Menu

Mode Gelap
Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring Tragis! Rumah Dijaminkan demi Tolong Orang, YAM Justru Dipenjara Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang Kutukan Tuyul Turunan: Kekayaan yang Dibayar dengan Nyawa Anak Sendiri Sebulan Jadi Brimob Palsu: Masuk Mako, Ikut Latihan, dan Pegang Senjata Ketahuan Gara-gara Minta Rokok

Crime

Panik, Utang, dan Pisau: Kronik Pembunuhan Anak Politikus di Cilegon

badge-check


					Tragedi di Cilegon: kasus pembunuhan anak politikus PKS yang dipicu kerugian trading kripto dan utang menumpuk. Kronologi lengkap, motif, dan jerat hukum pelaku.(Istimewa) Perbesar

Tragedi di Cilegon: kasus pembunuhan anak politikus PKS yang dipicu kerugian trading kripto dan utang menumpuk. Kronologi lengkap, motif, dan jerat hukum pelaku.(Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – CILEGON – Di banyak seminar motivasi finansial, kita sering mendengar jargon “high risk, high return”. Tapi di Cilegon, kalimat itu berubah jadi tragedi bukan hanya soal kerugian, melainkan sampai merenggut nyawa seorang anak.

Polda Banten akhirnya memecah kabut misteri kematian Muhamad Axle Harman Miller, putra seorang politikus lokal, setelah penyelidikan panjang yang berujung pada satu simpulan getir: motif klasik bernama ekonomi, dibungkus era kekinian bernama trading aset kripto.

Pelakunya adalah HA (31)  bukan karakter film thriller mahal, bukan juga pembunuh bayaran. Ia hanyalah seseorang yang kalah di gelanggang spekulasi finansial dan ditarik utang sampai ke sudut paling gelap hidupnya.

Menurut keterangan Direktur Reskrimum Polda Banten Kombes Pol Dian Setyawan, HA mengalami kerugian fantastis di dunia kripto  sekitar Rp5 miliar. Di atas itu, ia masih diburu tumpukan utang senilai Rp700 juta. Di titik tertentu, keputusasaan menyalip logika, dan “jalan pintas” tampak seperti solusi instan ala iklan pinjaman online: cepat, tunai, urusan belakangan.

Sayangnya, urusannya benar-benar jadi “belakangan”, dan panjang.

Ketika Rencana Maling Berbelok Jadi Tragedi

Peristiwa itu terjadi pada Selasa sore, 16 Desember 2025, di Perumahan Bukit Baja Sejahtera III.

HA awalnya mengincar rumah korban karena mengira kosong:

  • ia menekan bel beberapa kali,
  • tak ada jawaban,
  • rasa yakin tumbuh, rasa waspada menurun.

HA lalu memanjat pagar dan mencongkel jendela menggunakan kunci modifikasi — teknik yang sepertinya lebih rapi daripada proposal kripto yang pernah ia ikuti.

Namun sial  atau tragis  ternyata rumah itu tidak kosong.

Di dalam rumah, ia berhadapan langsung dengan korban: anak pemilik rumah.

Sekejap, skenario “ambil barang lalu kabur” berubah jadi panik total. Bukan kepintaran yang bekerja, melainkan ketakutan: ketahuan, diteriaki maling, atau dilaporkan.

Dalam kondisi mental yang runtuh, HA menyerang menggunakan pisau yang sudah ia bawa. Tusukan bertubi-tubi di bagian vital membuat nyawa korban tak tertolong. Mimpi buruk pun resmi terjadi untuk keluarga korban, untuk pelaku, dan untuk nalar kemanusiaan kita.

Hukum Datang Tanpa Negosiasi

Aksi yang bermula dari pencurian kini berubah menjadi kejahatan berat. Polisi menjerat HA dengan pasal berlapis:

  • Pasal 338 jo 339 KUHP
    (pembunuhan yang disertai tindak pidana lain)
  • Pasal 80 ayat (3) jo Pasal 76C UU Perlindungan Anak

Ancaman hukumannya tidak main-main: penjara seumur hidup atau bahkan hukuman mati. Saat ini HA ditahan di Polres Cilegon, menunggu nasib di meja hijau.

Pelajaran Pahit dari Dunia Spekulasi

Kasus ini bukan sekadar kriminalitas  ia juga cermin sosial tentang:

  • obsesi kaya cepat,
  • jebakan investasi spekulatif,
  • tekanan utang yang bisa menggerus akal sehat.

Di layar iklan, kripto sering tampil glamor dan futuristik. Di dunia nyata, ia bisa menjelma kekacauan bagi mereka yang masuk tanpa kendali, tanpa literasi, dan tanpa batas risiko.

Dan pada titik paling tragis, rasa panik yang lahir dari utang justru menyeret orang lain yang tidak bersalah sama sekali.

Nyawa tak pernah boleh jadi collateral untuk kegagalan finansial siapa pun.

Editor : Irfan Ardhiyanto 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perampokan Rasa Iblis: Harta Disikat, Bocah 5 Tahun Dibunuh di Boyolali

30 Januari 2026 - 08:49 WIB

Warung Kerap Dicuri, Pemilik di Bekasi Justru Ditetapkan sebagai Tersangka

24 Januari 2026 - 10:41 WIB

Kotak Amal Jadi Modal Judi, 23 Orang Asal Lampung Digerebek di Hotel

22 Januari 2026 - 06:46 WIB

Sidang Brigadir Nurhadi, Jaksa Ungkap Petunjuk Motif dari Kesaksian

16 Januari 2026 - 09:31 WIB

Polisi Colong Motor Polisi: Ironi Kehilangan di Markas Sendiri

10 Januari 2026 - 13:55 WIB

Trending di Crime