Menu

Mode Gelap
Launching Media Kontra Narasi, Survei HAI Catat Kepercayaan Publik terhadap Polri 78,3 Persen Rizki Juniansyah Naik Pangkat Jadi Kapten dan Pindah dari TNI AL ke AD Sidang Brigadir Nurhadi, Jaksa Ungkap Petunjuk Motif dari Kesaksian MALAM JUMAT KLIWON: YANG BANGKIT DARI KUBUR TIDAK SELALU MAYIT Kisah Horor Rumah Tanpa Bayangan Jejak Angka di Laporan Pelindo: Gaji dan Bonus Arman Depari Rp3,2 Miliar

News

Nama Karsono Disebut, Sandri Rumanama Minta Polri Tuntaskan Kasus Kabel Bawah Laut Telkom

badge-check


					Kasus dugaan pencurian kabel Telkom bawah laut di Belitung kembali mencuat. Sandri Rumanama meminta Polri turun tangan menuntaskan perkara yang disebut merugikan aset negara dan mengganggu keamanan jaringan komunikasi nasional.(Istimewa) Perbesar

Kasus dugaan pencurian kabel Telkom bawah laut di Belitung kembali mencuat. Sandri Rumanama meminta Polri turun tangan menuntaskan perkara yang disebut merugikan aset negara dan mengganggu keamanan jaringan komunikasi nasional.(Istimewa)

PRABA INSIGHT – JAKARTA – Di negeri maritim yang katanya kaya laut, ikan, dan kenangan masa kecil di pantai ternyata kabel bawah laut pun bisa ikut “disulap” jadi barang curian. Kasus dugaan pencurian kabel Telkom di perairan Belitung ini bukan cuma bikin sinyal berpotensi seret, tapi juga bikin alis para aktivis ikut terangkat.

Salah satunya datang dari Sandri Rumanama, aktivis nasional sekaligus Direktur Haidar Alwi Institute (HAI), yang dengan tegas mendorong Polri agar turun tangan dan menyelesaikan kasus ini sampai ke akarnya.

Sebab, menurut kabar yang beredar, pelaku utama pencurian kabel bawah laut tersebut diduga bernama Karsono. Kasus ini makin terasa seperti plot film kriminal karena sosok Karsono disebut-sebut pernah ditangkap TNI AL saat patroli laut, namun kemudian dilepas kembali. Misterius sekali, bukan?

Sandri: Negara Hukum Jangan Cuma Jadi Slogan

Dalam keterangannya kepada media pada Kamis (25/12/2025), Sandri bicara lugas tanpa jeda koma berlebih, tanpa drama sinetron sore. Ia menekankan bahwa kasus ini tak boleh dianggap sepele.

“Prinsipnya kita ini kan negara hukum. Maka kita harus konsisten. Dalam hal ini mendorong aparat penegak hukum untuk menindak pelaku pencurian, siapa pun dia, kalau melanggar hukum harus ditindak sesuai hukum, gitu loh,” kata Sandri.

Sandri menegaskan bahwa pencurian kabel Telkom bawah laut bukan sekadar pelanggaran biasa, melainkan tindak kriminal yang harus diproses secara pidana. Bukan pencurian sandal di teras masjid yang bisa selesai dengan damai.

Karena itu, menurutnya, Polri wajib hadir dan bertindak tegas. Ia menambahkan:

“Kita harus dorong Polri untuk mengusut tuntas kasus ini. Apalagi yang dicolong adalah kabel Telkom. Aset negara nih yang dicuri. Maka tak ada pilih lain, Polri harus kita dukung agar menangani kasus ini,” jelas Sandri.

Kalimat “aset negara nih yang dicuri” terasa seperti sindiran halus bahwa mencuri kabel bukan cuma merugikan perusahaan, tapi juga publik yang tiap bulan bayar paket internet sambil berharap sinyal tetap stabil.

Soal Laut, Ini Bukan Sekadar Pemandangan Senja

Sebagai aktivis berdarah Maluku sekaligus anak pesisir, Sandri mengingatkan bahwa laut Indonesia bukan hanya tempat nelayan mencari ikan, tetapi juga ruang yang harus dijaga bersama.

Ia menggarisbawahi bahwa keamanan laut berkaitan langsung dengan kedaulatan negara.

“Ini juga persoalan kedaulatan negara, sehingga sudah tentu pengamanan kelautan harus terkoordinasi dengan baik. Di sana ada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), ada TNI AL, Polri, termasuk dengan melibatkan para nelayan dan warga pesisir,” tegas Sandri.

Kalau bahasa sederhananya: laut kita jangan cuma dijaga saat musim liburan atau saat selfie di dermaga, tapi juga ketika ada aktivitas mencurigakan yang merongrong infrastruktur negara.

Kabel Dipotong, Publik Ikut Cemas

Kasus ini mencuat kembali setelah nama Karsono disebut sebagai sosok yang diduga menjadi aktor utama. Kabel bawah laut yang merupakan bagian dari jaringan komunikasi nasional itu disebut dipotong secara ilegal.

Akibatnya, bukan hanya negara yang dirugikan, tapi juga muncul kekhawatiran publik sebab infrastruktur digital kini sudah jadi tulang punggung aktivitas masyarakat, mulai dari kerja remote sampai jualan online.

Semua bermula dari patroli TNI AL yang menemukan aktivitas mencurigakan di perairan strategis. Sebuah perahu kecil diduga membawa peralatan selam dan potongan kabel besar. Malam hari pula sebuah jam operasi yang bikin suasana makin dramatis.

Di sisi lain, warga pesisir Belitung juga mengaku resah karena maraknya aktivitas ilegal di wilayah lautnya. Mulai dari penambangan timah tanpa izin, penyelundupan, sampai pengangkatan barang bawah laut secara sembunyi-sembunyi.

Seolah-olah laut bukan lagi halaman depan negara, tapi jadi seperti gudang bebas ambil barang asal punya keberanian dan alat potong.

Pada titik ini, desakan Sandri agar Polri turun tangan bukan hanya soal kabel yang hilang, tetapi juga tentang pesan besar: kedaulatan laut tidak boleh dibiarkan keropos pelan-pelan.

Dan tentu saja, publik menunggu apakah kasus ini benar-benar akan diusut tuntas… atau kembali tenggelam bersama gelombang? (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Launching Media Kontra Narasi, Survei HAI Catat Kepercayaan Publik terhadap Polri 78,3 Persen

16 Januari 2026 - 11:14 WIB

Rizki Juniansyah Naik Pangkat Jadi Kapten dan Pindah dari TNI AL ke AD

16 Januari 2026 - 10:50 WIB

Jejak Angka di Laporan Pelindo: Gaji dan Bonus Arman Depari Rp3,2 Miliar

15 Januari 2026 - 15:25 WIB

KUHAP Baru Berlaku, KPK Tak Lagi Tampilkan Tersangka dalam Konferensi Pers

13 Januari 2026 - 07:12 WIB

Tersangka Korupsi Kuota Haji, Harta Yaqut Cholil Qoumas Melonjak Jadi Rp13,7 Miliar

13 Januari 2026 - 07:04 WIB

Trending di News