Menu

Mode Gelap
Ramadhan Peduli di Depok: Mahasiswa BEM PTAI Bukan Cuma Buka Bersama, Tapi Juga Santuni Anak Yatim Ditegur Saat Apel Pagi, Karyawan di Tojo Una-Una Tewas Diduga Diserang Rekan Kerja Kronologi Tenggelamnya Fregat IRIS Dena: Dari Izin Sandar di India hingga Diduga Ditorpedo di Samudra Hindia Kabar Adik Benjamin Netanyahu Tewas dalam Serangan Rudal Iran Bikin Timur Tengah Makin Panas Update Bantargebang: Longsor Gunungan Sampah Tewaskan 6 Orang, 1 Korban Masih Dicari Pria di Tanjungpinang Diduga Bunuh dan Mutilasi Istri, Baru Bebas 15 Tahun Penjara Kasus Pembunuhan

Prabers

“Jurnalisme Sekarat di Negeri yang Lebih Suka Drama daripada Data”

badge-check


					Foto Ilustrasi: ist Perbesar

Foto Ilustrasi: ist

PRABA INSIGHT – Dulu, jadi wartawan adalah mimpi banyak mahasiswa komunikasi. Bisa wawancara pejabat, nongkrong di kafe sambil ngetik berita, dan kalau beruntung, masuk grup WhatsApp gosip elite.

Tapi sekarang? Profesi wartawan pelan-pelan berubah dari cita-cita jadi cerita. Cerita tentang PHK, gaji telat, dan surat tugas yang tinggal kenangan.

Ribuan Wartawan Tersisih, Bukan Karena Tidak Kompeten, Tapi Karena Dunia Sudah Terlalu Canggih

Menurut Dewan Pers, sepanjang tahun 2023 hingga awal 2024, sudah ada lebih dari 1.200 karyawan perusahaan pers, termasuk wartawan, yang terkena gelombang PHK massal. Itu baru yang tercatat secara resmi.

Belum termasuk para jurnalis freelance, kontributor, dan wartawan lepas yang statusnya lebih tidak jelas dari hubungan situationship.

Jumlah ini bukan angka kecil. Kalau 1.200 orang itu ngumpul bikin media sendiri, bisa jadi media baru paling heboh se-Asia Tenggara. Tapi kenyataannya, mereka malah jadi korban dari gelombang badai digital yang menerjang industri media kita.

Iklan Pergi ke Platform Lain, Media Lokal Cuma Bisa Melongo

Salah satu alasan utama kenapa media banyak yang ambruk adalah karena iklan digital yang kabur ke raksasa platform global. Sekitar 75 persen pangsa iklan nasional diambil alih oleh Google, Meta (Facebook & Instagram), dan kawan-kawannya. Media lokal? Dapat remah-remah kerupuk.

Padahal, iklan adalah sumber oksigen utama buat media. Begitu iklan berhenti datang, media mulai megap-megap. Redaksi dipangkas, wartawan di-PHK, dan kantor berita yang dulu ramai kini jadi tempat meeting para hantu deadline.

Pembaca Berubah, Media Masih Ngebut Pakai Mesin Ketik

Perubahan kebiasaan pembaca juga jadi biang kerok. Anak muda zaman sekarang lebih percaya akun gosip di Instagram dan konten TikTok daripada membaca laporan investigasi yang panjang dan minim meme. Buka berita lima paragraf aja udah dianggap beban. Apalagi kalau tulisannya pakai istilah “narasi hegemonik” atau “represi struktural”.

Media yang nggak mampu menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru pembaca akhirnya harus menerima nasib jadi “korban digitalisasi”. Banyak yang bilang ingin “transformasi digital”, tapi yang dilakukan cuma bikin TikTok dengan backsound lagu galau dan upload ulang berita koran dalam format PDF.

Status Wartawan: Nggak Tetap, Nggak Jelas, Nggak Diperhatikan

Laporan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyebut, banyak jurnalis Indonesia bekerja tanpa kontrak yang jelas. Sebagian besar bahkan digaji di bawah UMR, dan ketika di-PHK, tidak mendapat pesangon yang layak. Bahkan, BPJS Kesehatan pun kadang nggak dibayarin. Yang ada cuma BPJS: Berdoa Pasrah Jalanin Saja.

Jurnalis Diserang, Redaksi Diam, Publik Cuek

Sementara itu, jumlah kasus kekerasan terhadap jurnalis juga masih tinggi. Dalam catatan AJI, sepanjang 2023 saja ada puluhan kasus intimidasi, kekerasan, hingga peretasan akun terhadap wartawan. Tapi anehnya, perhatian publik minim. Karena ya, siapa peduli? Toh berita tetap bisa dibaca, meski penulisnya sudah tidak kerja di sana lagi.

Media Berjuang, Tapi Pemerintah Cuma Nonton

Pemerintah sih bilang mereka peduli. Ada wacana regulasi iklan digital, ada juga omongan soal “kedaulatan informasi”. Tapi di lapangan, yang terjadi justru kebijakan-kebijakan yang kadang makin menyulitkan media. Bukannya ngasih subsidi, yang ada malah bikin syarat ini itu yang bikin kepala redaksi garuk-garuk skrip.

Di Balik Layar Berita yang Kamu Baca, Ada Wartawan yang Baru Dipecat

Sekarang ini, banyak wartawan yang akhirnya banting setir. Ada yang jadi admin medsos, ada yang buka usaha kopi, bahkan ada yang jualan pulsa sambil nulis esai. Ironis? Iya. Tapi mau gimana lagi? Ketika berita tak lagi dihargai, maka wartawan pun kehilangan tempat berpijak.

Jadi kalau kamu baca berita dari media online yang isinya padat, akurat, dan jelas, kasih apresiasi. Minimal jangan bilang, “Ah ini mah berita basi!” Karena siapa tahu, yang nulis berita itu sekarang sudah harus bayar cicilan dari hasil jualan mie ayam.

Dan kalau suatu hari kamu lihat berita makin sedikit, dan lebih banyak muncul konten clickbait yang judulnya “No 3 Bikin Kamu Terkejut!”, maka ingatlah: itu bukan semata salah media.

Tapi karena industri ini sedang dijalankan oleh orang-orang yang terus berjuang di tengah badai, sambil tetap mencoba menulis kalimat pembuka yang menarik.

 

Penulis : Ivan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kasus Hogi Minaya dan Kekeliruan Aparat Membaca Pasal KUHP Baru

30 Januari 2026 - 08:33 WIB

Tentara Bayaran: Ikut Perang Tanpa Seragam, Pulang Tanpa Perlindungan

22 Januari 2026 - 07:21 WIB

Monorel Rasuna Said Tumbang: Jakarta Akhirnya Berani Mengakui Pernah Salah

15 Januari 2026 - 15:14 WIB

Bahaya Menggantungkan Kebenaran pada Manusia

10 Januari 2026 - 13:43 WIB

Dari Palet Warna sampai Janji Suci, Hari Kedua BRI The BFF Festival 2025 Bikin Senayan Riuh

17 Agustus 2025 - 08:36 WIB

Trending di Prabers