PRABAINSIGHT.COM – BEKASI – Ada pepatah bilang tetangga adalah saudara terdekat kita. Tapi bagi seorang ibu rumah tangga di Jatirasa, Jatiasih, pepatah itu kayaknya perlu direvisi total.
Bukannya dapet bantuan pas lagi butuh, ibu ini malah dapet “hadiah” lemparan pot bunga ke jidat sampai pingsan. Benar-benar sebuah plot twist kehidupan bertetangga yang sangat tidak estetik.
Nasib malang ini menimpa seorang warga yang tinggal di Jl. Bali, RT 07/06, Jatirasa. Niatnya simpel: cuma mau ambil barang miliknya di rumah tetangga pada Selasa malam (6/5/2026). Tapi entah setan apa yang lewat, urusan ambil barang malah jadi urusan baku hantam.
Dua pria berinisial MS dan H, kini harus berurusan dengan Polres Metro Bekasi Kota, setelah dilaporkan atas dugaan penganiayaan dan pengeroyokan. Suami korban, Puguh Hendarto, nggak pakai lama langsung bikin laporan polisi demi keadilan buat sang istri.
“Saya sempat pingsan setelah dilempar pot, kena ke jidat,” curhat korban dengan dahi memar saat ditemui di RSUD Chasbullah Abdulmadjid (CAM) Kota Bekasi, Sabtu (9/5/2026).
Bayangin, lu lagi ngomong baik-baik, terus tiba-tiba ada benda keras melayang ke arah muka. Bukan cuma sakit di fisik, tapi sakit hati juga karena yang ngelakuin adalah orang yang tiap hari ketemu di depan rumah.
Konflik Sepele, Penanganan Barbar.
Kejadian yang berlangsung sekitar jam 9 malam itu kabarnya diawali dengan cekcok mulut. Namanya juga bertetangga, selisih paham itu biasa. Yang nggak biasa adalah kalau argumen lu kalah, terus pot bunga yang jadi juru bicara.
Pelaku diduga sempat mengeluarkan kata-kata “mutiara” alias makian kasar sebelum akhirnya melakukan aksi lempar pot tersebut. Akibatnya, korban harus menjalani perawatan intensif di RSUD karena luka memar dan benjol yang cukup serius di bagian dahi.
Polisi Turun Tangan.
Saat ini, berkas dengan nomor STPL tersebut sudah mendarat di meja penyidik Polres Metro Bekasi Kota. Pihak kepolisian kabarnya sudah menerima keterangan awal dan mulai mendalami kasus ini.
Kejadian ini seolah menambah daftar panjang betapa horornya konflik bertetangga, kalau nggak diselesaikan dengan kepala dingin. Alih-alih jadi ajang silaturahmi, lingkungan rumah malah jadi ring tinju dadakan.
Kita semua cuma bisa berharap, semoga proses hukumnya jalan terus dan nggak ada lagi pot bunga yang alih profesi jadi senjata tajam di Bekasi. Buat MS dan H, mungkin besok-besok kalau emosi, mending main catur aja, jangan main lempar properti rumah.







