Menu

Mode Gelap
Modus Janji Kredit Miliaran, Dwi Febrie Endaryanto Resmi Dilaporkan ke Polda Metro Jaya Status Febrie Adriansyah Resmi Jadi Tersangka, Ditahan Tanpa Borgol dan Rompi Pink: Privilege atau SOP? DPC PKB Kota Bekasi Patok Target 7 Kursi di Pemilu 2029 di Harlah ke-28 Pidato Prabowo Lagi-Lagi Bikin Ramai: Kali Ini Jurnalis, LSM, dan Pengamat Disebut “Londo Ireng” Video Alphard Terobos Lampu Merah Viral, Pramono Minta Satpam Tak Dipecat dan Polisi Bertindak Tegas Heboh Suzuki Thunder Dilarang Isi BBM, Pertamina Akhirnya Buka Suara

Regional

Kepala BNPB Melihat Banjir Tapsel: “Saya Kaget, Kirain Nggak Segede Ini…”

badge-check

Kepala BNPB Letjen Suharyanto mengaku kaget melihat skala banjir di Tapanuli Selatan dan menjelaskan alasan bencana Sumatera belum ditetapkan sebagai bencana nasional. BNPB memastikan hadir untuk menolong warga terdampak.(Ist) Perbesar

Kepala BNPB Letjen Suharyanto mengaku kaget melihat skala banjir di Tapanuli Selatan dan menjelaskan alasan bencana Sumatera belum ditetapkan sebagai bencana nasional. BNPB memastikan hadir untuk menolong warga terdampak.(Ist)

PRABA INSIGHT – TAPANULI – Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto datang ke Tapanuli Selatan dengan agenda standar pejabat bencana: cek lokasi, dengar laporan, kasih instruksi. Tapi begitu sampai di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, yang keluar justru ekspresi manusiawi yang sangat… ya, manusiawi.

“Saya tak mengira sebesar ini. Saya mohon maaf, Pak Bupati. Bukan berarti kami tak peduli,” ujarnya, Minggu (30/11/2025). Kalimat yang terdengar seperti gabungan antara kaget, sungkan, dan rasa bersalah karena realitas lapangan ternyata jauh lebih brutal dari rapat-rapat di Jakarta.

Suharyanto tampaknya benar-benar tak menyangka banjir di Tapanuli Selatan bakal sedahsyat ini. Ia bahkan harus menenangkan suasana sambil memastikan bahwa BNPB tidak sedang main petak umpet dalam urusan bantuan. “Kami hadir di sini untuk menolong masyarakat,” katanya sebuah pernyataan yang biasanya diucapkan pejabat sambil berdiri di antara lumpur dan sisa-sisa reruntuhan.

Sebelum kunjungan ini, ia sempat menjelaskan mengapa banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar belum juga diberi label bencana nasional. Menurutnya, tingkatan bencananya masih berada di level provinsi.

“Memang kemarin kelihatannya mencekam karena berseliweran di media sosial,” ujar Suharyanto pada Jumat (28/11/2025). “Tetapi begitu kami tiba langsung di lokasi, banyak daerah yang sudah tidak hujan. Yang paling serius memang Tapanuli Tengah, tetapi wilayah lain relatif membaik.”

Singkatnya: kalau di medsos rasanya kiamat kecil, di lapangan ternyata memang parah—tapi tidak semua tempat sekaotik yang terlihat di timeline.

Namun satu hal jelas: kunjungan Suharyanto ini menunjukkan bahwa bencana tak pernah benar-benar bisa dipahami dari foto drone dan laporan rapat. Kadang, baru terasa “besar” ketika kita sendiri yang berdiri di tengahnya.


Penulis : Ristanto | Editor : Ivan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

DPC PKB Kota Bekasi Patok Target 7 Kursi di Pemilu 2029 di Harlah ke-28

25 Juli 2026 - 00:52

Buntut Sidang Tipikor, Kadis SDABMBK Kabupaten Bekasi Dilaporkan ke KPK

14 Juli 2026 - 19:23

Masalah Data Adminduk Bekasi Utara Dibahas, Rizki Topananda Dorong Pemutakhiran

11 Juli 2026 - 15:14

Benteng Keluarga dan Raperda LGBTQ Kota Bekasi ala Chairun Nisa

11 Juli 2026 - 12:09

Kabar Baik: Lulusan BLK Indramayu Siap Gaspol Garap Daihatsu Langsung di Jepang!

2 Juli 2026 - 19:16

Trending di News