KOLOM ANGKER – Langit di lereng Gunung Slamet sore itu tampak muram. Kabut turun terlalu cepat, menyelimuti jalan setapak menuju Telaga Sunyi seperti sesuatu yang sengaja menutup dunia luar. Hutan pinus dan damar berdiri rapat di sekeliling telaga, menjulang hitam dan diam seperti barisan makhluk yang sedang mengawasi.
Tidak ada suara burung.
Tidak ada desir ranting.
Hanya suara langkah kami yang menggema lirih di tanah basah.
Saya dan Aa datang dari Bandung untuk menikmati suasana alam Baturraden. Awalnya, tempat itu terlihat begitu indah. Air telaga sebening kaca, memantulkan bayangan langit kelabu di permukaannya. Namun semakin lama kami berada di sana, suasananya terasa salah. Terlalu sunyi. Sunyi yang menekan dada.
Udara mulai terasa dingin menusuk kulit.
Kami duduk di atas bongkahan batu andesit besar di pinggir telaga. Lumut hijau menempel tebal di permukaannya, licin dan lembap seperti kulit sesuatu yang hidup. Dari tempat kami duduk, dasar telaga terlihat sangat jelas. Batu-batu kecil di bawah air tampak begitu dekat, seolah kedalamannya hanya setinggi lutut.
Padahal menurut warga sekitar, bagian tengah telaga itu bisa mencapai enam meter. Banyak yang tenggelam di sana.
Saya mengabaikan cerita itu.
Saat sedang menatap permukaan air yang tenang, saya melihat Aa berdiri.
Sangat jelas.
Ia melangkah perlahan menuju tepian telaga, melepas sandalnya, lalu turun ke dalam air. Riak kecil menyebar dari tubuhnya. Air hanya setinggi pinggang.
“Ayo, Dek…” katanya sambil tersenyum.
“Sekali-kali nyebur. Airnya segar. Dangkal kok.”
Suaranya terdengar normal.
Wajahnya normal.
Itu benar-benar Aa.
Saya bahkan masih ingat detail-detail kecilnya—jaket hitam lusuh yang ia pakai, celana pendek abu-abunya, sampai caranya menyisir rambut ke belakang dengan tangan basah.
Tidak ada sedikit pun rasa curiga.
Saya menoleh ke batu tempat kami duduk tadi.
Kosong.
Aa sudah berada di dalam air.
Entah kenapa, saat itu pikiran saya seperti mati. Ada dorongan aneh yang membuat saya tidak mampu berpikir panjang. Seolah telaga itu sedang memanggil sesuatu di dalam kepala saya.
Saya melepas kaus.
Lalu melompat.
BYURR!
Tubuh saya menghantam air yang luar biasa dingin.
Bukan dingin biasa.
Rasanya seperti ribuan jarum menusuk kulit bersamaan. Napas saya langsung tercekat. Dada terasa remuk. Otot-otot tubuh menegang seketika.
Namun yang paling mengerikan bukan suhu airnya.
Melainkan kenyataan bahwa telaga itu sama sekali tidak dangkal.
Tubuh saya langsung tenggelam jauh ke bawah.
Dasarnya seperti hilang.
Gelap.
Dalam.
Kosong.
Saya panik dan berusaha meraih tangan Aa yang ada tepat di depan saya.
Lalu tangan kami bersentuhan.
Dan saat itulah saya sadar…
Itu bukan tangan manusia.
Kulitnya terasa dingin seperti bangkai yang terendam air terlalu lama. Jemarinya kaku. Cengkeramannya luar biasa kuat sampai tulang pergelangan saya terasa nyeri.
Perlahan… senyum Aa berubah.
Sudut bibirnya tertarik terlalu lebar.
Matanya kosong.
Hitam.
Tidak berkedip.
Saya membeku dalam ketakutan.
