PRABAINSIGHT.COM, BEKASI – Angka penyimpangan seksual dan kasus HIV di Kota Bekasi, tampaknya makin bikin dahi mengkerut. Bayangin aja, dengan estimasi sekitar 6.000 pelaku LGBTQ dan pengidap HIV di Kota Patriot ini, parlemen Kalimalang akhirnya bergerak cepat mengambil tindakan konkret.
DPRD Kota Bekasi kini tengah mengebut Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pencegahan dan Penanggulangan Penyimpangan Seksual, termasuk aturan turunan pelarangan LGBTQ.
Isu krusial tersebut diangkat langsung oleh Anggota DPRD Kota Bekasi, Chairun Nisa, usai menggelar agenda reses di wilayah RW 08, Kelurahan Bintara, Kecamatan Bekasi Barat, Sabtu (11/7/2026).
Menurut Nisa, payung hukum ini sengaja disiapkan bersama Pemerintah Kota Bekasi, untuk menjawab tuntutan masalah yang ada di masyarakat saat ini.
“Hari ini kita bicara tentang ketahanan keluarga. Pemerintah Kota Bekasi dan DPRD sudah mempersiapkan segala rancangan peraturan daerah, tuntutan masalah perlindungan seksual,” ujar Nisa.
Nisa menegaskan, perda ini nantinya akan memperkuat regulasi nasional yang sudah disahkan di tingkat pusat.
“Mudah-mudahan yang terkait dengan LGBTQ, meneruskan undang-undang yang baru saja ditetapkan, ikutannya di Kota Bekasi pun akan bisa segera kita realisasikan,” tambahnya.
Di hadapan warga dan jemaah yang hadir, legislator dari PKS ini mengingatkan pentingnya peran orang tua di rumah. Baginya, moral anak-anak tidak bisa dilepaskan begitu saja tanpa pengawasan.
“Saya sampaikan kepada warga agar kita betul-betul menjaga keluarga kita, karena keluarga adalah benteng pertahanan dalam menciptakan generasi emas. Jadi ini penting banget,” tegas Nisa.
Biar para ibu punya modal mental yang kuat, Nisa bahkan sengaja mengundang tokoh agama muda, dalam agenda reses tersebut.
“Saya mengundang seorang penceramah muda untuk memberikan sebuah motivasi kepada ibu-ibu. Contoh-contoh di dalam sejarah Islam ada tiga perempuan hebat yang menghadapi tirani di zaman Firaun,” jelasnya.
Nisa berharap, pembekalan spiritual ini bisa berdampak panjang bagi lingkungan sosial di Kota Patriot.
“Mudah-mudahan menjadi satu pembelajaran bahwa dengan ibadah kita yang baik kepada Allah, maka kita para ibu bisa membangun peradaban di Kota Bekasi yang menghadirkan kota yang aman, nyaman, dan warganya merasakan kesejahteraan,” urainya.
Saat disinggung mengenai efektivitas pendekatan tersebut ke anak muda, Nisa mengakui kalau tantangan zaman sekarang emang jauh lebih berat karena pengaruh lingkaran pertemanan.
“Kita meyakinkan ibu-ibu untuk betul-betul memperhatikan anak-anak agar selektif dalam memilih pertemanan. Karena pengaruh teman ini tentu saja luar biasa kepada pembentukan mental dan jiwa anak-anak,” kata Nisa.
Nisa juga menegaskan sikap politiknya terkait dinamika sosial ini. Ia membedakan mana hal yang bisa ditoleransi dan mana yang harus dilawan.
“Kita harus tidak capek-capek mengkampanyekan betapa berbahayanya penyimpangan seksual. Kita bisa menerima perbedaan, tapi untuk penyimpangan kita tentang,” cetusnya.
Melihat polanya yang makin kabur, Nisa bahkan mendukung penuh jika regulasi hukum memposisikan penyimpangan seksual ekstrem sebagai tindakan kriminal.
“Dengan adanya undang-undang tentang LGBTQ dan sebagai kejahatan, itu juga saya rasa saya mendukung,” lanjut Nisa.
Namun, Nisa sadar betul kalau anak muda zaman sekarang nggak bakal mempan kalau cuma dicekoki ceramah atau dilarang-larang secara sporadis.
Makanya, alih-alih cuma bicara teori, Nisa mendorong pendekatan yang langsung menyentuh akar masalah anak muda Gen Z dan Milenial: urusan isi dompet.
“Masalah utama masyarakat saat ini lah masalah ekonomi. Maka di sini pun ada pelatihan-pelatihan untuk Gen Z dan milenial. Pelatihan affiliate marketing dan cooking class. Insya Allah dalam waktu dekat barista. Ini kan semua objeknya adalah anak-anak muda, jadi kita langsung kepada closing problem,” beber Nisa.
Selain program ekonomi, Nisa memastikan gerakan ini akan diperluas lewat jaringan kepemudaan partainya secara masif ke wilayah-wilayah lain di Kota Bekasi.
“Secara sporadis kami sudah melakukan di wilayah-wilayah. Kami pun di PKS punya komunitas anak muda. Jadi itu pastinya kita jadikan mereka adalah orang-orang yang bisa membuka pikiran teman-teman sebayanya betapa berbahayanya LGBTQ,” pungkasnya.
Pada akhirnya, Raperda Ketahanan Keluarga atau aturan anti-LGBTQ yang lagi digodok dewan ini emang kelihatan mentereng di atas kertas.
Tapi modal aturan hukum doang jelas nggak bakal cukup, kalau pengawasan dari orang tua masih kendor di rumah.
Karena sekuat apa pun perda dibuat, benteng terakhir anak muda Kota Bekasi biar nggak salah jalan, tetep ada di meja makan rumah mereka sendiri, bukan di ruang sidang dewan.







