Menu

Mode Gelap
Setelah Lama Ribut Soal Ijazah, Rismon Sianipar Akhirnya Datangi Rumah Jokowi di Solo Samsung Galaxy S26 Ultra Punya Kamera 200MP Lebih Terang, Hasil Uji DxOMark: iPhone 17 Pro Masih Unggul Penuh Makna, Video Musik “Ada Titik-Titik di Ujung Doa” dari Sal Priadi Tampilkan Pergulatan Batin Seorang Ayah Grand Opening Watch Club Puri Indah Mall: Diskon, Undian Jam Tangan, dan Koleksi Premium Peneliti Temukan Hacker Iran Sudah Menyusup ke Sistem Bank, Perusahaan, dan Bandara AS Terungkap! Inilah Pembunuh Ermanto, Pensiunan Karyawan JICT yang Tewas di Bekasi

News

Massa Geruduk UGM, Font Times New Roman Dituding Jadi Biang Kerok Ijazah Jokowi

badge-check


					foto ilustrasi (AI) Perbesar

foto ilustrasi (AI)

PRABA INSIGHT- Hari Selasa (15/4) di Yogyakarta mendadak penuh drama. Bukan karena skripsi mahasiswa yang belum kelar, tapi karena ratusan orang mendatangi kampus Universitas Gadjah Mada (UGM).

Tujuannya jelas: mempertanyakan keaslian ijazah Mantan Presiden Joko Widodo.

Dan yang jadi kambing hitam? Bukan rektor, bukan dosen, tapi… font Times New Roman.

Yup, font yang selama ini jadi penyelamat mahasiswa saat nulis skripsi itu kini dituduh jadi bukti ketidakberesan. Tudingan ini datang dari Rismon Hasiholan Sianipar, dosen Universitas Mataram sekaligus alumni UGM.

Menurutnya, ijazah dan skripsi Jokowi mencurigakan karena menggunakan font yang katanya belum eksis di era 1980-an. Langsung deh, massa bergerak.

Demo digelar. Spanduk dibentang. Teriakan “Buka data, jangan drama!” menggema di halaman kampus.

Pihak kampus tentu nggak tinggal diam. Rektor UGM, Ova Emilia, menegaskan bahwa mantan Presiden Jokowi benar-benar lulusan Fakultas Kehutanan tahun 1985.

Dokumen akademiknya? Resmi, sah, dan lengkap. “Semuanya sesuai prosedur,” tegasnya, seakan ingin bilang, “Please, ini kampus, bukan tempat jual ijazah kiloan.”

Tapi ya namanya juga sudah viral, klarifikasi nggak langsung memadamkan api. Massa tetap ingin bukti fisik, transparansi mutlak.

Sebagian bahkan mendesak agar dokumen Jokowi diperiksa dengan forensik font, kalau perlu pakai aplikasi pendeteksi tipografi ala detektif digital.

Netizen pun ikut nimbrung. Ada yang serius, ada yang nyinyir, ada juga yang iseng bikin meme: “Kalau Times New Roman salah, Arial jangan sampai kena getahnya.”

Terlepas dari semua keramaian ini, satu hal yang jelas: polemik ijazah ini bukan cuma soal dokumen, tapi juga soal trust publik. Apalagi di tengah suasana politik yang makin panas.

Dan yang paling mencengangkan? Font, yang biasanya cuma jadi syarat teknis skripsi, kini bisa jadi alasan demo besar-besaran.

Siapa sangka, Times New Roman yang tadinya dianggap biasa saja, kini malah dianggap terlalu futuristic buat tahun 1980-an?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Setelah Lama Ribut Soal Ijazah, Rismon Sianipar Akhirnya Datangi Rumah Jokowi di Solo

12 Maret 2026 - 11:29 WIB

Peneliti Temukan Hacker Iran Sudah Menyusup ke Sistem Bank, Perusahaan, dan Bandara AS

11 Maret 2026 - 11:09 WIB

Terungkap! Inilah Pembunuh Ermanto, Pensiunan Karyawan JICT yang Tewas di Bekasi

11 Maret 2026 - 10:09 WIB

BGN Hentikan Sementara 1.512 SPPG Program MBG, Terkendala Sertifikat Sanitasi hingga IPAL

11 Maret 2026 - 03:18 WIB

Viral Video Lele Mentah di MBG Pamekasan, BGN Klarifikasi, Katanya Ada Telur, Susu hingga Buah

11 Maret 2026 - 03:02 WIB

Trending di Nasional