Menu

Mode Gelap
Wasekjend Depinas SOKSI Nilai Serangan Deddy Sitorus ke Bahlil Cerminkan Kemunduran Etika Politik PDIP Aktivis 98 Agung Dekil: Komitmen Prabowo Berantas Korupsi Wujud Nyata Amanat Reformasi 1998 Sahabat MUI Kota Bekasi Gelar Raker I, Desak Pengawasan LGBT dan Narkoba Tak Cukup Mundur? Bandot DM Sebut Febrie Masih Sah Jadi Jampidsus karena Keppres Belum Dicabut Kronologi Lengkap Pembunuhan Driver Ojol di Tangerang: Pelaku Batalkan Bunuh Diri lalu Begal karena Tertekan Biaya Nikah Buntut Sidang Tipikor, Kadis SDABMBK Kabupaten Bekasi Dilaporkan ke KPK

News

Habitat Tesso Nilo Menciut Drastis, Gajah Kian Terdesak

badge-check

Habitat Tesso Nilo Menciut Drastis, Gajah Kian Terdesak Perbesar

PRABA INSIGHT – Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) sekarang kondisinya mirip baju yang kebanyakan dicuci: makin lama makin menciut. Dari yang dulu gagah seluas 81.793 hektare, kini tersisa tinggal 12.561 hektare hutan alami. Sisanya? Ya, seperti biasa: hilang entah ke mana, tapi kita semua bisa menebak penyebabnya.

Kepala Balai TNTN, Heru Sutmantoro, bilang pihaknya sedang berusaha ngebut menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan. Tim percepatan pemulihan ekosistem bakal memperkuat pengamanan, merapikan kembali hulu sungai, dan tetap menjalankan sosialisasi rencana relokasi warga. Meski, tentu saja, rencana itu disambut dengan penolakan karena siapa sih yang mau direlokasi tiba-tiba?

Heru mengingatkan satu hal penting: gajah juga butuh ruang hidup yang layak, bukan sekadar jadi ikon lucu di poster konservasi. Merujuk The Elephant Sanctuary in Tennessee, satu ekor gajah butuh makan 68–90 kg per hari. Itu baru makanannya. Belum lagi kebiasaan mereka yang bisa jalan dan makan sampai 20 jam—lebih produktif dari kita yang kadang ngedumel kerja delapan jam saja.

Selain rakus dalam hal makan, gajah juga punya peran serius di ekosistem. Mereka penyebar benih alami, sekaligus produsen pupuk organik berjalan. Iya, kotoran mereka itu literal gold buat hutan.

Secara ekologis, gajah Asia butuh wilayah jelajah 200–1.000 km². Kalau dikonversi, minimal 20.000 hektare untuk satu gajah. Satu, ya. BUKAN satu kawanan. Jadi, bisa bayangkan bagaimana kacaunya kalau habitatnya menyusut segede itu?

Penyempitan lahan karena alih fungsi membuat gajah liar makin terdesak, salah tingkah, dan tidak bisa memenuhi kebutuhan ruang hidupnya. Mau jalan saja sudah seperti cari kos-kosan murah di kota besar: sempit, rebutan, dan kadang-kadang bikin stres sampai ngamuk.

Tesso Nilo butuh pemulihan, dan para gajah butuh ruang. Kalau tidak, kita tinggal menunggu babak berikutnya: konflik manusia satwa yang sebenarnya bisa dicegah kalau hutannya tidak dipreteli habis-habisan.


Penulis: Ristanto | Editor: Ivan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Kronologi Lengkap Pembunuhan Driver Ojol di Tangerang: Pelaku Batalkan Bunuh Diri lalu Begal karena Tertekan Biaya Nikah

15 Juli 2026 - 11:17

Buntut Sidang Tipikor, Kadis SDABMBK Kabupaten Bekasi Dilaporkan ke KPK

14 Juli 2026 - 19:23

Kuasa Hukum Nancy Soroti Kesaksian Dwi Febri di Sidang Sengketa Aset PN Jaksel, Siap Tempuh Jalur Hukum jika Terbukti Palsu

14 Juli 2026 - 16:48

Dugaan Mega Korupsi di Kejaksaan Jadi Ujian Penegakan Hukum, BEM PTMA Zona III Apresiasi Sikap Prabowo

12 Juli 2026 - 09:17

Masalah Data Adminduk Bekasi Utara Dibahas, Rizki Topananda Dorong Pemutakhiran

11 Juli 2026 - 15:14

Trending di News