PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Di negeri yang katanya serba cepat ini, ada satu hal yang sering berjalan santai: penangkapan pelaku kekerasan. Tapi giliran urusan “moral”, aparat bisa tiba-tiba berubah jadi The Flash.
Hal itu yang disindir langsung oleh kreator konten dewasa, Fransiska Candra Novitasari alias Siskaeee. Lewat akun X pribadinya, ia menyenggol kinerja polisi yang sampai sekarang belum juga berhasil menangkap pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus.
Nada sindirannya nggak pakai rem.
Siskaeee mengunggah ulang rekaman CCTV yang memperlihatkan detik-detik penyerangan terhadap Andrie. Dari situ, ia merasa heran atau mungkin lebih tepatnya gemas karena wajah pelaku terlihat cukup jelas, tapi sampai sekarang belum juga ada yang diamankan.
“Ini jelas banget. Masa gini aja lebih dari 1×24 jam enggak ketangkep,” tulisnya.
Lalu, seperti menambahkan cabe rawit ke luka, ia menyambung dengan kalimat yang langsung bikin linimasa panas:
“Giliran bokepku pakai masker, kacamata, topi, dll bisa tuh nangkep.”
Ketika pengalaman pribadi jadi bahan sindiran
Komentar itu bukan sekadar nyinyir kosong. Ada konteks personal yang cukup kuat.
Siskaeee pernah berurusan dengan hukum terkait kasus produksi film dewasa di Jakarta Selatan pada 2023. Saat itu, ia bahkan ditangkap di Yogyakarta setelah dianggap tidak kooperatif. Padahal, dalam konten yang dipermasalahkan, ia kerap tampil dengan berbagai penyamaran.
Di titik ini, sindirannya terasa makin tajam: kalau orang yang “menyamar” saja bisa cepat dilacak, kenapa pelaku kekerasan dengan wajah relatif terbuka justru masih berkeliaran?
Kasus Andrie: luka serius, pelaku masih misterius
Kasus yang disorot ini bukan perkara sepele. Andrie Yunus, yang menjabat sebagai Wakil Koordinator KontraS, diserang oleh dua orang tak dikenal di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, pada malam 12 Maret 2026.
Sepulang dari diskusi di kantor YLBHI, Andrie disiram air keras. Akibatnya, ia mengalami luka bakar serius hingga 24 persen di bagian wajah, dada, dan tangan. Bahkan, ada risiko gangguan penglihatan permanen.
Sementara itu, polisi mengaku sudah mengantongi rekaman CCTV dan memeriksa sejumlah saksi. Pendekatannya juga terdengar canggih: scientific crime investigation. Tapi, seperti sering terjadi, istilahnya maju—hasilnya masih ditunggu.
Netizen: antara setuju dan geleng-geleng
Sindiran Siskaeee langsung memancing reaksi luas. Banyak warganet yang merasa ada ironi dalam cara penegakan hukum berjalan.
Di satu sisi, kasus-kasus yang berkaitan dengan moralitas atau pornografi bisa ditangani dengan cepat dan tegas. Di sisi lain, kekerasan terhadap aktivis HAM justru terasa lebih lambat penanganannya.
Akhirnya, publik kembali dihadapkan pada pertanyaan klasik yang nggak pernah benar-benar selesai:
apakah hukum di negeri ini bekerja sama cepatnya untuk semua orang atau hanya untuk kasus-kasus tertentu saja?
Dan seperti biasa, jawabannya belum tentu enak didengar.







