Menu

Mode Gelap
Swarm Lepas “Amayadori”, Lagu Tentang Berdamai dengan Hidup Setelah Dihantam Badai Kesalahan Polemik Konten LGBTIQ SUMA UI Memanas, Universitas Indonesia Tegaskan Itu Bukan Sikap Resmi Kampus Kenalan dari Dating App Berujung Apes, HP dan iPad Milik Wanita 19 Tahun Digondol Pria 37 Tahun Rumah Indofood di Jakarta Fair 2026 Bukan Sekadar Tempat Belanja, Ada Duel Masak Aldi Taher hingga Mabar E-sports Ketum DPP GMNI Muhamad Risyad: Mahasiswa Harus Kritis, Jangan Terjebak Provokasi Komisaris PT YAT Jadi Tersangka, Kejagung Ungkap Dugaan Markup Motor Listrik MBG Rp1 Triliun

News

Pasca Ledakan SPBE Cimuning, Pemkot Bekasi Dorong Relokasi karena Padat Penduduk

badge-check


					Terbakarnya pemukiman beberapa waktu lalu di lingkungan sekitar SPBE Cimuning. Perbesar

Terbakarnya pemukiman beberapa waktu lalu di lingkungan sekitar SPBE Cimuning.

PRABAINSIGHT.COM – BEKASI – Pemerintah Kota Bekasi, mengambil langkah tegas pascaledakan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE), di kawasan Cimuning dengan mendorong relokasi fasilitas tersebut ke area yang lebih aman.

Wakil Wali Kota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe menyatakan, keberadaan SPBE di Cimuning saat ini sudah tidak ideal, karena berada di tengah permukiman padat penduduk. Hal ini dinilai meningkatkan risiko keselamatan warga, jika terjadi insiden serupa di masa mendatang.

Wakil Wali Kota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe.

“Kalau melihat kondisi sekarang, sepertinya tidak mungkin lagi diizinkan beroperasi di situ. Harus direlokasi karena lingkungannya sudah sangat padat,” ujar Harris usai memimpin apel pagi, Senin (6/4/2026).

Rencana pemindahan lokasi ini akan segera dibahas bersama pemilik SPBE sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh, terhadap operasional seluruh SPBE yang tersebar di wilayah Kota Bekasi.

Harris menegaskan, pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan PT Pertamina (Persero), guna memastikan kepatuhan terhadap standar keamanan. Ia tidak segan untuk menertibkan unit usaha yang melanggar prosedur operasional.

“Kalau ada pelanggaran, harus ditertibkan. Aspek keamanan juga harus dimaksimalkan,” katanya.

Selain masalah lokasi, Pemkot Bekasi juga menyoroti pentingnya penerapan standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang lebih ketat, terutama kesiapan alat pemadam api internal perusahaan.

“Perusahaan harus punya kesiapan awal. Jangan bergantung sepenuhnya pada Damkar. Alat pemadam harus tersedia dan berfungsi,” tegas Harris.

Terkait penanganan dampak ledakan, Harris melaporkan adanya penambahan jumlah korban berdasarkan pendataan terbaru. Beberapa warga baru melapor, setelah merasakan dampak kesehatan beberapa hari pascakejadian.

Saat ini, total korban terdampak tercatat mencapai hampir 22 orang, dengan satu orang di antaranya dilaporkan meninggal dunia.

“Ada tambahan korban yang baru terdata setelah hari kejadian. Totalnya sekarang hampir 22 orang,” tuturnya.

Meski demikian, ia memastikan seluruh korban telah mendapatkan perawatan medis maksimal di rumah sakit dengan dukungan dari BPJS Kesehatan.

Ke depan, Pemkot Bekasi meminta adanya pemeriksaan rutin, terhadap peralatan operasional guna mencegah potensi kebocoran gas yang menjadi pemicu utama ledakan.

“Harus ada pemeriksaan berkala. Kebocoran seperti kemarin tidak boleh terulang lagi,” pungkas Harris.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Polemik Konten LGBTIQ SUMA UI Memanas, Universitas Indonesia Tegaskan Itu Bukan Sikap Resmi Kampus

14 Juni 2026 - 19:24

Kenalan dari Dating App Berujung Apes, HP dan iPad Milik Wanita 19 Tahun Digondol Pria 37 Tahun

14 Juni 2026 - 19:08

Rumah Indofood di Jakarta Fair 2026 Bukan Sekadar Tempat Belanja, Ada Duel Masak Aldi Taher hingga Mabar E-sports

13 Juni 2026 - 21:36

Ketum DPP GMNI Muhamad Risyad: Mahasiswa Harus Kritis, Jangan Terjebak Provokasi

13 Juni 2026 - 20:50

Komisaris PT YAT Jadi Tersangka, Kejagung Ungkap Dugaan Markup Motor Listrik MBG Rp1 Triliun

13 Juni 2026 - 20:08

Trending di Nasional