Menu

Mode Gelap
Ramadhan Peduli di Depok: Mahasiswa BEM PTAI Bukan Cuma Buka Bersama, Tapi Juga Santuni Anak Yatim Ditegur Saat Apel Pagi, Karyawan di Tojo Una-Una Tewas Diduga Diserang Rekan Kerja Kronologi Tenggelamnya Fregat IRIS Dena: Dari Izin Sandar di India hingga Diduga Ditorpedo di Samudra Hindia Kabar Adik Benjamin Netanyahu Tewas dalam Serangan Rudal Iran Bikin Timur Tengah Makin Panas Update Bantargebang: Longsor Gunungan Sampah Tewaskan 6 Orang, 1 Korban Masih Dicari Pria di Tanjungpinang Diduga Bunuh dan Mutilasi Istri, Baru Bebas 15 Tahun Penjara Kasus Pembunuhan

News

“Nggak Suka? Pindah Platform Saja.” Ketika Menteri Bicara Seperti Admin Grup WhatsApp

badge-check


					Menteri UMKM Maman Abdurahman (foto:Ist) Perbesar

Menteri UMKM Maman Abdurahman (foto:Ist)

PRABA INSIGHT- Kabar gembira untuk para pengemudi ojol: kalau kamu merasa aplikator terlalu serakah memotong penghasilanmu, kamu nggak perlu demo, nggak perlu ngadu ke DPR, apalagi protes ke kementerian. Cukup uninstall, dan pindah ke platform lain.

Setidaknya itulah “solusi” dari Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, yang disampaikan dengan wajah penuh percaya diri di konferensi pers, Rabu (21/5/2025).

“Daripada teman-teman ojol sibuk berpolemik, sibuk dengan segala macam perdebatan, saya rasa kita sederhanakan saja. Kalau tidak suka, ya pindah platform saja,” ujarnya.

Sederhana memang. Sesederhana orang kaya yang bilang, “Kalau hidup di Jakarta mahal, ya pindah ke Mars aja.”

Masalahnya, yang dihadapi para driver bukan perkara drama receh ala sinetron. Ini soal hidup.

Soal anak yang butuh susu, cicilan motor yang jalan terus, dan dompet yang isinya tinggal recehan dari pesanan antar es kopi yang belum dibayar tunai.

Ucapan Maman ini langsung memantik kritik dari Sekretaris Jenderal Paguyuban Transportasi Indonesia, Irfan Ardhiyanto.

Menurut Irfan, pernyataan itu bukan hanya tidak solutif, tapi terdengar seperti negara yang bilang, “Itu masalahmu, bukan urusan kami.”

“Pernyataan itu bentuk pengabaian,” kata Irfan. “Menteri seharusnya jadi penengah, bukan malah menyuruh rakyat cari jalan sendiri.”

Kalau begitu, pertanyaannya: fungsi negara ini sebenarnya apa? Melindungi warga atau cuma jadi penonton yang kasih komentar di Medsos?

Irfan menegaskan, selama ini pengemudi ojol hidup dalam bayang-bayang sistem kemitraan semu. Statusnya mitra, tapi tak ada perlindungan. Potongan sepihak, aturan sepihak, bahkan sanksi sepihak.

Padahal, menurut UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang kemitraan, hubungan mitra itu harus adil dan saling menguntungkan. Tapi yang terjadi di lapangan, aplikator makin kaya, driver makin sengsara.

Sayangnya, alih-alih hadir membawa solusi, pernyataan sang menteri justru terdengar seperti admin grup WhatsApp yang kesal dan bilang, “Kalau nggak suka aturan grup ini, silakan left!”

Sungguh, dunia ojol butuh perlindungan, bukan cuma omongan ringan yang bisa viral di TikTok.

Karena saat negara hanya jadi penonton, pengemudi ojol cuma bisa jalan terus, meski arah perjuangannya makin kabur.

 

Penulis : Deny Darmono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Johan

    Beginikah yg disampaikan oleh presiden Prabowo “pemerintahan yg pro rakyat kecil??” ternyata menterinya asbun, tidak punya konsep kerja untuk membela rakyat kecil

    Balas
semua sudah ditampilkan
Baca Lainnya

Ramadhan Peduli di Depok: Mahasiswa BEM PTAI Bukan Cuma Buka Bersama, Tapi Juga Santuni Anak Yatim

10 Maret 2026 - 15:48 WIB

Update Bantargebang: Longsor Gunungan Sampah Tewaskan 6 Orang, 1 Korban Masih Dicari

9 Maret 2026 - 15:03 WIB

Warga Bekasi Utara Geger Temukan Bayi Perempuan Hidup di Dalam Tong Sampah

9 Maret 2026 - 14:28 WIB

Ribut Usai Laga Malut United vs PSM, Wartawan Diintimidasi hingga Wasit Tertahan di Stadion

9 Maret 2026 - 14:21 WIB

Eks Ketua SP JICT Ermanto Usman Ditemukan Tewas di Bekasi, Kasus Kontrak Rp4,08 Triliun Kembali Disorot

8 Maret 2026 - 14:45 WIB

Trending di Crime