Menu

Mode Gelap
Rakernas HAI dan Bintang Mahaputera: Isyarat Kepercayaan Presiden pada Kapolri Pulogebang Memanas! Warga Terancam Tergusur, Mafia Tanah Diduga Bermain Sandri Rumanama Menilai Peran Polri dalam Program Gizi Layak Diganjar Bintang Mahaputra Bersih-bersih Seragam: 34 Personel Polri Di-PTDH, Nama Konten Kreator Ikut Terseret Belajar Ngaji atau Jadi Korban? Dugaan Pelecehan di Ponpes Muna Barat yang Bikin Orang Tua Merinding Menikmati Wagyu hingga Daechang di Gahyo Cikarang, Restoran Korea Favorit Pebisnis

Prabers

Sejarah Orang Makassar dan Makna Mendalam Siri’ na Pacce

badge-check


					Gambar saat perahu dari Makassar di perairan Raffles Bay, dekat Coburg peninsula oleh L. Breton di tahun 1839, (Foto: Campbell Macknight) Perbesar

Gambar saat perahu dari Makassar di perairan Raffles Bay, dekat Coburg peninsula oleh L. Breton di tahun 1839, (Foto: Campbell Macknight)

PRABA INSIGHT – Di tengah kerumunan manusia Nusantara yang suka senyum-senyum sopan, ada satu kelompok yang dari dulu sudah anti basa-basi.

Dibilang keras kepala? Mereka malah bangga. Dibilang pemarah? Mereka tertawa, “Kalau kamu diganggu harga dirinya, masa cuma balas story WA?”

Selamat datang di dunia orang Makassar: suku yang dibentuk dari laut asin, peluh perang, dan filosofi hidup yang bisa bikin psikolog modern geleng-geleng kepala—siri’ na pacce.


Makassar: Kota dari Mimpi, Bukan dari Data BPS

Kisah orang Makassar tidak dimulai dari sensus penduduk, tapi dari mimpi. Raja Tallo, entah habis ngopi atau ngelamun habis perang, bermimpi bertemu lelaki berjubah putih yang menulis kalimat syahadat di telapak tangannya.

Begitu bangun, sang raja bilang: “Sudah, kita ganti nama jadi Makassar saja!”

Dari kata “Makkasaraki Nabbiya”, artinya “telah datang Nabinya”. Ini bukan penamaan berdasarkan koordinat GPS atau hasil diskusi RT-RW, tapi wahyu dalam mimpi. Mistis? Jelas.

Tapi ini Nusantara, bukan Skandinavia. Kita hidup dari dongeng dan mimpi leluhur.
(Sumber: Attoriolong.com)


Jangan Lupa, Orang Makassar Itu Bangsa Laut, Bukan Tukang Cukur Pinggir Laut

Laut bagi orang Makassar bukan tempat healing. Itu arena perang dan dagang.

Mereka bukan cuma bisa berenang, tapi bisa menjajah pulau sebelah, barter teripang ke Australia, bahkan lawan badai pakai kapal layar bernama Pinisi yang sekarang dipajang UNESCO sebagai simbol keperkasaan maritim.

Dan ya, mereka sudah bisa navigasi laut waktu orang Eropa masih bingung bikin kompas dari besi bekas.
(Sumber: Wikipedia Makassar People)


Gowa-Tallo: Koalisi Dua Kerajaan yang Bisa Bikin VOC Mules

Sebelum Belanda menyuruh anak cucu kita sekolah pakai celana, mereka pernah nyaris muntah darah lawan Gowa.

Kerajaan Gowa bersekutu dengan Tallo adalah aliansi politik paling “susah diajak kompromi” di Indonesia bagian timur. Sultan Hasanuddin, raja Gowa, dikenal sebagai Ayam Jantan dari Timur.

Bukan karena suara kokoknya, tapi karena tajinya yang bikin Belanda luka dalam.

