PRABA INSIGHT – JAKARTA – Di tengah lumpur banjir dan sisa longsor yang belum sepenuhnya surut, warga Aceh Tamiang, Langsa, dan sejumlah wilayah lain di Aceh masih harus menghadapi satu masalah klasik: listrik padam. Tanpa listrik, hidup serasa ikut dicabut colokannya.
Situasi inilah yang mendorong Partai Keadilan Sejahtera (PKS) angkat suara. Melalui Kepala Kantor Staf Presiden PKS, Pipin Sopian, partai ini mendesak Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bersama PLN agar segera memulihkan aliran listrik di wilayah terdampak bencana.
Desakan itu bukan datang dari balik meja ber-AC. Rombongan Presiden PKS, Al Muzzammil Yusuf, turun langsung ke lapangan dan menyaksikan sendiri betapa sulitnya kehidupan warga pascabanjir dan longsor. Masalah utama bukan cuma genangan air, tapi juga listrik yang mati dan akses air bersih yang terbatas.
Menurut Pipin, pemadaman listrik justru memperlambat proses pemulihan. Tanpa listrik, pasokan air bersih terhenti, komunikasi terganggu, dan kerja tenaga medis serta relawan menjadi tidak maksimal. Dalam kondisi darurat, listrik bukan soal kenyamanan, tapi kebutuhan dasar.
Pipin juga menyoroti satu hal yang mengundang tanda tanya. Ia mempertanyakan kondisi listrik yang sempat menyala saat kunjungan Presiden Prabowo Subianto, namun kembali padam setelah kunjungan tersebut selesai. PKS meminta penjelasan terbuka dari Kementerian ESDM dan PLN terkait kondisi tersebut.
Bagi PKS, pemulihan listrik adalah kunci utama untuk menghidupkan kembali aktivitas warga terdampak. Tanpa listrik, proses pemulihan hanya akan berjalan di tempat.
Pipin menegaskan PKS siap berkolaborasi dengan pemerintah pusat maupun daerah demi mempercepat normalisasi listrik dan membantu warga kembali menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam situasi bencana, yang dibutuhkan bukan saling tunjuk, tapi kerja cepat dan nyata.
Penulis : Ristanto | Editor : Ivan