Makhluk itu menatap saya dari jarak sangat dekat di dalam air keruh kehijauan. Rambutnya mulai melayang perlahan, wajahnya berubah pucat kebiruan seperti mayat busuk.
Lalu
BRAKK!!
Tubuh saya ditarik ke bawah dengan hentakan brutal.
Air masuk ke hidung dan mulut saya. Saya meronta panik. Dalam kekacauan itu, sesuatu mencengkeram kaki saya dari sela batu di dasar telaga.
Bukan satu tangan.
Banyak.
Dingin.
Licin.
Kurus.
Mereka merayap di betis saya seperti jari-jari manusia yang sudah membusuk.
Saya mencoba menendang, tapi tubuh saya semakin tenggelam. Air telaga berubah gelap total. Cahaya permukaan menghilang perlahan di atas kepala saya.
Dan di dasar sana…
Saya melihat bayangan-bayangan berdiri.
Diam.
Seperti sosok manusia yang sedang menunggu.
Telinga saya mulai berdenging. Dada terasa terbakar karena kehabisan oksigen. Dalam keadaan setengah sadar, saya mendengar suara lirih berbisik dari dalam air.
“Temenin kami…”
Suara itu tidak berasal dari satu arah.
Melainkan dari seluruh isi telaga.
Saya ingin berteriak, tapi air terus masuk ke paru-paru. Kepala saya terasa pecah. Penglihatan mulai gelap.
Dalam kepanikan itu, saya hanya mampu menyebut nama Allah berulang-ulang di dalam hati.
“Allah…
Allah…
Allah…”
Tiba-tiba
Semua cengkeraman itu lepas.
Makhluk yang menyerupai Aa menghilang begitu saja ke dalam kegelapan air. Bayangan-bayangan di dasar telaga lenyap seperti ditelan kabut hitam.
Dengan sisa tenaga terakhir, saya menendang air sekuat mungkin.
Naik.
Naik.
Naik
BRAKK!
Kepala saya akhirnya muncul ke permukaan. Saya langsung batuk keras, memuntahkan air sambil megap-megap seperti orang sekarat.
Kabut semakin tebal.
Dan di pinggir telaga…
Saya melihat Aa berlari ke arah saya dengan wajah pucat ketakutan.
“Dek!! Astaghfirullah! Kamu kenapa?!” teriaknya panik sambil menarik saya ke darat.
Tubuh saya gemetar hebat.
Saya menatapnya dengan mata membelalak.
Pakaiannya kering.
Sandalnya masih terpakai.
Tidak ada setetes air pun di tubuhnya.
“A… Aa tadi di air…” suara saya bergetar.
“Aa yang ngajak aku masuk…”
Wajah Aa langsung berubah.
“Dari tadi Aa duduk di batu itu!” katanya dengan napas memburu.
“Aa lagi ikat sepatu. Pas nengok, kamu udah hilang. Tiba-tiba aja kamu muncul di tengah telaga kayak orang ditarik sesuatu!”
Jantung saya seperti berhenti berdetak.
Saya menoleh pelan ke arah telaga.
Permukaan air kembali tenang.
Terlalu tenang.
Namun beberapa detik kemudian, di tengah kabut yang menggantung rendah di atas air, saya melihat sesuatu muncul perlahan di permukaan.
Sebuah kepala.
Wajahnya pucat kebiruan.
Matanya hitam pekat.
Dan wajah itu…
Wajah saya sendiri.
Makhluk itu tersenyum lebar dari tengah telaga sebelum perlahan tenggelam kembali ke dalam air hitam yang sunyi.
Sejak hari itu, saya percaya bahwa Telaga Sunyi bukan hanya menyimpan mata air dari lereng Gunung Slamet.
Ada sesuatu di dasar telaga itu.
Sesuatu yang tidak suka sendirian.
Dan ia mampu meminjam wajah orang yang paling kita percaya… hanya untuk menyeret kita turun ke kedalaman yang tidak pernah ingin mengembalikan siapa pun.











