PRABA INSIGHT – BEKASI – Ada pemandangan yang cukup epik dan bukan dalam arti positif di Gedung DPRD Kota Bekasi. Saat para anggota dewan sedang serius membahas soal penyertaan modal daerah, sang pemohon anggaran, Ali Imam Faryadi, Dirut Perumda Tirta Patriot, justru terlihat melakukan kegiatan yang sama sekali tidak masuk dalam agenda rapat: tidur nyenyak.
Video momen tersebut beredar luas dan langsung menjadi santapan empuk warganet. Bagaimana tidak? Di tengah pembahasan seputar nasib perusahaan air minum daerah dan dana yang tidak kecil, sang dirut malah terlihat tenggelam dalam mimpi dengan khusyuk matanya terpejam dan tubuhnya bersandar seolah berada di ruang spa, bukan ruang rapat.
Padahal, rapat ini masuk kategori “rapat super serius”, di mana seorang dirut seharusnya tampil prima, penuh argumen, dan siap menjawab segala pertanyaan dewan. Namun, yang terekam kamera justru adegan meditatif yang tidak direncanakan.
Yang membuat publik makin geleng kepala adalah respons dari dalam ruangan. Alih-alih ditegur tegas, beberapa anggota DPRD terdengar membela sang dirut. Pembelaan ini dianggap banyak orang sebagai sesuatu yang tidak objektif, bahkan dianggap menormalisasi tindakan yang jelas-jelas tidak profesional.
Pertanyaan pun bermunculan:
Sejak kapan tidur saat rapat penting dianggap wajar?
Dan lebih penting lagi, sejak kapan rapat penyertaan modal berubah menjadi jam tidur siang?
Jika DPRD memilih diam, publik di media sosial justru bergerak cepat. Kolom komentar langsung banjir satire dan humor khas warga +62. Salah satu komentar yang paling viral datang dari akun TikTok @matadaun:
“Tidur di ruangan penuh orang dan suara? Jangan-jangan dia atlet tidur nasional.”
Sindiran ini menyinggung kemampuan sang dirut yang bisa tertidur pulas di tengah suasana rapat tegang suatu bakat langka yang mungkin hanya dimiliki atlet profesional cabang rebahan.
Sampai sekarang, baik DPRD maupun manajemen PDAM Tirta Patriot masih memilih mode silent treatment. Tidak ada klarifikasi apakah Ali Imam sedang sakit, kelelahan kerja demi air bersih masyarakat, atau sekadar kalah melawan dinginnya AC ruangan.
Yang jelas, publik kini menanti penjelasan resmi di balik apa yang mungkin menjadi “tidur siang termahal” di Kota Bekasi.
Penulis : Ristanto | Editor : Ivan











