Menu

Mode Gelap
Blak-blakan! Sandri Rumanama Soroti Kesenjangan Maluku di Halal Bihalal Pemuda Timur Garuda Menggila di GBK! Indonesia Hajar Saint Kitts 4-0, Beckham Putra Jadi Bintang Gaduh Tahanan Yaqut, KPK Minta Maaf: Asep Sebut Kekecewaan Publik Adalah Dukungan RI Cari Sumber Minyak Baru di Tengah Krisis Hormuz, Bahlil: Jangan Tanya dari Mana Abdullah Kelrey Tantang KPK, Desak Pemeriksaan Puan Maharani dan Hapsoro Mobil Setan: Penumpang yang Tak Pernah Turun

Ekonomi

Menkeu Purbaya Tegas: Utang Kereta Cepat Itu Urusan BUMN, Bukan APBN

badge-check


					Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan APBN tidak akan menanggung utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung, sementara Danantara mencari opsi penyelesaian finansial.(foto:Istimewa) Perbesar

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan APBN tidak akan menanggung utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung, sementara Danantara mencari opsi penyelesaian finansial.(foto:Istimewa)

PRABAINSIGHT – JAKARTA – Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) lagi-lagi bikin ramai. Masalahnya klasik: siapa yang bakal bayar utangnya? Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa punya jawaban tegas: APBN nggak ikut campur.

Menurut Purbaya, tanggung jawab kini berada di tangan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), alias holding BUMN yang menaungi PT KCIC. Dari dividen BUMN yang mereka kelola, seharusnya utang proyek bisa ditangani sendiri.

“Kan KCIC di bawah Danantara, kan? Mereka sudah punya manajemen sendiri, sudah punya dividen sendiri yang rata-rata setahun bisa Rp80 triliun atau lebih. Harusnya mereka manage dari situ, jangan ke kita lagi, karena kalau enggak, ya semuanya ke kita lagi, termasuk dividennya,” kata Purbaya dalam Media Gathering di Bogor, Jumat (10/10/2025).

Sebelumnya, dividen BUMN masuk ke PNBP Kemenkeu, tapi sekarang langsung dikelola Danantara. Jadi wajar kalau APBN tidak ikut menanggung utang Whoosh.

“Jadi ini kan mau dipisahin swasta sama government, ya jangan kalau enak swasta, kalau nggak enak government, saya pikir begitu,” tegas Purbaya.

Meski begitu, Purbaya bilang dia belum diajak ngobrol langsung soal rencana APBN menanggung utang.

“Saya belum dihubungi untuk masalah itu sih. Nanti begitu ada, saya kasih tau updatenya seperti apa,” ujarnya.

Dua Skema Utang Whoosh

Di sisi lain, COO Danantara, Dony Oskaria, bilang mereka sudah menyiapkan dua opsi buat menata ulang utang Kereta Cepat.

Opsi pertama: tambahkan modal baru ke PT Kereta Api Indonesia (Persero) alias equity injection, biar perusahaan lebih mandiri secara finansial dan bisa menanggung bunga serta kewajiban utang dengan proporsional.

Opsi kedua: serahkan aset infrastruktur KCIC ke pemerintah. Dengan model asset-light, KCIC cuma jadi operator, sementara infrastruktur jadi milik pemerintah. Artinya sebagian tanggung jawab finansial bisa berpindah ke APBN.

“Apakah kemudian kita tambahkan equity yang pertama, atau kemudian memang ini kita serahkan infrastrukturnya sebagaimana industri kereta api yang lain, infrastrukturnya itu milik pemerintah,” jelas Dony di JICC Senayan, Jakarta, Kamis (9/10).

Di balik semua opsi ini, jelas terlihat ada beberapa perspektif: pemerintah ingin menjaga APBN, sementara Danantara mencari cara supaya proyek tetap jalan dan BUMN tetap mandiri.

Singkatnya, keputusan soal utang Whoosh nanti akan jadi ujian keseimbangan: antara tanggung jawab korporasi BUMN dan peran APBN dalam proyek strategis.(van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

RI Cari Sumber Minyak Baru di Tengah Krisis Hormuz, Bahlil: Jangan Tanya dari Mana

27 Maret 2026 - 09:05 WIB

Tiket Palangkaraya-Jakarta Tembus Rp200 Juta Bikin Heboh, Garuda Indonesia Pastikan Bukan Tarif Resmi

19 Maret 2026 - 14:38 WIB

Pegadaian Kantor Wilayah IX Jakarta 2 Luncurkan MPL 2026, Bantu Warga dan Dorong UMKM

17 Maret 2026 - 09:22 WIB

Jelang Lebaran, Tarif Tol Batang-Semarang Resmi Naik 29 Persen: Mudik Makin Mahal

17 Maret 2026 - 07:58 WIB

Mudik Gratis Pegadaian 2026, Kantor Wilayah Pegadaian IX Jakarta 2 Ikut Berangkatkan Peserta

16 Maret 2026 - 10:32 WIB

Trending di Ekonomi