Menu

Mode Gelap
Jokowi Turun Gunung demi PSI. Lampung Jadi Etape Pertama, Mesin Politik Sedang Dipanaskan Kepercayaan Publik ke Polri Naik, Sandri Rumanama Bilang Perubahan Itu Nyata 82,4 Persen Publik Masih Percaya Polri. Barangkali, Ini Memang Bukan Cuma Soal Angka Telepon dari Gerbong Wanita Bekasi Timur Dari Gedung KPK ke Kementerian Koperasi, Mahasiswa Memburu Jawaban atas Anggaran Rp59 Triliun Ramai Program MBG, Pelajar Sumsel Justru Soroti Hal yang Jarang Dibahas

News

Haidar Alwi: Kapolri Listyo Sigit Ubah Polri Jadi “Teman Kerja” Rakyat di Tengah Badai PHK

badge-check


					Kapolri Listyo Sigit ubah wajah Polri lewat Desk Ketenagakerjaan. Ribuan buruh korban PHK kembali bekerja, Haidar Alwi sebut terobosan bersejarah.(Foto :istimewa) Perbesar

Kapolri Listyo Sigit ubah wajah Polri lewat Desk Ketenagakerjaan. Ribuan buruh korban PHK kembali bekerja, Haidar Alwi sebut terobosan bersejarah.(Foto :istimewa)

PRABA INSIGHT- Gelombang PHK massal yang bikin jutaan buruh terancam masa depannya, muncul aktor tak terduga: Polri. Ya, institusi yang biasanya kita kenal sibuk urus tilang, razia malam, dan jaga demo, kini turun gelanggang jadi “teman kerja” rakyat.

Pendiri Haidar Alwi Care sekaligus Haidar Alwi Institute, R. Haidar Alwi, menilai gebrakan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melalui Desk Ketenagakerjaan adalah contoh nyata bagaimana polisi bisa melampaui tugas formalnya. “Bukan cuma jaga jalanan, tapi juga jaga dapur rakyat tetap ngebul,” begitu kira-kira terjemahan bebasnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat per Februari 2025 ada 7,28 juta orang menganggur, atau 4,76 persen dari total angkatan kerja. Angka ini bukan sekadar statistik kering—itu artinya jutaan keluarga dipaksa hidup dengan ketidakpastian. Nah, Polri mencoba hadir dengan cara berbeda.

Polisi Jadi “Biro Tenaga Kerja” Dadakan

Lewat Desk Ketenagakerjaan yang dibentuk Januari 2025, Polri tak hanya bicara soal hukum, tapi juga lapangan kerja. Hasilnya? Pada 12 Juni 2025, Kapolri resmi melepas 700 buruh korban PHK kembali bekerja di perusahaan baru di Brebes. Lanjut lagi, 23 Juli 2025, ada 1.575 buruh difasilitasi masuk ke empat perusahaan besar di Brebes dan Cirebon. Dan bukan sekadar kontrak coba-coba, melainkan langsung jadi pegawai tetap.

Menurut Haidar, kebijakan ini bukan sekadar program administratif. Ada wajah humanis di baliknya: Polri Presisi hadir langsung di tengah keresahan buruh.

Target 12 Ribu Pekerja, 72 Ribu dalam 1,5 Tahun

Ambisinya pun nggak main-main. Target awal: 12 ribu buruh kembali bekerja sebelum akhir 2025, dan proyeksi 72 ribu dalam 18 bulan ke depan. Kalau ini tercapai, Polri tak hanya tercatat sebagai penegak hukum, tapi juga “pengurang pengangguran” yang kontribusinya bisa diukur pakai data.

Dunia pun melirik. International Trade Union Confederation (ITUC) sampai kasih penghargaan ke Polri—sebagai institusi pertama di dunia yang bikin desk khusus ketenagakerjaan. Dan itu bukan sekadar plakat kosong. Ribuan buruh sudah kembali tersenyum, bahkan sempat dilepas secara massal di Lapangan Bhayangkara, Mabes Polri.

Dari Aparat ke Mitra Sosial

Haidar menekankan, Desk Ketenagakerjaan adalah bentuk konkret dari prinsip Presisi: prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan. Polri membaca keresahan sosial akibat PHK massal, lalu mengambil tanggung jawab menghadirkan solusi, dan melaksanakannya secara terbuka dengan dunia industri.

Hasilnya, citra Polri yang selama ini identik dengan pendekatan koersif berubah drastis. Polisi kini dipersepsikan bukan cuma soal patroli jalanan, tapi juga soal stabilitas dapur keluarga buruh.

“Terobosan ini menandai wajah baru Polri yang semakin humanis dan solutif, sekaligus jadi mitra rakyat menghadapi krisis ketenagakerjaan,” ujar Haidar Alwi.

Listyo Sigit, Kapolri “Versi HRD”

Menurut Haidar, keberhasilan ini tidak mungkin lepas dari kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit. Banyak kebijakan publik biasanya berhenti jadi wacana, tapi kali ini beda: ide Kapolri diterjemahkan jadi program konkret yang menyentuh ribuan keluarga.

Bagi buruh, polisi kini bukan cuma soal rasa aman di jalan, tapi juga rasa aman di rumah karena ada pemasukan bulanan. Simboliknya jelas: Polri tak lagi hanya identik dengan “alat negara”, melainkan benar-benar jadi “mitra rakyat”.

“Dengan capaian ini, saya menilai Jenderal Listyo Sigit Prabowo layak disebut Kapolri terbaik sepanjang masa versi Haidar Alwi Institute,” pungkas Haidar.(van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

82,4 Persen Publik Masih Percaya Polri. Barangkali, Ini Memang Bukan Cuma Soal Angka

26 Juni 2026 - 14:28

Dari Gedung KPK ke Kementerian Koperasi, Mahasiswa Memburu Jawaban atas Anggaran Rp59 Triliun

25 Juni 2026 - 19:13

Ramai Program MBG, Pelajar Sumsel Justru Soroti Hal yang Jarang Dibahas

23 Juni 2026 - 21:03

Waduh! Pasien Puskesmas Rawa Tembaga Diduga Terima Obat Kedaluwarsa, Dinkes Kota Bekasi Turun Tangan!

23 Juni 2026 - 12:16

Kapolri Angkat Tangan soal Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan dr Tifa: “Sudah Bukan Kewenangan Polri”

23 Juni 2026 - 11:26

Trending di Nasional