PRABAINSIGHT.COM – JOMBANG – Di atas kertas, sekolah itu tempat murid belajar, guru mengajar, dan masa depan dipupuk pelan-pelan. Tapi di Jombang, sebuah SMP negeri justru menghadirkan cerita yang bikin dahi berlipat: seorang guru yang seharusnya jadi panutan malah diduga berubah jadi sumber trauma.
Kasusnya mencuat bukan lewat pidato, bukan lewat rapat komite, tapi lewat tangkapan layar percakapan bernada tidak pantas. Chat yang beredar di lingkungan sekolah itu diduga melibatkan sang guru dan seorang siswi. Setelah itu, seperti pintu yang sudah terlanjur terbuka, cerita lain ikut keluar.
Seorang siswa laki-laki akhirnya ikut bersuara. Ia mengaku mengalami hal serupa. Lebih ironis lagi, dugaan pelecehan itu disebut sudah terjadi sejak masa MPLS periode ketika anak baru justru sedang belajar mengenal lingkungan sekolah, bukan predator berkedok pendidik.
Modusnya klasik, sayangnya masih tetap efektif: mengajak korban ke rumah dengan alasan mengerjakan tugas. Orang tua tentu percaya, namanya juga guru. Tapi di balik dalih “pendampingan akademik”, dugaan perilaku tak pantas justru terjadi. Korban pun tak cuma terluka, tapi juga dibebani ancaman mulai dari nilai pelajaran hingga tekanan psikologis agar tetap diam.
Diam itu bertahan… sampai bukti percakapan tersebar, dan cerita tak lagi bisa disapu ke bawah karpet.
Keluarga korban akhirnya melapor ke Unit PPA Satreskrim Polres Jombang. Polisi membenarkan laporan diterima dan kini sedang menyelidiki termasuk menunggu hasil visum dan memeriksa saksi-saksi. Pihak sekolah sendiri mengaku sudah memanggil guru tersebut untuk klarifikasi. Namun sebelum semuanya terang, sang guru yang disebut berstatus honorer sudah lebih dulu tak lagi aktif di sekolah menjelang libur semester. Mengundurkan diri? Dipindahkan? Atau… menghilang dari radar? Publik cuma bisa menebak.
Di luar sana, warganet ramai bereaksi. Marah, geram, lelah karena kasus seperti ini seperti kaset lama yang terus diputar ulang: beda pelaku, beda lokasi, tapi selalu dengan pola yang mirip.
Padahal, sekolah semestinya menjadi ruang aman: tempat murid belajar tumbuh, bukan belajar bertahan dari rasa takut. Sebab kalau guru bisa berubah jadi predator, murid akhirnya dipaksa dewasa lebih cepat dari yang seharusnya.
Dan itu, jelas bukan bagian dari kurikulum siapa pun.
Editor : Irfan Ardhiyanto











