Menu

Mode Gelap
Rakernas HAI dan Bintang Mahaputera: Isyarat Kepercayaan Presiden pada Kapolri Pulogebang Memanas! Warga Terancam Tergusur, Mafia Tanah Diduga Bermain Sandri Rumanama Menilai Peran Polri dalam Program Gizi Layak Diganjar Bintang Mahaputra Bersih-bersih Seragam: 34 Personel Polri Di-PTDH, Nama Konten Kreator Ikut Terseret Belajar Ngaji atau Jadi Korban? Dugaan Pelecehan di Ponpes Muna Barat yang Bikin Orang Tua Merinding Menikmati Wagyu hingga Daechang di Gahyo Cikarang, Restoran Korea Favorit Pebisnis

Crime

Dari Asmara ke Amarah: Mutilasi Alvi Maulana yang Menggegerkan Mojokerto

badge-check


					Alvi Maulana tega memutilasi kekasihnya TAS hingga ratusan potongan tubuh. Kasus horor di Surabaya-Mojokerto ini gegerkan publik.(foto: Ist) Perbesar

Alvi Maulana tega memutilasi kekasihnya TAS hingga ratusan potongan tubuh. Kasus horor di Surabaya-Mojokerto ini gegerkan publik.(foto: Ist)

PRABA INSIGHT – SURABAYA – Cinta memang banyak bentuknya. Ada yang bikin orang rajin nabung demi nikahin pujaan hati, ada juga yang bikin orang jadi penyair dadakan. Tapi ada juga dan ini yang bikin kita semua merinding cinta yang berubah jadi tragedi dengan aroma darah dan potongan tubuh.

Polres Mojokerto baru saja mengungkap kasus mutilasi paling anyar. Pelakunya, Alvi Maulana (24), anak muda lulusan Teknik Informatika Universitas Trunojoyo Madura yang sehari-hari nyambi jadi ojol. Korbannya, TAS (25), kekasih sekaligus istri sirinya yang juga alumni kampus yang sama.

Keduanya tinggal seatap di kamar kos sederhana di Surabaya sejak April 2025. Dari luar sih, tampak kayak pasangan biasa—sama-sama pegang ijazah S1, sama-sama merantau, sama-sama mencoba bertahan hidup. Tapi siapa sangka, hubungan lima tahun itu berakhir dengan potongan tubuh berserakan.

Dari Kos Surabaya ke Semak Mojokerto

Kasus ini terbongkar bukan karena laporan keluarga, bukan pula karena CCTV. Tapi gara-gara seorang bapak bernama Suliswanto yang cuma mau cari rumput buat pakan ternak, malah ketemu potongan tubuh manusia di semak-semak Pacet-Cangar, Mojokerto.

Bayangkan, niat awal nyari makan sapi, pulangnya malah trauma seumur hidup. Polisi lalu bergerak cepat, dan hasilnya? Ada sekitar 70 potongan tubuh ditemukan di lokasi. Bukan puzzle, bukan patung, tapi manusia.

Identitas korban terungkap lewat alat bernama MAMBIS (Mobile Automated Multi-Biometric Identification System), semacam “shazam untuk sidik jari”. Dari situ diketahui korban adalah TAS. Polisi lalu menggerebek kos pasangan ini di Surabaya, dan makin ngeri: ada lebih dari 100 potongan tubuh di kamar mereka.

Motif: Sakit Hati yang Kebangetan

Menurut pengakuan Alvi, alasan mutilasi ini karena “sakit hati”. Persoalannya, sakit hati yang mana? Apakah karena sering dikunci dari luar? Atau karena ribut-ribut sepele ala pasangan yang belum siap berumah tangga? Polisi masih mendalami.

Tetangga kos sih sering dengar keduanya cekcok. Kadang Alvi pulang malam-malam, pintu dikunci, lalu ribut besar. Tapi ya namanya orang kos, pada malas ikut campur. Maklum, di negeri +62, privasi orang sering dianggap lebih sakral ketimbang nyawa.

Mojokerto dan Kutukan Kasus Mutilasi

Yang bikin makin seram, Pacet-Cangar Mojokerto ini kayak punya “sejarah horor” sendiri. Tahun 2023, di lokasi yang sama ditemukan mayat mahasiswi Universitas Surabaya dalam koper. Tahun 2025 awal, ada juga kasus mutilasi di Kediri, jasadnya disebar di berbagai daerah Jawa Timur.

Entah kebetulan atau tidak, daerah ini seperti “Google Maps” favorit pelaku mutilasi. Hutan, sepi, jauh dari keramaian, cocok buat buang barang bukti dan sayangnya, yang dibuang bukan motor curian, tapi manusia.

Sakit Hati, Psikologi, dan Batas Kewarasan

Menurut Guru Besar Psikologi Universitas Airlangga, Suryanto, sakit hati memang bisa jadi bensin paling murah untuk menggerakkan orang melakukan hal-hal di luar nalar. Campuran cemburu, marah, bosan, dan dendam bisa jebolkan benteng psikologis seseorang.

Tapi, kalau kita renungkan, sakit hati sebenarnya pengalaman semua orang. Bedanya, sebagian besar memilih curhat ke teman, nangis di kasur, atau bikin status galau di medsos. Nah, sebagian kecil yang tragis justru memilih jalan darah.

Kasus Alvi dan TAS ini jelas bukan sekadar “drama pasangan muda”. Ini alarm keras bahwa sakit hati bisa jadi mesin pembunuh kalau tidak dikelola dengan sehat.

Jadi, lain kali kalau dengar orang bilang, “Aku sakit hati banget,” jangan dianggap enteng. Bisa jadi, itu permulaan kisah horor berikutnya. (VAN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Belajar Ngaji atau Jadi Korban? Dugaan Pelecehan di Ponpes Muna Barat yang Bikin Orang Tua Merinding

10 Februari 2026 - 09:29 WIB

Perampokan Rasa Iblis: Harta Disikat, Bocah 5 Tahun Dibunuh di Boyolali

30 Januari 2026 - 08:49 WIB

Warung Kerap Dicuri, Pemilik di Bekasi Justru Ditetapkan sebagai Tersangka

24 Januari 2026 - 10:41 WIB

Kotak Amal Jadi Modal Judi, 23 Orang Asal Lampung Digerebek di Hotel

22 Januari 2026 - 06:46 WIB

Sidang Brigadir Nurhadi, Jaksa Ungkap Petunjuk Motif dari Kesaksian

16 Januari 2026 - 09:31 WIB

Trending di Crime