PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Sepulangnya Jordy Tutuarima ke Belanda, alih-alih menikmati waktu santai sambil makan stroopwafel, ia justru “spill the tea” soal pengalamannya di Indonesia. Bukan cerita liburan tropis, tapi kisah yang lebih cocok jadi naskah sinetron: penuh plot twist dan sedikit rasa getir.
Bek kiri berdarah Maluku itu blak-blakan soal alasan di balik kepergiannya dari Persis Solo. Menurutnya, situasi di klub terasa… ya, membingungkan. Bayangkan saja, sebuah tim tiba-tiba melepas sembilan pemain asing sekaligus. Bukan satu-dua, tapi sembilan. Kalau ini grup WhatsApp, mungkin sudah sepi centang dua biru.
Jordy mengaku situasi makin absurd ketika pelatih baru datang di bulan Januari, lalu tak lama berselang keputusan besar itu diambil. Ia pun mencoba bersikap profesional dengan mencari solusi atas kontraknya yang sejatinya masih berlaku hingga musim panas.
“Senang sekali bisa kembali bersama keluarga. Keadaan di sana sangat aneh. Pelatih baru datang pada bulan Januari, dan tiba-tiba semua pemain asing harus pergi (sembilan pemain dilepas). Penyelesaian semuanya memakan waktu beberapa minggu setelah itu. Saya masih memiliki kontrak hingga musim panas, jadi carilah solusi, kata saya kepada klub. Dan akhirnya, solusi ditemukan. Hasilnya tidak bagus, tetapi itu juga disebabkan oleh hal-hal gila lainnya,” ujarnya, merujuk pada pelatih Peter de Roo.
Masalahnya ternyata bukan cuma soal kebijakan transfer yang terasa seperti undian berhadiah. Ada isu yang lebih sensitif: gaji. Jordy mengungkapkan bahwa ia tidak menerima bayaran selama berbulan-bulan. Sebuah kondisi yang, kalau dipikir-pikir, lebih menegangkan dari nunggu cashback e-wallet cair.
Menariknya, ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia juga menyoroti nasib para pemain lokal yang mungkin tidak punya “bantalan finansial” seperti dirinya.
“Kami tidak dibayar selama berbulan-bulan.”
Kalimat sederhana, tapi efeknya bisa bikin ruang ganti lebih sunyi dari stadion tanpa penonton.
Cerita Jordy ini seperti membuka sisi lain dari gemerlap Liga Indonesia yang dari luar tampak kompetitif dan menjanjikan, tapi di dalamnya masih menyimpan cerita-cerita yang… ya, kadang sulit dicerna logika.
Dan pada akhirnya, keputusan untuk pulang bukan lagi soal karier, tapi soal kewarasan. Karena sepak bola, sejatinya, bukan cuma soal menang dan kalah tapi juga soal dibayar tepat waktu.











