Menu

Mode Gelap
Kisah Skandal Sum Kuning: Dari Korban Jadi Tersangka, Saat Hukum Tunduk pada Kuasa Daycare yang Harusnya Aman, Justru Jadi Mimpi Buruk: Dugaan Kekerasan di Little Aresha Yogya Bikin Orang Tua Datangi Polisi Dulu Kejar Bandar, Kini Diduga Jadi “Bos” dari Balik Jeruji: Aipda Robig Dipindah ke Nusakambangan Akhir 22 Tahun “Zona Abu-Abu”: UU PPRT Resmi Disahkan, Pekerja Rumah Tangga Kini Punya Perlindungan Nyata Kemenpan RB Tegur Keras DLH Bekasi, Putusan PTUN Kok Dicuekin? Viral di Media Sosial: Drama Calon Pengantin di Salon Madiun, Dari Fitting Baju Jadi Ajang Banting HP

Crime

Dulu Kejar Bandar, Kini Diduga Jadi “Bos” dari Balik Jeruji: Aipda Robig Dipindah ke Nusakambangan

badge-check


					Mantan polisi narkoba Aipda Robig diduga mengendalikan jaringan dari dalam penjara. Dipindah ke Nusakambangan bersama 40 napi demi pengawasan ketat. Perbesar

Mantan polisi narkoba Aipda Robig diduga mengendalikan jaringan dari dalam penjara. Dipindah ke Nusakambangan bersama 40 napi demi pengawasan ketat.

PRABAINSIGHT.COM – SEMARANG –Kalau ini film, mungkin penonton bakal protes: “Ah, terlalu dipaksakan plot twist-nya.”
Masalahnya, ini bukan film.

Nama Aipda Robig Zaenudin lagi-lagi muncul dengan cerita yang bikin publik mengernyit. Sosok yang dulu berdiri di barisan pemberantas narkoba, kini justru diduga bermain di sisi sebaliknya bahkan dari tempat yang seharusnya jadi titik akhir: penjara.

Dulu, perannya jelas. Sebagai bagian dari Satresnarkoba Polrestabes Semarang, ia memburu pelaku, mengurai jaringan, dan menutup ruang gerak peredaran narkotika.

Sekarang? Ceritanya berbelok tajam.

Setelah mendekam di penjara akibat kasus penembakan yang menewaskan seorang pelajar, Robig bukannya redup. Ia justru diduga tetap “aktif” bukan sebagai pemain kecil, tapi sebagai pengendali jaringan narkoba dari balik sel.

Ironi yang terasa seperti tamparan.

Begitu dugaan ini terendus, pihak Lapas Kelas I Semarang tak mau ambil risiko. Responsnya cepat, nyaris tanpa jeda.

Robig langsung dipindahkan ke Nusakambangan tempat yang reputasinya sudah lebih dari cukup untuk membuat narapidana berpikir dua kali.

Pemindahan ini bukan langkah tunggal.

Sebanyak 40 narapidana ikut digeser:

  • 20 orang ke Lapas IIA Gladakan Nusakambangan (termasuk Robig)
  • 20 lainnya ke Lapas Nirbaya Nusakambangan

Langkah ini punya dasar hukum jelas, merujuk Pasal 45 UU Pemasyarakatan.

  • Tujuannya juga gamblang:
    Pengawasan lebih ketat
    Menekan potensi gangguan keamanan
    Mengurangi beban lapas yang sudah sesak

Kasus ini seperti menghidupkan kembali pepatah klasik yang terlalu sering jadi kenyataan: pagar makan tanaman.

Seseorang yang dulu dibekali wewenang untuk memutus rantai narkoba, kini justru diduga ikut menyambungnya—dari balik jeruji yang seharusnya membatasi segalanya.

Kini bola ada di sistem pengamanan super ketat Nusakambangan.

Harapannya sederhana: tak ada lagi celah.
Tak ada lagi komunikasi gelap.
Dan yang paling penting—tak ada lagi “dua dunia” yang berjalan bersamaan di balik tembok penjara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Daycare yang Harusnya Aman, Justru Jadi Mimpi Buruk: Dugaan Kekerasan di Little Aresha Yogya Bikin Orang Tua Datangi Polisi

26 April 2026 - 23:35

Karyawan Tambang di Konawe Utara Diduga Dianiaya Rekan Kerja, Lapor Polisi Malah Diancam PHK

22 April 2026 - 20:02

iPhone Rp2 Juta Berujung Parang: Drama Emosi Pembeli di Toko HP Medan yang Viral

21 April 2026 - 16:39

Ketua Golkar Malra Nus Kei Tewas Ditusuk di Bandara, Salah Satu Pelaku Diduga Atlet MMA

21 April 2026 - 16:28

Tolak Permintaan Rp500 Ribu untuk Miras, Tuan Rumah Hajatan di Purwakarta Tewas Dikeroyok Preman

5 April 2026 - 10:49

Trending di Crime