggelam Tidak Pernah Pergi” Pilu, Tabrakan KA Bekasi Timur Renggut 15 Nyawa, Termasuk Seorang Jurnalis Perempuan Daftar Lengkap Korban Bekasi Timur: 84 Luka, 14 Meninggal, Usia 21–63 Tahun dan Tersebar di 11 RS Sopir Taksi Beberkan Detik-detik Setir Ngunci di Rel Bekasi Timur hingga Picu Tabrakan Kereta BP Danantara Pastikan Jasa Raharja Tanggung Biaya Perawatan, KAI Beri Kompensasi Korban Kecelakaan Bekasi Timur Kisah Skandal Sum Kuning: Dari Korban Jadi Tersangka, Saat Hukum Tunduk pada Kuasa

Ekonomi

Purbaya Ungkap Momen Tolak Pinjaman Rp500 Triliun: “Mereka Sampai Cemberut”

badge-check


					Indonesia menolak tawaran pinjaman IMF dan Bank Dunia senilai Rp500 triliun karena kondisi fiskal masih kuat dengan SAL mencapai Rp420 triliun.(Istimewa) Perbesar

Indonesia menolak tawaran pinjaman IMF dan Bank Dunia senilai Rp500 triliun karena kondisi fiskal masih kuat dengan SAL mencapai Rp420 triliun.(Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kalau biasanya utang luar negeri datang seperti tamu tak diundang tiba-tiba sudah duduk manis di ruang tamu kali ini ceritanya agak beda. Indonesia justru ditawari pinjaman, tapi memilih untuk bilang, “terima kasih, tapi lagi nggak butuh.”

Adalah Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menceritakan momen cukup langka ini. Dalam kunjungannya ke Washington DC pada 13–17 April 2026, ia mendapat tawaran pinjaman jumbo dari dua “bank besar dunia”, yakni International Monetary Fund dan World Bank.

Nilainya nggak main-main: US$25–30 miliar, atau kalau dirupiahkan sekitar Rp420–500 triliun. Angka yang biasanya bikin negara berkembang mikir dua kali antara tergoda atau langsung pusing.

Tapi kali ini, responsnya justru santai.

Purbaya menilai kondisi fiskal Indonesia masih cukup kuat untuk berdiri di kaki sendiri. Negara ini, kata dia, masih punya “tabungan” yang lumayan tebal dari Saldo Anggaran Lebih (SAL), yang jumlahnya sekitar Rp420 triliun.

Dengan bantalan sebesar itu, Indonesia belum merasa perlu menambah utang baru, apalagi dari lembaga internasional.

Dan seperti gaya Mojok yang sering menangkap sisi manusiawi pejabat, ada satu bagian cerita yang cukup menggelitik. Purbaya bahkan menggambarkan ekspresi pihak pemberi pinjaman yang tampak kecewa.

“US$ 25-30 miliar kalau kamu mau pakai boleh, katanya. Saya bilang sama dia, sekarang saya belum butuh karena saya sendiri punya persediaan hampir US$ 25 miliar untuk negara kita sendiri, jadi aman. Wah mukanya asem karena dia nggak bisa minjemin duit, nggak bisa dapat bunga mereka tuh,” ucap Purbaya, Selasa (21/4/2026).

Di tengah kebiasaan negara-negara yang sering ‘kepepet lalu pinjam’, keputusan ini terasa seperti momen langka: ketika Indonesia bisa bilang “cukup dulu”, tanpa harus menggadaikan masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

PPN Jalan Tol Kembali Muncul, DJP Siapkan Pajak Baru di Tengah Target Ribuan Kilometer Tol

22 April 2026 - 20:23

Menggugat Sistem Global, Haidar Alwi Dorong Emas Rakyat Jadi Pilar Kedaulatan Ekonomi RI

21 April 2026 - 12:07

Di Balik Konflik Kerajaan, Ini Permintaan Terakhir Ratu Elizabeth II yang Bikin Haru

8 April 2026 - 18:29

Istana Pastikan Harga BBM Tak Naik per 1 April 2026, Ini Penjelasannya

31 Maret 2026 - 17:34

RI Cari Sumber Minyak Baru di Tengah Krisis Hormuz, Bahlil: Jangan Tanya dari Mana

27 Maret 2026 - 09:05

Trending di Ekonomi