Menu

Mode Gelap
Jabatan Lepas, Borgol Terpasang: Jalan Terjal Dadan Hindayana Usai Lengser dari BGN Edi Permadi Luncurkan Buku Perjalanan Hidup, Dari Penjual Kacang hingga Direktur di Usia 29 Tahun Dadan Hindayana Dicopot, Prabowo Tunjuk Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional Nadiem, Jaket Gojek 001, dan Upaya Mengingat Masa Perjuangan Demi Cuan Pasutri di Kediri Diduga Produksi dan Jual Puluhan Video Dewasa, Berakhir Ditangkap Polisi Jawapos TV Tumbang, Radio Berguguran: Ketika Algoritma Menjadi Raja dan Media Lokal Kehilangan Takhta

News

Edi Permadi Luncurkan Buku Perjalanan Hidup, Dari Penjual Kacang hingga Direktur di Usia 29 Tahun

badge-check


					Edi Permadi Luncurkan Buku Perjalanan Hidup, Dari Penjual Kacang hingga Direktur di Usia 29 Tahun. (Foto: Istimewa) Perbesar

Edi Permadi Luncurkan Buku Perjalanan Hidup, Dari Penjual Kacang hingga Direktur di Usia 29 Tahun. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Perjalanan hidup dan karier Edi Permadi, seorang profesional yang berhasil menembus jajaran direksi perusahaan pada usia 29 tahun, kini diabadikan dalam sebuah buku berjudul Edi Permadi: Direktur di Usia 29 Tahun. Buku tersebut resmi diluncurkan di Sekolah Master (Masjid Terminal), Kota Depok, Jawa Barat, pada Senin (1/6/2026).

Peluncuran buku ini mendapat apresiasi dari berbagai tokoh nasional, akademisi, kalangan bisnis, serta keluarga dan kolega yang hadir dalam acara tersebut.

Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menilai kisah hidup Edi Permadi menjadi bukti bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh latar belakang maupun kemudahan yang dimiliki seseorang.

“Kisah hidup Bapak Edi Permadi menunjukkan bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh latar belakang ataupun kemudahan yang dimiliki seseorang. Keberhasilan sejati dibangun melalui ketekunan, kedisiplinan, keberanian dalam mengemban tanggung jawab, serta komitmen untuk terus belajar dan berkembang,” ujar Listyo Sigit dalam sambutannya.

Menurutnya, buku tersebut dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda untuk menjunjung tinggi nilai integritas, kerja keras, dan profesionalisme dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Buku Direktur di Usia 29 Tahun mengisahkan perjalanan Edi Permadi yang lahir di Jakarta pada 10 Februari 1970 dari keluarga veteran yang hidup sederhana. Sejak usia delapan tahun, Edi telah membantu perekonomian keluarga setelah ayahnya meninggal dunia dengan berjualan kacang dan makanan ringan.

Berbagai tantangan hidup yang dihadapinya tidak menghalangi langkahnya untuk menempuh pendidikan tinggi. Edi berhasil menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Elektro di Universitas Indonesia pada 1997.

Berbekal ketangguhan hidup dan kemampuan analitis sebagai seorang insinyur, Edi meniti karier di industri pertambangan hingga dipercaya menjabat Director of External Relations di PT International Nickel Indonesia (Inco), yang kini dikenal sebagai PT Vale Indonesia Tbk, saat usianya belum genap 30 tahun.

Kariernya terus berkembang. Setelah berkiprah di PT Vale Indonesia, Edi bergabung dengan PT J Resources Asia Pasifik Tbk dan dipercaya menduduki posisi Direktur Utama. Selain aktif di dunia korporasi, ia juga terlibat dalam berbagai pemikiran strategis terkait pembangunan nasional, penguatan ketahanan negara, serta pengelolaan sumber daya alam Indonesia.

Saat ini, Edi juga dipercaya sebagai Tenaga Profesional Bidang Sumber Kekayaan Alam di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Republik Indonesia.

Sosok Edi di Mata Rekan dan Mentor

Director & Principal Advisor PT Quintave Kinerja Mulia, Eddie Arsyad, menilai pencapaian Edi menjadi direktur pada usia muda merupakan hasil dari potensi kepemimpinan yang telah terlihat sejak awal kariernya.

