PRABAINSIGHT.COM – TANGERANG – Kisah ini dimulai dari sesuatu yang terdengar sepele: nongkrong bareng teman. Tapi seperti banyak cerita buruk lainnya, semuanya berubah arah ketika kepercayaan dipakai sebagai pintu masuk kejahatan.
Seorang remaja perempuan berinisial D di kawasan Cipondoh, Kota Tangerang, diduga menjadi korban kekerasan seksual oleh temannya sendiri. Sebelum kejadian, korban disebut dicekoki minuman keras hingga kehilangan kesadaran sebuah pola lama yang entah kenapa masih saja terulang.
Pelaku berinisial I alias Ivan kini tidak diketahui keberadaannya, alias sedang dalam pelarian. Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Tangerang Kota sudah menerima laporan resmi dari pihak korban dan mulai bergerak.
Kanit PPA Polres Metro Tangerang Kota, Suwito, memastikan proses hukum sedang berjalan.
“Korban telah membuat laporan resmi kepolisian pada Senin, 27 April lalu. Saat ini pelaku tengah kita kejar, kita upayakan tangkap,” kata Suwito, Sabtu (2/5/2026).
Kronologinya tidak terlalu rumit, tapi justru di situlah letak bahayanya. Awalnya korban hanya berkumpul di tempat tongkrongan bersama teman-temannya. Lalu datang ajakan yang terdengar “normal”: menemani memperbaiki sepeda motor untuk keperluan balap.
Namun alih-alih ke bengkel, korban justru dibawa ke sebuah rumah di wilayah Kecamatan Pinang. Di tempat itu, korban diduga dipaksa mengonsumsi minuman beralkohol sampai akhirnya tak sadarkan diri.
Pagi harinya, sekitar pukul 07.00, korban terbangun dalam kondisi syok. Ia mendapati dirinya sudah tidak mengenakan pakaian—situasi yang langsung memberi sinyal bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi saat ia tidak sadar.
Belum selesai di situ. Dalam kondisi lemas dan masih di bawah pengaruh alkohol, korban diduga kembali mengalami kekerasan seksual karena tidak mampu melawan.
Ironisnya, ketika korban mencoba meminta pertanggungjawaban, respons pelaku justru jauh dari kata manusiawi. Alih-alih mengakui atau meminta maaf, pelaku malah bersikap agresif mengintimidasi korban sambil menodongkan senjata tajam.
Kasus ini menambah daftar panjang kekerasan seksual yang berawal dari lingkar pertemanan sendiri ruang yang seharusnya aman, tapi justru jadi tempat paling rawan ketika kepercayaan disalahgunakan.
Saat ini, polisi masih memburu pelaku. Sementara itu, satu hal yang pasti: keadilan untuk korban tidak boleh ikut “menghilang” seperti pelaku yang kini sedang kabur.










