Menu

Mode Gelap
Menggugat Sistem Global, Haidar Alwi Dorong Emas Rakyat Jadi Pilar Kedaulatan Ekonomi RI Sekawan Limo 2 Tayang Mei 2026: Dari Reuni Santai Berujung Teror Pesugihan PHI Group Borong 2 Penghargaan di Grand Honors 2026, Ekspansi 27 Hotel dan Bidik Pasar ASEAN Dana Rp263 Triliun untuk Gaza Diduga Dialihkan ke Israel, Nama Donald Trump Disorot Viral! Orang Tua Protes Menu MBG, Admin SPPG Justru Balas Nyinyir Dari Rp200 Ribu ke Rp311 Juta: Drama Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang Bikin Dompet Mau Pensiun Dini

News

Sandri Rumanama: Indonesia Timur Harus Menjadi Pilar Strategis Pembangunan Nasional

badge-check


					Sandri Rumanama dorong Indonesia Timur jadi pilar pertumbuhan nasional, dengan pembangunan berkeadilan dan potensi sumber daya lokal.(istimewa) Perbesar

Sandri Rumanama dorong Indonesia Timur jadi pilar pertumbuhan nasional, dengan pembangunan berkeadilan dan potensi sumber daya lokal.(istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kalau kita bicara pembangunan nasional, rasanya Indonesia Timur selalu jadi “tamu undangan” yang duduk di pojokan. Tapi bagi Sandri Rumanama, Koordinator Nasional Presidium Pemuda Timur, keadaan itu nggak bisa dibiarkan terus-terusan. Menurutnya, percepatan pembangunan di wilayah timur negara ini harus jadi prioritas, bukan cuma pelengkap laporan statistik pemerintah.

Sandri, yang juga Direktur Haidar Alwi Institute dan Founder Kontra Narasi, menekankan bahwa Indonesia Timur sebenarnya punya “aset rahasia” yang luar biasa: posisi geopolitik strategis, sumber daya alam melimpah, dan budaya lokal yang kaya. Tapi, semua potensi itu belum banyak berkontribusi buat kesejahteraan masyarakat setempat.

“Selama ini Indonesia Timur masih dihadapkan pada keterbatasan infrastruktur dasar, konektivitas wilayah, kualitas layanan pendidikan dan kesehatan, serta rendahnya nilai tambah ekonomi sumber daya alam. Kondisi ini membutuhkan pendekatan kebijakan yang lebih afirmatif dan terintegrasi,” kata Sandri di Jakarta, Jumat (20/2/2026).

Kalau kata Sandri, pembangunan itu nggak bisa cuma “ngebut di angka statistik nasional” tapi lupa menyentuh rakyat. Harus ada keadilan, harus bisa mendorong kemandirian ekonomi masyarakat lokal, dan tentu saja nggak boleh cuma jadi proyek seremonial yang habis liputan media langsung lupa.

Sinergi antar-pemerintah pusat dan daerah jadi kuncinya. Mulai dari memperbaiki konektivitas, membina SDM lokal, sampai hilirisasi sumber daya alam dengan sentuhan kearifan lokal semua itu harus dijalankan bersamaan. Kalau nggak, kata Sandri, Indonesia Timur bisa tetap jadi “mesin pertumbuhan yang diam di tempat”.

“Indonesia Timur harus diposisikan sebagai pilar strategis pembangunan nasional. Jika dikelola dengan serius dan berkeadilan, kawasan ini bisa jadi episentrum baru pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tegasnya.

Sandri optimistis. Dengan komitmen politik yang kuat dan kebijakan yang terarah, percepatan pembangunan di Indonesia Timur nggak cuma bakal memperkecil kesenjangan, tapi juga memperkuat persatuan dan keadilan sosial. Jadi kalau selama ini kita cuma melihat Timur sebagai wilayah yang “terlupakan”, mungkin saatnya mulai merhatiin mereka sebagai mesin pertumbuhan baru bagi seluruh Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Rp200 Ribu ke Rp311 Juta: Drama Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang Bikin Dompet Mau Pensiun Dini

20 April 2026 - 14:56

Mahasiswa UNPAM Desak Pengusutan Tuntas Kasus Penyerangan Andrie Yunus hingga Aktor Intelektual

18 April 2026 - 15:07

Seleknas KKI 2026 Digelar, OSO: Menang Kalah Biasa, Kejujuran yang Utama

18 April 2026 - 14:02

Masuknya MBG ke Pos Pendidikan Dipertanyakan MK: Kebijakan atau Akal-akalan Anggaran?

18 April 2026 - 08:48

SEMMI di Usia 70: Tegaskan Peran Kaderisasi dan Kontrol Sosial di Tengah Gejolak Global

18 April 2026 - 03:23

Trending di News