Menu

Mode Gelap
KAUP Gelar PentaSeni 2026 di Kampus Pancasila, Jadi Momen Perpisahan Kepengurusan Dasco Rakernas Perdana Haidar Alwi Institute di Tengah Dinamika Politik Nasional Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring Tragis! Rumah Dijaminkan demi Tolong Orang, YAM Justru Dipenjara Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang

News

THR untuk Ojol: Sebuah Kisah 20 Persen

badge-check


					foto Ojol (ist)
Perbesar

foto Ojol (ist)

PRABAINSIGHT.COM – BEKASI – Andi Wijaya menarik napas panjang. Motor matiknya berhenti di pinggir trotoar dekat Stasiun Bekasi, tempat biasa ia menunggu orderan. Hari ini panasnya luar biasa, tapi ada kabar yang sedikit mendinginkan hati: tahun depan, pengemudi ojol bakal dapat THR.

“Walaupun cuma 20 persen dari rata-rata penghasilan, ya Alhamdulillah,” gumamnya, menatap layar ponselnya yang baru saja menampilkan berita soal keputusan Menteri Ketenagakerjaan.

Sebagai ojol full-time, Andi tahu dirinya aman. Syaratnya? Minimal 250 orderan dalam sebulan dan online sembilan jam sehari. “Santai, saya lebih dari itu. Orderan banyak, rating masih 5. Harusnya THR masuk,” ujarnya dalam hati.

Dengan pendapatan sekitar empat juta sebulan, ia menghitung-hitung. Mungkin THR-nya sekitar enam ratus sampai delapan ratus ribu. Lumayan buat beli baju lebaran anaknya, atau sekadar nambah-nambah biaya mudik.

Tapi ada yang mengganjal di benaknya.

Dua tahun lalu, ia pernah dengar gosip soal THR untuk ojol, tapi akhirnya cuma jadi angin lalu. Paling mentok, bonus trip dadakan yang kadang malah bikin driver kejar target sampai lupa pulang. Kali ini, janji itu ada dalam Surat Edaran Menteri. Resmi. Hitam di atas putih.

Seorang rekan sesama driver lewat, melambatkan motornya di sebelah Andi. “Bro, udah denger soal THR?” tanyanya sambil melepas helm.

Andi mengangguk. “Udah. Lumayan lah, meskipun cuma 20 persen.”

“Kecil banget sih, ya,” balas temannya, menghela napas. “Tapi daripada enggak sama sekali…”

Andi tersenyum. “Iya, 20 persen lebih baik daripada nol persen.”

Ia meraih ponselnya lagi. Notifikasi masuk. Satu orderan baru. Dengan gerakan cekatan, ia menarik gas. THR masih setahun lagi, tapi orderan yang satu ini? Tak bisa ditunda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KAUP Gelar PentaSeni 2026 di Kampus Pancasila, Jadi Momen Perpisahan Kepengurusan Dasco

9 Februari 2026 - 17:48 WIB

Rakernas Perdana Haidar Alwi Institute di Tengah Dinamika Politik Nasional

9 Februari 2026 - 17:38 WIB

Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi

6 Februari 2026 - 15:26 WIB

Gelar UKW dan Pelatihan Digital, Sandri Rumanama Ingatkan Pers Jangan Tunduk

5 Februari 2026 - 12:30 WIB

Ketika Mens Rea Dipersoalkan, Pandji Pragiwaksono Menempuh Jalan Dialog

3 Februari 2026 - 13:56 WIB

Trending di News