Menu

Mode Gelap
Bersih-bersih Seragam: 34 Personel Polri Di-PTDH, Nama Konten Kreator Ikut Terseret Belajar Ngaji atau Jadi Korban? Dugaan Pelecehan di Ponpes Muna Barat yang Bikin Orang Tua Merinding Menikmati Wagyu hingga Daechang di Gahyo Cikarang, Restoran Korea Favorit Pebisnis KAUP Gelar PentaSeni 2026 di Kampus Pancasila, Jadi Momen Perpisahan Kepengurusan Dasco Rakernas Perdana Haidar Alwi Institute di Tengah Dinamika Politik Nasional Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring

Kolom Angker

Sundel Bolong Tridadi: Teror Malam di Sleman

badge-check


					Foto : Ilustrasi (Istimewa) Perbesar

Foto : Ilustrasi (Istimewa)

KOLOM ANGKER – Nama saya Parlan Efendi. Malam itu saya pulang dari Yogyakarta ke Sleman, jalanan biasa saja lampu jalan menyala, motor matic butut saya masih sehat. Tapi malam itu… saya baru sadar, normalitas itu hanyalah tipuan.

Di sebuah halte kecil dekat jalur Pemakaman Tridadi, saya melihat seorang wanita berdiri sendiri. Dia melambaikan tangan. Penampilannya normal: blazer hitam, rok selutut, rambut rapi. Tidak ada yang aneh… sampai saya melihat matanya. Kosong. Dalam. Ada sesuatu yang tidak wajar.

“Mas, boleh saya numpang? Saya sudah pesan taksi, tapi belum datang. Tempat ini sepi… saya takut sendirian,” katanya pelan. Suaranya menenangkan, tapi ada getaran halus di ujung nada itu getaran yang membuat kulit meremang.

Rasa kasihan mengalahkan firasat. Saya mengangguk. Dia naik ke boncengan. Namanya Riska. Obrolan awal terasa normal. Suaranya lembut, wajahnya manusiawi… tapi malam itu punya rencananya sendiri.

Beberapa menit kemudian, ia berkata, “Mas, nanti saya turun di dekat pemakaman ya. Rumah saya tidak jauh dari situ.”

Hati saya mulai berdegup tak menentu. Pemakaman Tridadi… terkenal angker. Jalan yang tadinya ramai berubah perlahan: lampu jalan redup, kendaraan lenyap, kabut tipis menjalar di permukaan aspal. Angin malam menderu dingin, menampar wajah saya. Suara ranting patah terdengar… dekat… terlalu dekat.

Riska tetap diam. Saya melirik spion wajahnya datar, kaku. Bulu kuduk meremang, tubuh gemetar. Dari semak-semak, terdengar suara langkah tipis… mengikuti saya… mendekat… lalu berhenti tepat di belakang motor.

Tiba-tiba motor mati. Starter tidak menyala. Dari atas kepala, terdengar suara tetesan tak… tak… tak… Menetes di helm saya.

Saya menengadah. Sosok putih tergantung terbalik di dahan pohon besar, rambut panjang menjuntai, punggung berlubang besar, darah hitam ke merah menetes perlahan. Mata saya terpaku. Sosok itu bersenandung lirih, sendu… tapi nadanya menusuk ke tulang, memutar kepala saya, membuat seluruh saraf menegang.

Saya kaku. Angin malam berdesir keras, suara daun berderak seperti jeritan tak terlihat. Dari semak, terdengar bisikan: “Tolong… antar aku…”

Tubuh saya lumpuh, kaki tak bisa digerakkan. Mata saya terpaku pada sosok itu, yang kini mulai menunduk, rambut menjuntai menutupi wajahnya.

Panik, saya lari. Motor ditinggal. Nafas tersengal, kaki hampir tersandung akar dan batu. Suara langkah tipis mengikuti, kadang di kanan, kadang di kiri. Saya berlari tanpa arah, sampai menemukan gubuk kecil.

Saya masuk. Bau anyir menusuk hidung, udara dingin menggigit tulang. Kain putih lusuh berserakan, keranda-keranda tersusun acak. Suara saya sendiri terdengar nyaring, bergema… tapi bukan itu yang membuat saya hampir gila.

Dari sudut gelap gubuk, terdengar suara tangisan perempuan. Tidak hanya satu, tapi beberapa. Nada mereka meresap ke dalam kepala, menjerat pikiran. Saya pingsan di antara keranda itu.

Ketika sadar, fajar mulai menyingsing. Motor saya berdiri tegak di gerbang pemakaman. Kabut tipis menari di sekitar batu nisan. Riska hilang. Sosok putih juga. Hanya bayangan yang terasa hidup, bergerak di tepi pandangan saya, selalu menunggu.

Saya berjalan perlahan, tubuh gemetar. Dari kejauhan terdengar bisikan lirih, langkah tipis yang mendekat, menjauh, lalu berhenti seolah mengintai.

Akhirnya, saya bertemu seorang bapak tua. “Sampeyan pasti ketemu sundel bolong, Mas,” katanya pelan tapi tegas.

Dia menjelaskan: arwah penari tayub zaman Belanda, mati tragis, ditenggelamkan di rawa. Arwahnya tidak pernah tenang. Ia menampakkan diri pada pengendara malam, meminta diantar… lalu menghilang di sekitar pemakaman.

Sejak malam itu, saya tidak pernah melewati jalur pemakaman Tridadi malam hari. Kadang, ketika malam sepi dan kabut tipis menyelimuti sawah, saya masih bisa merasakan tatapan Riska… atau sundel bolong itu… dari balik kegelapan, menunggu… menatap… dan mengingatkan: di dunia ini, ada yang tidak bisa dijelaskan dengan logika manusia.

Penulis : Ris Tanto | Editor : Ivan


Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang

5 Februari 2026 - 15:55 WIB

Kutukan Tuyul Turunan: Kekayaan yang Dibayar dengan Nyawa Anak Sendiri

5 Februari 2026 - 15:40 WIB

Larangan Membuka Jendela di Kampung Bambu

29 Januari 2026 - 18:37 WIB

Cerita Horor di Tol Padalarang: Mereka yang Berdiri di Bahu Jalan

29 Januari 2026 - 18:21 WIB

MALAM JUMAT KLIWON: YANG BANGKIT DARI KUBUR TIDAK SELALU MAYIT

15 Januari 2026 - 15:55 WIB

Trending di Kolom Angker