Menu

Mode Gelap
Perpres Ojol: Ketika Negara Ingin Menolong, Tapi Lupa Menyelesaikan Akar Masalahnya Sandri Rumanama: Jangan Cuma Umur Dinas yang Bertambah, Struktur Polri Juga Harus Berubah. Ngaku Kompol Saat Melamar, Ternyata Cuma Calo Samsat: Kisah Pahit ASN yang Terjebak Pernikahan Penuh Kekerasan SIAGA 98 Dorong Kementerian Keamanan untuk Awasi Sektor Keamanan Nasional Tujuh Tahun Driver Legend Indonesia, Dari Aksi Jalanan hingga Advokasi Ojol Nasional Mau Jadi Polisi? DPR Putuskan Lulusan SMA Masih Bisa Masuk Polri, Usulan S1 Tak Lolos

Internasional

Ketegangan Ibadah di Yerusalem: Israel Perketat Akses Minggu Palma, Pemimpin Gereja Protes

badge-check


					Israel membatasi akses ibadah Minggu Palma di Yerusalem, termasuk ke Gereja Makam Kudus. Pemimpin gereja memprotes kebijakan tersebut.(Istimewa) Perbesar

Israel membatasi akses ibadah Minggu Palma di Yerusalem, termasuk ke Gereja Makam Kudus. Pemimpin gereja memprotes kebijakan tersebut.(Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – Kalau biasanya orang ribut soal tiket konser yang dibatasi, di Yerusalem ceritanya jauh lebih serius: akses ibadah pun ikut disaring. Dan bukan ibadah biasa, tapi momen sakral seperti Minggu Palma sampai Paskah.

Dalam laporan terbaru Maret–April 2026, situasi kebebasan beribadah umat Kristiani di Yerusalem lagi nggak baik-baik saja. Tegang, kalau mau diringkas dalam satu kata.

Pemerintah Israel memberlakukan pembatasan ketat bagi jemaat yang ingin mengikuti Misa Minggu Palma di Kota Tua. Ibadah yang seharusnya jadi momen refleksi justru berubah jadi urusan izin dan akses.

Yang bikin situasi ini makin terasa “nggak biasa”, bukan cuma jemaat biasa yang terdampak. Pejabat tinggi gereja pun ikut kena.

Salah satunya adalah Pierbattista Pizzaballa. Ia dilaporkan sempat dihentikan aparat keamanan saat berjalan menuju lokasi ibadah, bahkan diminta berbalik arah. Kalau sudah sampai level ini, rasanya bukan sekadar pengaturan teknis.

Bukan cuma Minggu Palma, pembatasan juga merembet ke situs paling sakral bagi umat Kristiani, yaitu Gereja Makam Kudus. Tempat yang biasanya jadi pusat perayaan Paskah itu dilaporkan mengalami penutupan atau setidaknya pembatasan akses yang signifikan.

Bayangkan: momen paling penting dalam kalender iman, tapi jalannya malah dipersempit.

Dari sisi pemerintah Israel, alasan yang disampaikan sebenarnya klasik: keamanan. Mereka mengklaim pembatasan dilakukan demi menjaga keselamatan jemaat di tengah situasi yang dianggap sensitif.

Masalahnya, bagi para pemimpin gereja, alasan itu terasa kurang pas. Mereka menilai langkah tersebut berlebihan dan tidak sebanding dengan risiko yang ada. Dalam bahasa yang lebih sederhana: ini dianggap bukan sekadar pengamanan, tapi sudah menyentuh ranah pembatasan hak beribadah.

Reaksi pun datang, bukan cuma dari internal gereja, tapi juga dari komunitas internasional yang mulai ikut angkat suara.

Di titik ini, kita jadi sadar satu hal: di beberapa belahan dunia, menjalankan ibadah bukan cuma soal iman, tapi juga soal akses, izin, dan kadang negosiasi dengan keadaan.

Dan ironisnya, semua itu terjadi di kota yang selama ini dikenal sebagai simbol spiritual bagi banyak agama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Viral! Polisi Florida Tilang Perempuan Tanpa Tangan Kanan karena Diduga Main HP Saat Nyetir

2 Juni 2026 - 12:49

Edoardo Agnelli: Pewaris Juventus yang Masuk Islam, Dicoret dari Keluarga, lalu Tewas Misterius

26 Mei 2026 - 20:24

Patung Yesus Dirusak di Lebanon Selatan, Militer Israel Akui dan Janji Investigasi

22 April 2026 - 20:30

Dana Rp263 Triliun untuk Gaza Diduga Dialihkan ke Israel, Nama Donald Trump Disorot

20 April 2026 - 16:41

Pendeta di Irlandia “Salah Doa” untuk Donald Trump, Jemaat Tertawa, Netizen: Ini Bukan Sekadar Kepleset

20 April 2026 - 14:47

Trending di Internasional