“Ada anggapan bahwa seseorang harus mencapai usia tertentu untuk menjadi direktur. Menurut saya, itu hanyalah mitos. Yang menentukan bukanlah usia, melainkan potensi yang dimiliki individu tersebut,” ujar Eddie yang juga merupakan mentor Edi Permadi.

Ia mengungkapkan bahwa saat Edi berada di bawah pembinaan Human Capital, dirinya telah melihat karakter kuat, semangat belajar, dan kemampuan berkembang yang menjadi modal penting dalam perjalanan karier Edi.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Budi Santoso, menilai Edi sebagai sosok profesional yang memiliki kombinasi kompetensi teknis dan kemampuan komunikasi yang jarang dimiliki seorang engineer.

“Cara beliau membawa diri, berkomunikasi, dan membangun hubungan dengan berbagai pihak sangat humanis. Pendekatan profesional yang beliau lakukan selalu dibalut dengan sentuhan personal dan empati yang kuat,” ujar Budi.

Menurutnya, Edi selalu mengedepankan keputusan yang berbasis data dan analisis yang matang, namun tetap mampu menjaga hubungan baik dengan berbagai pemangku kepentingan.

Mengangkat Konsep “Tujuh E”

Dalam sambutannya, Edi menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari dorongan sahabat dan kolega yang meminta dirinya mendokumentasikan berbagai pengalaman hidup dan karier yang selama ini tersebar dalam catatan pribadi maupun tulisan terpisah.

“Buku ini lahir dari dorongan banyak sahabat yang meminta saya menuliskan pengalaman dan perjalanan hidup yang selama ini tersebar dalam berbagai catatan, tulisan, maupun kenangan,” ujar Edi.

Ia menjelaskan bahwa buku tersebut dibagi menjadi tiga fase perjalanan hidup, yakni sebagai profesional, entrepreneur, dan warga negara yang ingin berkontribusi bagi bangsa.

Salah satu gagasan utama yang diangkat adalah konsep “Tujuh E” yang menjadi fondasi penting dalam mencapai keberhasilan, yaitu Ethos (etos kerja), Effectiveness (efektivitas), Efficiency (efisiensi), Empathy (empati), Ethics (etika), Eling (mengingat Tuhan Yang Maha Esa), dan Emak (keberkahan ibu).

Menurut Edi, etos kerja merupakan fondasi utama keberhasilan. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya integritas dan etika dalam perjalanan karier seseorang.

“Keberhasilan tanpa etika tidak akan bertahan lama. Karena itu, integritas harus menjadi fondasi dalam setiap tindakan dan keputusan yang kita ambil,” katanya.

Edi juga meyakini bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh dukungan keluarga dan doa orang tua.

“Doa seorang ibu memiliki kekuatan yang luar biasa. Restu dan keberkahan orang tua, khususnya ibu, merupakan salah satu faktor penting yang mendukung perjalanan hidup seseorang,” tuturnya.

Melalui buku ini, Edi menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud memberikan resep sukses kepada pembaca. Sebaliknya, ia ingin berbagi pengalaman, pelajaran, kegagalan, dan proses panjang yang membentuk perjalanan hidupnya.

“Jika ada manfaat yang dapat dipetik oleh generasi muda maupun para profesional dari kisah yang saya tuliskan, maka tujuan buku ini telah tercapai,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jabatan Lepas, Borgol Terpasang: Jalan Terjal Dadan Hindayana Usai Lengser dari BGN

3 Juni 2026 - 19:20

Dadan Hindayana Dicopot, Prabowo Tunjuk Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional

2 Juni 2026 - 22:01

Nadiem, Jaket Gojek 001, dan Upaya Mengingat Masa Perjuangan

2 Juni 2026 - 18:47

Publik Salah Fokus saat Mensos Temui Teddy Indra Wijaya, Foto Bareng Prabowo di Paris Justru Jadi Bintang Utama

2 Juni 2026 - 13:16

Gerai Koperasi Merah Putih Rp1,6 Miliar Tuai Sorotan, Netizen Pertanyakan Bangunan Setengah Seng

2 Juni 2026 - 13:08

Trending di Nasional