Menu

Mode Gelap
Swarm Lepas “Amayadori”, Lagu Tentang Berdamai dengan Hidup Setelah Dihantam Badai Kesalahan Polemik Konten LGBTIQ SUMA UI Memanas, Universitas Indonesia Tegaskan Itu Bukan Sikap Resmi Kampus Kenalan dari Dating App Berujung Apes, HP dan iPad Milik Wanita 19 Tahun Digondol Pria 37 Tahun Rumah Indofood di Jakarta Fair 2026 Bukan Sekadar Tempat Belanja, Ada Duel Masak Aldi Taher hingga Mabar E-sports Ketum DPP GMNI Muhamad Risyad: Mahasiswa Harus Kritis, Jangan Terjebak Provokasi Komisaris PT YAT Jadi Tersangka, Kejagung Ungkap Dugaan Markup Motor Listrik MBG Rp1 Triliun

Ekonomi

Purbaya Ungkap Momen Tolak Pinjaman Rp500 Triliun: “Mereka Sampai Cemberut”

badge-check


					Indonesia menolak tawaran pinjaman IMF dan Bank Dunia senilai Rp500 triliun karena kondisi fiskal masih kuat dengan SAL mencapai Rp420 triliun.(Istimewa) Perbesar

Indonesia menolak tawaran pinjaman IMF dan Bank Dunia senilai Rp500 triliun karena kondisi fiskal masih kuat dengan SAL mencapai Rp420 triliun.(Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kalau biasanya utang luar negeri datang seperti tamu tak diundang tiba-tiba sudah duduk manis di ruang tamu kali ini ceritanya agak beda. Indonesia justru ditawari pinjaman, tapi memilih untuk bilang, “terima kasih, tapi lagi nggak butuh.”

Adalah Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menceritakan momen cukup langka ini. Dalam kunjungannya ke Washington DC pada 13–17 April 2026, ia mendapat tawaran pinjaman jumbo dari dua “bank besar dunia”, yakni International Monetary Fund dan World Bank.

Nilainya nggak main-main: US$25–30 miliar, atau kalau dirupiahkan sekitar Rp420–500 triliun. Angka yang biasanya bikin negara berkembang mikir dua kali antara tergoda atau langsung pusing.

Tapi kali ini, responsnya justru santai.

Purbaya menilai kondisi fiskal Indonesia masih cukup kuat untuk berdiri di kaki sendiri. Negara ini, kata dia, masih punya “tabungan” yang lumayan tebal dari Saldo Anggaran Lebih (SAL), yang jumlahnya sekitar Rp420 triliun.

Dengan bantalan sebesar itu, Indonesia belum merasa perlu menambah utang baru, apalagi dari lembaga internasional.

Dan seperti gaya Mojok yang sering menangkap sisi manusiawi pejabat, ada satu bagian cerita yang cukup menggelitik. Purbaya bahkan menggambarkan ekspresi pihak pemberi pinjaman yang tampak kecewa.

“US$ 25-30 miliar kalau kamu mau pakai boleh, katanya. Saya bilang sama dia, sekarang saya belum butuh karena saya sendiri punya persediaan hampir US$ 25 miliar untuk negara kita sendiri, jadi aman. Wah mukanya asem karena dia nggak bisa minjemin duit, nggak bisa dapat bunga mereka tuh,” ucap Purbaya, Selasa (21/4/2026).

Di tengah kebiasaan negara-negara yang sering ‘kepepet lalu pinjam’, keputusan ini terasa seperti momen langka: ketika Indonesia bisa bilang “cukup dulu”, tanpa harus menggadaikan masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Sandri Rumanama Minta Pemerintah Berani Naikkan BBM

1 Juni 2026 - 16:03

Beli Saham GoTo Saja Nggak Cukup, Negara Harus Ikut Kelola Bisnis Ojol

30 Mei 2026 - 14:19

Whoosh Ngebut di Rel, Utangnya ke Telkomsel Malah Mandek Rp298 Miliar

22 Mei 2026 - 19:14

ICE BSD Mau Disulap Jadi “Pasar Besar Asia”, dari Mesin Industri sampai Tiket Gratis ke Guangzhou

20 Mei 2026 - 13:39

Polda Papua Selatan dan Papua Pegunungan Dinilai Mendesak, Sandri Rumanama: Rakyat Butuh Kepastian Keamanan

10 Mei 2026 - 00:25

Trending di Ekonomi