Butuh politik adu domba dan tentara Bone buat bikin Gowa tunduk.

Tapi tunduk bukan berarti lemah. Hanya diam sejenak sambil menajamkan parang.
(Sumber: Kompas.com)


Siri’ Na Pacce: Filosofi Hidup yang Tidak Cocok untuk Orang Lemah Mental

Di saat dunia modern ribut soal mental health dan self-healing, orang Makassar sudah ratusan tahun punya sistem sendiri: siri’ na pacce. Siri’ itu harga diri. Kalau ada yang nginjak, jangan panggil guru BK, tapi angkat parang.

Pacce adalah empati yang dalam. Tapi bukan empati ala seminar motivasi. Ini empati yang bisa bikin satu kampung marah kalau ada satu yang dizalimi.

Filosofi ini bikin orang Makassar seperti kawat berduri tajam, melindungi, tapi jangan sentuh sembarangan.
(Sumber: Wikipedia)


Sebelum Mualaf, Mereka Sudah Monoteis: Bertuhan pada Dewata SeuwaE

Jauh sebelum para ulama datang, orang Makassar sudah bertuhan. Bukan politeisme, tapi satu dewa tunggal bernama Dewata SeuwaE.

Mereka sudah paham konsep ketuhanan tunggal. Jadi, ketika Datu Ri Bandang datang membawa Islam tahun 1605, mereka tidak bilang “ini agama asing”.

Mereka cuma bilang, “Oh, Tuhan kita ternyata bernama Allah.”

Masuk akal. Maka diterima. Agama datang bukan pakai paksaan, tapi pakai logika dan nuansa kosmologis yang masuk akal untuk masyarakat yang memang punya akal.
(Sumber: Kuwaluhan.com)


Makassar Hari Ini: Siri’ Masih Ada, Di Dada.

Orang Makassar zaman sekarang bisa kamu temui di mana saja. Dari dapur restoran sampai kantor DPR.

Tapi satu hal tetap sama: jangan main-main dengan harga diri mereka. Bedanya, sekarang kalau tersinggung mungkin tidak langsung ambil badik, tapi debat dulu di Twitter, eh, X.

Kota Makassar pun tak lagi cuma pelabuhan dan benteng. Ia adalah metropolitannya Indonesia timur, rumah bagi perpaduan budaya, agama, dan logat khas yang kalau kamu dengar, bisa bikin jatuh cinta atau ketar-ketir tergantung nada.


Epilog: Kalau Kamu Mau Kenal Orang Kuat, Kenalanlah dengan Orang Makassar

Di negara ini, banyak suku. Tapi hanya sedikit yang bisa tetap menjaga jati diri di tengah modernitas dan globalisasi. Orang Makassar adalah satu di antaranya.

Mereka bukan cuma suku. Mereka filosofi hidup.

Mereka bukan cuma manusia, tapi kapal pinisi yang tak pernah tunduk pada angin, hanya menyesuaikan layar.

Dan buat kamu yang suka asal nyinyir di medsos, ingat satu hal: orang Makassar bukan tipe yang membalas dengan kata-kata, tapi dengan aksi.


Referensi:


Penulis : Ivan 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kasus Hogi Minaya dan Kekeliruan Aparat Membaca Pasal KUHP Baru

30 Januari 2026 - 08:33 WIB

Tentara Bayaran: Ikut Perang Tanpa Seragam, Pulang Tanpa Perlindungan

22 Januari 2026 - 07:21 WIB

Monorel Rasuna Said Tumbang: Jakarta Akhirnya Berani Mengakui Pernah Salah

15 Januari 2026 - 15:14 WIB

Bahaya Menggantungkan Kebenaran pada Manusia

10 Januari 2026 - 13:43 WIB

Dari Palet Warna sampai Janji Suci, Hari Kedua BRI The BFF Festival 2025 Bikin Senayan Riuh

17 Agustus 2025 - 08:36 WIB

Trending di Prabers