Menu

Mode Gelap
“Londo Ireng” Ramai Dibahas, Sejarah Leluhur Prabowo Ikut Jadi Sorotan Musik Keras Tiap Malam, Kafe di Menteng Sudah Lama Dikeluhkan Warga Sebelum Bentrokan Berdarah Modus Janji Kredit Miliaran, Dwi Febrie Endaryanto Resmi Dilaporkan ke Polda Metro Jaya Status Febrie Adriansyah Resmi Jadi Tersangka, Ditahan Tanpa Borgol dan Rompi Pink: Privilege atau SOP? DPC PKB Kota Bekasi Patok Target 7 Kursi di Pemilu 2029 di Harlah ke-28 Pidato Prabowo Lagi-Lagi Bikin Ramai: Kali Ini Jurnalis, LSM, dan Pengamat Disebut “Londo Ireng”

Sejarah

“Londo Ireng” Ramai Dibahas, Sejarah Leluhur Prabowo Ikut Jadi Sorotan

badge-check

Pidato Presiden Prabowo tentang “Londo Ireng” memicu perdebatan. Warganet menyoroti sejarah leluhur dari garis ibu dan ayah, sementara sejarawan mengingatkan pentingnya memahami konteks sejarah secara utuh. Perbesar

Pidato Presiden Prabowo tentang “Londo Ireng” memicu perdebatan. Warganet menyoroti sejarah leluhur dari garis ibu dan ayah, sementara sejarawan mengingatkan pentingnya memahami konteks sejarah secara utuh.

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Ada satu hal yang selalu berhasil dilakukan media sosial Indonesia: mengubah potongan pidato menjadi bahan diskusi berjilid-jilid. Kali ini, yang menjadi pemantik adalah pidato Presiden Prabowo Subianto yang menyebut istilah “Londo Ireng”.

Istilah tersebut sontak ramai diperbincangkan publik. Dalam pidatonya, Prabowo menggunakan sebutan itu untuk menggambarkan pribumi pada masa kolonial yang membantu pemerintahan Hindia Belanda menghadapi bangsanya sendiri. Istilah itu kemudian dikaitkan dengan pihak-pihak yang menurutnya kerap mengkritik pemerintah dan diduga mendapat dukungan dari pihak asing.

Tak butuh waktu lama, percakapan di media sosial bergeser dari pidato menuju sejarah keluarga Presiden. Sejumlah warganet menelusuri berbagai arsip kolonial dan penelitian sejarah yang menyebut nama Benjamin Thomas Sigar (1790–1879), yang dikenal sebagai salah satu leluhur Prabowo dari garis ibu.

Dalam sejumlah dokumen sejarah, Benjamin Thomas Sigar disebut pernah memimpin Pasukan Tulungan (Hulptroepen) dari Minahasa di bawah komando militer Belanda saat berlangsungnya Perang Jawa 1825–1830. Pasukan tersebut dilaporkan pernah diterjunkan dalam operasi militer menghadapi laskar Pangeran Diponegoro, termasuk pada rangkaian operasi menjelang penangkapan Diponegoro di Magelang pada Maret 1830.

Namun, cerita mengenai silsilah keluarga Prabowo tidak berhenti di situ.

Dari garis ayah, terdapat catatan keluarga yang menyebut salah satu leluhurnya justru berpihak kepada Pangeran Diponegoro dan ikut berjuang melawan pemerintahan kolonial Belanda dalam perang yang sama. Narasi ini kemudian ikut mencuat di tengah perdebatan publik, memperlihatkan bahwa sejarah keluarga besar dapat memiliki latar yang berbeda-beda.

Perbincangan pun berkembang. Sebagian pengguna media sosial menggunakan kembali istilah “Londo Ireng” untuk mengaitkan dengan sejarah tersebut. Di sisi lain, sejumlah sejarawan mengingatkan agar masyarakat tidak menarik kesimpulan secara sederhana terhadap peristiwa yang terjadi hampir dua abad lalu.

Menurut pandangan para sejarawan, situasi pada masa kolonial memiliki dinamika politik, sosial, dan keamanan yang jauh lebih kompleks. Perekrutan prajurit pribumi oleh pemerintah kolonial tidak selalu dapat dipahami sebagai persoalan keberpihakan semata, melainkan juga dipengaruhi hubungan antarkerajaan, kondisi daerah, hingga kebijakan militer pada masa itu.

Karena itu, penggunaan istilah tertentu untuk menilai tokoh atau kelompok dalam konteks sejarah dinilai perlu disertai pemahaman yang utuh terhadap latar belakang zamannya.

Perdebatan mengenai pidato Presiden Prabowo akhirnya tidak hanya berhenti pada makna istilah “Londo Ireng”, tetapi juga membuka kembali diskusi publik mengenai bagaimana sejarah dipahami, ditafsirkan, dan digunakan dalam ruang politik maupun media sosial saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Kisah Skandal Sum Kuning: Dari Korban Jadi Tersangka, Saat Hukum Tunduk pada Kuasa

26 April 2026 - 23:45

Benarkah Firaun Tewas Tenggelam? Temuan Ilmiah Ini Malah Berujung Jadi Bahan Candaan

6 April 2026 - 10:46

Mengenang Tragedi Mudik 2016 di Brexit, Macet Ekstrem yang Berujung Duka dan Pilu

26 Februari 2026 - 11:56

Perang Tanpa Peluru: Agus Salim, Baswedan, dan Diplomasi yang Menyelamatkan Republik

28 Desember 2025 - 12:41

Kenapa Toraja Kristen Sedangkan Tetangganya Islam? Ini Fakta Sejarah yang Jarang Diketahui

2 Desember 2025 - 15:31

Trending di Sejarah