PRABA INSIGHT – SEMARANG – Misteri kematian Dwinanda Linchia Levi (35) dosen muda Untag Semarang yang ditemukan tak bernyawa dan tanpa busana di sebuah kostel pelan-pelan mulai menemukan bentuknya. Bukan sekadar kasus “orang meninggal di kamar”, cerita di baliknya ternyata jauh lebih berlapis daripada kue ulang tahun tiga tingkat.
Sosok yang disebut-sebut sebagai saksi kunci, AKBP Basuki, bukan hanya kenalan lewat pertemanan duniawi. Menurut sejumlah rekan Levi, hubungan keduanya jauh lebih pelik: campuran antara asmara, ketidakpastian status, dan persoalan rumah tangga yang menggantung seperti jemuran saat musim hujan.
Curhat yang Terceplos di Kantin Kampus
Kastubi, rekan sesama dosen, adalah salah satu orang yang paling vokal mengingat peristiwa sebelum Levi ditemukan tewas. Ia mengaku sempat memberikan peringatan keras tiga hari sebelumnya peringatan yang kini terasa seperti firasat buruk yang tak digubris.
“Saya ingatkan hati-hati pacaran dengan polisi. Banyak polisi yang sumbu pendek, emosional. Ketika pacarnya jalan dengan laki-laki lain, tiba-tiba mengamuk,” ujar Kastubi, mengenang momen itu di kantin kampus.
Waktu itu Levi hanya tertawa. Mungkin menganggap nasihat itu sekadar kekhawatiran berlebihan dari senior yang terlalu rajin baca berita kriminal.
Hubungan “Tanpa Ikatan”, tapi Semua Orang Tahu
Menurut Kastubi, hubungan Levi dan Basuki sudah berjalan sejak awal 2024. Bahkan, di lingkungan tertentu, keduanya dikenal dekat dan sering terlihat tinggal bersama di kostel tempat Levi akhirnya ditemukan meninggal.
Masalahnya: AKBP Basuki masih beristri.
Statusnya disebut bukan cerai, tapi sekadar “pisah ranjang”.
“Kata Levi, AKBP Basuki sudah pisah sama istri sahnya, bukan cerai, tapi pisah,” ujar Kastubi.
Kastubi juga menambahkan bahwa Levi memang punya ketertarikan khusus pada laki-laki berseragam polisi. Bukan yang pertama, bukan pula yang terakhir—walau motifnya ia sendiri mengaku tak paham.
Versi Saksi Kunci: “Cuma Teman Kasihan”
Keterangan Basuki berbeda 180 derajat. Ia menolak semua dugaan hubungan asmara, menegaskan bahwa keberadaannya di kamar bersama Levi hanyalah wujud simpati karena Levi yatim piatu dan kebetulan sedang sakit.
Namun, penjelasan itu beradu keras dengan fakta penemuan jenazah pada Senin, 17 November 2025.
Levi ditemukan terlentang tanpa busana, dengan darah keluar dari hidung, mulut, dan area intim, sementara AKBP Basuki berada di kamar tersebut. Situasi yang, mau tak mau, menimbulkan lebih banyak tanda tanya daripada jawaban.
Desakan: Jangan Hanya Visum, Buka Akses Digital!
Rekan kerja dan alumni Untag mendesak kepolisian untuk memperluas penyelidikan. Tidak cukup hanya mengandalkan visum fisik, melainkan juga digital forensik terhadap ponsel Levi dan ponsel AKBP Basuki.
Mereka khawatir kasus ini terjebak dalam bias institusional, terlebih karena pihak yang diduga terlibat adalah anggota kepolisian aktif.
“Kami harap kasus ini dibuka secara terang benderang tanpa ada kesan kepolisian melindungi oknum,” tegas pihak kampus.
Jika benar hubungan asmara menjadi kunci dari kematian tragis ini, maka publik hanya berharap satu: kebenaran tak ikut terkubur bersama Levi. Karena yang rumit bukan hanya hubungan mereka, tetapi juga jalan menuju keadilan yang harus dibuka seterang mungkin.
Penulis : Ris Tanto | Editor : Ivan






