Menu

Mode Gelap
Banjir Telan Lapas Aceh Tamiang, Imipas Lepas Napi demi Selamatkan Nyawa Gubernur Mualem Semprot Kepala Daerah: “Kalau Cengeng, Mending Mundur Saja!” Tiga Hari Tak Terungkap, Jasad Bayi Ditemukan di Plafon Sekolah Banjarnegara Banjir Memuncak, Bupati Aceh Selatan Hilang dari Lokasi Ternyata Pergi Umrah Viral Bupati Bireuen Bahas Sawit Saat Meninjau Banjir, Warganet Geram Di Tengah Lumpur dan Gelap, Gubernur Mualem Salurkan 30 Ton Sembako untuk Korban Banjir

News

Haidar Alwi: Dari Senjata ke Perut Rakyat, Sinergi TNI-Polri Jadi Fondasi Indonesia Emas

badge-check


					Haidar Alwi: Dari Senjata ke Perut Rakyat, Sinergi TNI-Polri Jadi Fondasi Indonesia Emas Perbesar

PRABA INSIGHT- Perayaan kemerdekaan biasanya diramaikan dengan lomba tarik tambang, panjat pinang, atau gegap gempita pesta rakyat. Namun, bagi R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, ukuran kekuatan bangsa bukan di situ. Ia bilang, inti dari Indonesia yang kuat ada pada seberapa solid aparatnya menjaga rakyat: dari keamanan sampai urusan perut.

Dalam refleksi HUT ke-80 RI, Haidar menekankan bahwa sinergi Polri dan TNI adalah energi moral bangsa. Bukan sekadar jargon, melainkan syarat mutlak untuk memastikan negeri ini tetap utuh.

“Sejarah Indonesia menunjukkan, ketika aparat negara tidak kompak, rakyatlah yang jadi korban. Karena itu, koordinasi TNI dan Polri harus ditempatkan sebagai prioritas utama,” tegas Haidar.

Polri-TNI: Dari Istana ke Lapangan

Bukti nyatanya? Saat perayaan kemerdekaan di Istana Merdeka. Lebih dari 10 ribu personel gabungan TNI-Polri dikerahkan. Ada pasukan pengibar bendera, atraksi udara, sampai pengamanan yang berjalan mulus tanpa gangguan berarti.

Haidar menilai kerja sama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto adalah contoh konkrit sinergi itu. Bahkan, Haidar terang-terangan menyebut:

“Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo adalah Kapolri terbaik sepanjang masa versi Haidar Alwi Institute.”

Alasannya sederhana: Sigit dianggap mampu meramu gaya humanis dengan ketegasan, sehingga Polri dan TNI bisa bergerak selaras di momen-momen strategis.

Satgas Pangan: Menjaga Stabilitas Lewat Meja Makan

Tapi, Haidar tidak berhenti pada urusan keamanan fisik. Ia menegaskan, stabilitas negara juga sangat ditentukan oleh stabilitas pangan.

Menurutnya, kelangkaan beras atau melonjaknya harga minyak goreng lebih berbahaya ketimbang upacara yang terlambat lima menit. “Satgas Pangan adalah benteng rakyat. Mereka memastikan distribusi lancar, harga terkendali, dan mafia pangan tidak punya ruang,” ujarnya.

Data Kementan mencatat, kebutuhan beras nasional mencapai 33 juta ton per tahun, sementara Bulog hanya menguasai sekitar 7–8 persen pasar. Celah inilah yang sering dimainkan mafia pangan. Maka peran Satgas Pangan Polri menjadi vital—menjaga agar panen petani terserap, distribusi lancar, dan rakyat kecil tetap bisa belanja tanpa harus ngutang ke warung.

“Polri bukan cuma penegak hukum. Polri harus juga jadi pengawal perut rakyat,” tandas Haidar.

Asta Cita: Keamanan Bertemu Kesejahteraan

Haidar lalu mengaitkan sinergi TNI-Polri dan Satgas Pangan dengan Asta Cita, delapan misi besar pemerintahan Prabowo. Mulai dari penguatan Pancasila, swasembada pangan, reformasi hukum, sampai energi terbarukan. Menurutnya, semua itu mustahil terwujud tanpa pondasi keamanan yang menyatu dengan kesejahteraan.

Ia mencontohkan beberapa program konkret Polri:

  • Desk Ketenagakerjaan, sejak Januari 2025 sudah menyalurkan lebih dari 700 pekerja korban PHK ke perusahaan baru.
  • Program Makan Bergizi Gratis (MBG), kini melayani hampir 90.000 penerima per hari lewat 27 pos layanan gizi.

“Langkah ini revolusioner. Keamanan tidak lagi berdiri sendiri, tetapi jadi bagian dari kesejahteraan rakyat,” kata Haidar.

Akhirnya, Haidar menutup refleksinya dengan kalimat lugas:

“Dengan kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kapolri terbaik sepanjang masa versi Haidar Alwi Institute, Indonesia punya energi moral yang kuat untuk menatap masa depan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Habitat Tesso Nilo Menciut Drastis, Gajah Kian Terdesak

4 Desember 2025 - 14:34 WIB

Taman Nasional Tesso Nilo menyusut drastis dari 81 ribu menjadi 12 ribu hektare, membuat habitat gajah kian terdesak dan memasuki fase kritis.

Banjir, Gelondongan Kayu, dan Investigasi Negara: Haidar Alwi Puji Ketegasan Kapolri

3 Desember 2025 - 13:28 WIB

JIHN Bongkar-Bongkaran Korupsi: Dari Janji sampai Budaya yang Mendarah Daging

3 Desember 2025 - 12:35 WIB

Ridwan Kamil Hadiri Pemeriksaan KPK Terkait Dugaan Korupsi Iklan Bank BJB

2 Desember 2025 - 14:42 WIB

Andreas Harsono, Verifikasi HAM, dan Drama Laporan yang Sering Disalahpahami

2 Desember 2025 - 03:43 WIB

Trending di News