PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Ada satu hal yang selalu berhasil dilakukan media sosial Indonesia: mengubah potongan pidato menjadi bahan diskusi berjilid-jilid. Kali ini, yang menjadi pemantik adalah pidato Presiden Prabowo Subianto yang menyebut istilah “Londo Ireng”.
Istilah tersebut sontak ramai diperbincangkan publik. Dalam pidatonya, Prabowo menggunakan sebutan itu untuk menggambarkan pribumi pada masa kolonial yang membantu pemerintahan Hindia Belanda menghadapi bangsanya sendiri. Istilah itu kemudian dikaitkan dengan pihak-pihak yang menurutnya kerap mengkritik pemerintah dan diduga mendapat dukungan dari pihak asing.
Tak butuh waktu lama, percakapan di media sosial bergeser dari pidato menuju sejarah keluarga Presiden. Sejumlah warganet menelusuri berbagai arsip kolonial dan penelitian sejarah yang menyebut nama Benjamin Thomas Sigar (1790–1879), yang dikenal sebagai salah satu leluhur Prabowo dari garis ibu.
Dalam sejumlah dokumen sejarah, Benjamin Thomas Sigar disebut pernah memimpin Pasukan Tulungan (Hulptroepen) dari Minahasa di bawah komando militer Belanda saat berlangsungnya Perang Jawa 1825–1830. Pasukan tersebut dilaporkan pernah diterjunkan dalam operasi militer menghadapi laskar Pangeran Diponegoro, termasuk pada rangkaian operasi menjelang penangkapan Diponegoro di Magelang pada Maret 1830.
Namun, cerita mengenai silsilah keluarga Prabowo tidak berhenti di situ.
Dari garis ayah, terdapat catatan keluarga yang menyebut salah satu leluhurnya justru berpihak kepada Pangeran Diponegoro dan ikut berjuang melawan pemerintahan kolonial Belanda dalam perang yang sama. Narasi ini kemudian ikut mencuat di tengah perdebatan publik, memperlihatkan bahwa sejarah keluarga besar dapat memiliki latar yang berbeda-beda.
Perbincangan pun berkembang. Sebagian pengguna media sosial menggunakan kembali istilah “Londo Ireng” untuk mengaitkan dengan sejarah tersebut. Di sisi lain, sejumlah sejarawan mengingatkan agar masyarakat tidak menarik kesimpulan secara sederhana terhadap peristiwa yang terjadi hampir dua abad lalu.
Menurut pandangan para sejarawan, situasi pada masa kolonial memiliki dinamika politik, sosial, dan keamanan yang jauh lebih kompleks. Perekrutan prajurit pribumi oleh pemerintah kolonial tidak selalu dapat dipahami sebagai persoalan keberpihakan semata, melainkan juga dipengaruhi hubungan antarkerajaan, kondisi daerah, hingga kebijakan militer pada masa itu.
Karena itu, penggunaan istilah tertentu untuk menilai tokoh atau kelompok dalam konteks sejarah dinilai perlu disertai pemahaman yang utuh terhadap latar belakang zamannya.
Perdebatan mengenai pidato Presiden Prabowo akhirnya tidak hanya berhenti pada makna istilah “Londo Ireng”, tetapi juga membuka kembali diskusi publik mengenai bagaimana sejarah dipahami, ditafsirkan, dan digunakan dalam ruang politik maupun media sosial saat ini.











