PRABAINSIGHT.COM – SIMALUNGUN – Masa remaja idealnya diisi hal-hal ringan: rebutan charger, ngerumpi di kantin, atau debat kecil soal siapa paling jago di game online. Tapi di Simalungun, cerita umur 15 tahun justru berubah jadi tragedi gelap, dingin, dan jauh dari apa yang seharusnya dialami anak seusia itu.
Seorang siswi SMP berinisial ZR ditemukan tak bernyawa di area perkebunan PT Bridgestone, Blok Z 24, Nagori Dolok Ulu. Tempat yang biasanya hanya dihuni sunyi dan pepohonan, mendadak jadi saksi bisu nasib yang patah terlalu cepat. Dua orang saksi melapor ke polisi, dan sejak itu, rangkaian peristiwa mulai terkuak pelan-pelan.
Tim Inafis datang, garis polisi terbentang, barang bukti dikumpulkan: sebuah ponsel, lembaran uang receh, dan benda-benda yang membawa kita pada gambaran muram detik-detik terakhir. Orang tua korban tiba di lokasi dan duka pun resmi menemukan rumahnya.
Polisi bergerak cepat. Kurang dari empat jam sejak penemuan jenazah, seorang remaja berinisial AH teman dekat korban diamankan di rumah kakaknya di Tapian Dolok. Usianya? Sama. Lima belas tahun. Masih kategori “anak”, tapi sudah terjebak dalam persoalan yang bahkan orang dewasa pun kerap tak sanggup menanggungnya.
Dalam pemeriksaan, AH mengakui perbuatannya. Bukan kisah kecelakaan, bukan juga cerita salah paham yang bisa diselesaikan dengan minta maaf di ruang BK. Ini perkara hubungan personal, tekanan, konflik emosi dan keputusan keliru yang berubah jadi tragedi permanen.
Kasi Humas Polres Simalungun, AKP Verry Purba, menegaskan proses penangkapan dilakukan profesional dan humanis. Tapi sehumanis apa pun prosedurnya, fakta tetap sama: ada nyawa yang hilang, ada masa depan yang terpotong, ada keluarga yang tidak lagi utuh.
Kasus ini tidak sekadar angka di laporan kriminal. Ia seperti cermin besar yang dipaksa kita tatap:
betapa banyak remaja berhadapan dengan persoalan dewasa tanpa pendampingan,
betapa relasi yang tidak sehat bisa tumbuh diam-diam,
betapa cepat hidup bisa berubah hanya karena satu keputusan di usia yang masih belajar tentang arti “bertanggung jawab”.
Di sinilah ironinya: dunia orang dewasa kerap menuntut kedewasaan dari anak-anak,
sementara mereka bahkan belum selesai memahami diri sendiri.
Pada akhirnya, tragedi ini bukan cuma soal “siapa salah dan siapa benar”.
Ia juga pertanyaan yang lebih menohok:
kenapa anak-anak bisa sampai sejauh ini tanpa ada yang lebih dulu menggandeng mereka pulang?
Dan seperti banyak cerita kelam lainnya, yang tersisa hanyalah pelajaran yang datang terlambat tapi semoga tidak dibiarkan terulang.
Editor : Irfan Ardhiyanto











