Menu

Mode Gelap
Parliamentary Threshold 7 Persen, OSSO Sebut Demokrasi Bisa Dikuasai Partai Besar Saling Lapor di Jatiasih: Babak Baru Kasus Dugaan Pengeroyokan dan Lemparan Pot Resmi Dimutasi, Kombes Firman Kini Jabat Dirlantas Polda Metro Jaya Hari Purwanto Soroti Dugaan Kriminalisasi Dirjen Bea Cukai, Singgung Dampaknya ke Citra Presiden Prabowo Polda Papua Selatan dan Papua Pegunungan Dinilai Mendesak, Sandri Rumanama: Rakyat Butuh Kepastian Keamanan Ketika Pot Bunga Lebih Cepat Bicara daripada Mulut Tetangga di Jatirasa

News

Kapolri Cium Tangan Megawati: Salam Hormat, Sinyal Damai, atau Sekadar Adab Ketimuran?

badge-check


					Politikus PDIP Guntur Romli menilai hal tersebut wajar. Lantaran, Megawati telah dianggap ibu bangsa. (Foto ; Ist) Perbesar

Politikus PDIP Guntur Romli menilai hal tersebut wajar. Lantaran, Megawati telah dianggap ibu bangsa. (Foto ; Ist)

PRABA INSIGHT- Kalau cium tangan bisa mengakhiri ketegangan, mungkin banyak pejabat kita yang perlu ikut-ikutan.

Momen dramatis sekaligus penuh simbol terjadi saat Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mencium tangan Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.

Bukan di Istana, bukan di ruang rapat, tapi di kediaman Mery Hoegeng istri mendiang Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso di Depok, Senin (23/6).

Di sana, dalam acara ulang tahun Mery yang ke-100, Listyo berdiri di depan rumah. Menunggu. Bersalaman. Hormat. Lalu… cium tangan.

Gestur ini langsung ramai jadi bahan perbincangan warganet. Tapi buat politisi PDIP Guntur Romli, semua ini seharusnya tak perlu dibawa ke arah politik picisan. Menurutnya, itu wajar. Namanya juga ketemu “Ibu Bangsa.”

“Wajar, cium tangan kepada orang tua. Ibu Megawati bukan cuma seperti ibu kita sendiri, beliau juga Ibu Bangsa dan Presiden RI ke-5,” kata Guntur seperti dikutip dari Merdeka.com, Selasa (24/6).

Ia pun membandingkan dengan Jokowi, yang menurutnya juga sering melakukan hal yang sama.

“Cium tangan itu sopan santun. Adab ketimuran. Bukan soal loyalitas politik, tapi tata krama,” ujarnya.

Tapi Bukannya Megawati Lagi Sentil-Sentil Kapolri?

Nah, ini yang bikin momen cium tangan itu terasa makin dramatis, bahkan sedikit plot twist. Soalnya, dalam beberapa pidato politiknya, Megawati memang sempat menyindir keras Kapolri Listyo. Salah satunya terjadi pada 14 Agustus 2024 di Kantor DPP PDIP.

Kala itu, Megawati curhat di depan publik bahwa permintaannya untuk bertemu Kapolri malah nggak digubris.

Megawati sampai harus meluruskan bahwa niatnya bukan untuk menekan atau mengintervensi.

“Memangnya saya enggak boleh (ketemu)? Kalau orang lain saja boleh, masa saya enggak boleh? Karena saya juga yang memisahkan (Polri dari ABRI), terus saya takut? Enggak. Saya orang baik-baik,” tegas Mega.

Kalimat “saya orang baik-baik” ini langsung jadi highlight tersendiri, karena jarang-jarang tokoh sekelas Megawati menyuarakan kekecewaan dengan begitu terbuka.

Namun menurut Guntur, kritik itu bukanlah serangan. Justru bentuk kasih sayang.

Kasih sayang khas ibu yang pernah membesarkan anaknya dalam hal ini, institusi Polri dengan darah dan sejarah politik.

“Kritik Ibu Megawati ke polisi dasarnya sayang. Karena beliau yang memisahkan Polri dari ABRI saat jadi Presiden,” ujar Guntur.

Hoegeng, Polisi Idaman, dan Nostalgia Era Bung Karno

Guntur juga mengingatkan bahwa momen di rumah Mery Hoegeng itu bukan cuma soal cium tangan dan politik simbolik.

Tapi juga mengenang Hoegeng, sosok Kapolri yang jadi legenda kejujuran dan ketegasan.

“Pak Hoegeng itu panutan. Dan keluarganya dekat sekali dengan Bung Karno dan Ibu Megawati,” kata Guntur menambahkan.

Kalau ditarik benang merahnya, bisa jadi cium tangan itu bukan sekadar adab sopan.

Tapi semacam rekonsiliasi simbolik. Antara masa lalu yang dihormati, dan masa kini yang butuh dipeluk kembali.

Penulis : Yohanes MW | Editor: Ivan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Parliamentary Threshold 7 Persen, OSSO Sebut Demokrasi Bisa Dikuasai Partai Besar

11 Mei 2026 - 19:46

Saling Lapor di Jatiasih: Babak Baru Kasus Dugaan Pengeroyokan dan Lemparan Pot

11 Mei 2026 - 18:57

Resmi Dimutasi, Kombes Firman Kini Jabat Dirlantas Polda Metro Jaya

11 Mei 2026 - 17:15

Hari Purwanto Soroti Dugaan Kriminalisasi Dirjen Bea Cukai, Singgung Dampaknya ke Citra Presiden Prabowo

10 Mei 2026 - 00:53

Ketika Pot Bunga Lebih Cepat Bicara daripada Mulut Tetangga di Jatirasa

9 Mei 2026 - 19:56

Trending di News